Strategi “Kandang Gajah” dan Tren Migrasi Politisi Senior ke PSI

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Partai Solidaritas Indonesia atau PSI sudah memanaskan mesin politiknya dari sekarang, jauh hari sebelum Pemilu 2029. Sederet konsolidasi digelar sambil melancarkan strategi “Kandang Gajah” pada berbagai daerah. Getolnya konsolidasi itu diiringi berlanjutnya tren perpindahan tokoh senior partai lain ke partai berlambang gajah tersebut. 

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep sudah beberapa kali mengungkapkan keinginannya menjadikan suatu daerah sebagai “Kandang Gajah”. Ambisi itu ia kemukakan kepada para kadernya dalam rentetan rapat koordinasi wilayah di sejumlah daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Bali.

“Ini pesannya sederhana, membesarkan PSI. Menjadikan wilayah-wilayah itu tadi sebagai basis kekuatan PSI,” kata Wakil Ketua Umum PSI Andy Budiman, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (29/1/2026). 

Istilah “gajah” tidak merujuk pada binatang, melainkan logo partai yang dipimpin putra bungsu Presiden ke-7 Joko Widodo itu. Analogi “kandang” untuk menggambarkan tempat bersarangnya para pendukung. Terlebih lagi, wilayah yang diincar menjadi kandang itu merupakan daerah basis pendukung dari partai-partai lain.

Baca JugaPSI Berambisi Goyang ”Kandang Banteng”, Ini Jawaban PDI-P...

Daerah-daerah incaran PSI itu, selain sebagai basis partai lain, menurut Andy, juga menjadi basis kuat pendukung Jokowi. Kondisi itu menumbuhkan optimisme segenap kadernya untuk mewujudkan target yang ditentukan Kaesang. Lantas, konsolidasi intensif juga terus diadakan demi memperkuat dukungan walaupun pemilu masih tiga tahun lagi.

“Di situlah kita kemudian akan membangun satu kekuatan, satu kandang gajah untuk siap bertarung di 2029,” sebut Andy.

Misi memperkuat basis pendukung daerah semakin terlihat nyata dalam rapat kerja nasional (rakernas) PSI yang diadakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Di rakernas tersebut, Kamis, Kaesang mengakhiri pidatonya sekaligus memperkenalkan hasil rekrutmen anyar partainya, yakni Rusdi Masse Mappasessu, politisi Nasdem.

Daerah-daerah incaran PSI itu, selain sebagai basis partai lain, menurut Andy, juga menjadi basis kuat pendukung Jokowi.

Baca JugaDi Rakernas PSI, Nama Rusdi Masse Ramai Disebut

Putra Rusdi, yakni Muammar Gandi Rusdi, juga diangkut masuk. Gandi pun langsung didapuk sebagai Ketua DPW PSI Sulsel.

Sebelum bergabung PSI, jabatan terakhir Rusdi adalah Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Sulsel. Bersama NasDem, Rusdi dua kali lolos menjadi anggota DPR, yakni periode 2019-2024 dan 2024-2029. Bahkan, ia dipercaya menggantikan Ahmad Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR oleh Nasdem pada 2025. Namun, semua jabatan itu mesti dilepaskannya seiring keputusannya mundur dari NasDem.

Di bawah kepemimpinan Rusdi, DPW NasDem Sulsel berhasil menaikkan perolehan kursi dari 12 kursi menjadi 17 kursi di DPRD Sulsel pada Pemilu 2024. Jumlah itu merupakan yang terbanyak dibandingkan partai-partai lainnya. Alhasil, Nasdem memperoleh kursi Ketua DPRD Sulsel. Selain itu, sebanyak 4 kursi diperoleh di DPR RI dan 148 kursi yang tersebar ke berbagai DPRD kabupaten atau kota di wilayah tersebut. 

Ditilik lebih jauh, jejak politik Rusdi sudah jauh lebih panjang. Ia pernah menjabat anggota DPRD Sidenreng Rappang pada 2004, dan Bupati Sidenreng Rappang selama 2008-2018. Ketika itu, Rusdi masih tergabung dalam Partai Bintang Reformasi dan selanjutnya berpindah ke Golkar, dan pindah lagi ke NasDem.

Untuk migrasi ke PSI, Rusdi bukan satu-satunya politisi dari partai lain yang pindah ke partai berlambang gajah itu. Ada Ahmad Ali dan Bestari Barus sudah lebih dahulu melakukannya pada 2025. Kini, keduanya sama-sama menjabat di struktur DPP PSI, yakni Ahmad Ali sebagai Ketua Harian, sedangkan Barus sebagai Ketua Bidang Politik.

“Ini menunjukkan PSI dilihat sebagai partai yang semakin serius. Jadi sekali lagi, ini akan menambah kekuatan PSI. Kami menggabungkan kekuatan antara politisi senior dan muda. Ini akan saling melengkapi dan membuat PSI berbeda pada 2029 nanti,” kata Andy. 

Baca JugaPSI ”Legowo” Gagal Lolos ke Senayan, Kini Fokus Pilkada
Hargai pilihan politik

Wakil Ketua Umum NasDem Saan Mustopa tidak mempermasalahkan kepindahan Rusdi ke PSI. Menurutnya, keputusan seorang kader untuk berpindah partai tidak bisa dihalang-halangi. Langkah itu dinilainya sebagai hak dan pilihan politik masing-masing pribadi. Untuk itu, ia bakal menghargai setiap keputusan mereka.

“Ya, itu kan hak dan pilihan masing-masing. Dan, tentu kita menghormati pilihan politik masing-masing,” kata Saan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (27/1/2026), saat ditanyai perihal isu kepindahan kadernya.

Wakil Ketua Umum NasDem Saan Mustopa tidak mempermasalahkan kepindahan Rusdi ke PSI.

Saan menyadari, peran krusial Rusdi untuk memenangkan Nasdem dalam kontestasi di wilayah Indonesia Timur. Ia menyatakan, wilayah itu akan dipertahankan sebagai salah satu kekuatan utama guna meraup suara bagi partainya. Dengan begitu, sebut dia, sosok pengisi jabatan Ketua DPW NasDem juga harus bisa menguasai wilayah seperti Rusdi.

Berangkat dari kriteria itu, NasDem langsung menunjuk kadernya yang tengah menjabat Bupati Sidenreng Rappang Syaharuddin Alrif sebagai Ketua DPW Nasdem Sulsel. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Sekretaris DPW NasDem Sulsel, yang berada langsung di bawah komando Rusdi. 

“Dia (Syaharuddin) juga pernah menjadi Ketua DPRD Sulawesi Selatan sebelum menjadi Bupati Sidrap (Sidenreng Rappang). Artinya, kami tidak terlalu khawatir (kekuatan NasDem melemah di Indonesia Timur),” kata Saan.

Di sisi lain, Saan membantah jika alasan kader-kader senior partainya itu bermigrasi ke partai lain akibat tidak adanya jabatan strategis yang diberikan. Menurutnya, Ahmad Ali maupun Rusdi sama-sama pernah menduduki jabatan strategis sewaktu masih berseragam NasDem. Saan lantas memberikan contoh, di Nasdem, Ahmad Ali pernah ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum, Bendahara Umum, hingga Ketua Fraksi NasDem di DPR. 

Kendati demikian, lanjut Saan, pihaknya juga terus berusaha menjaga para kader agar bertahan dan loyal terhadap partainya. Tetapi, ia bisa memahami pula apabila terjadi dinamika politik yang mampu membuat kader-kadernya berubah pikiran dan mengubah haluan. 

“NasDem tetap memberikan kenyamanan bagi seluruh kader. Tetapi, kalau memang mereka punya pilihan lain dengan berbagai alasan, tentu kita juga nggak bisa menahan. Kita tetap menghargai pilihan itu,” kata Saan. 

Baca JugaPSI, Efek Kaesang, dan Target Menembus Parlemen
Faktor Jokowi

Dihubungi terpisah, pengajar Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, A Bakir Ihsan menjelaskan, migrasi politik terjadi akibat lemahnya posisi seorang kader partai meskipun statusnya sudah senior. Padahal, sang kader merasa memiliki nilai jual. Kepindahannya menuju partai lain membuka peluang untuk mengembangkan karier politiknya. 

Dalam situasi itu, lanjut Bakir, peluang berpindah partai semakin besar seiring masuknya tawaran prospektif dari partai lain. Menurutnya, pergantian seragam partai tidak dilakukan secara asal-asalan. Ada unsur-unsur tertentu yang mempertimbangkan keuntungan yang bisa diterima.

Peluang berpindah partai semakin besar seiring masuknya tawaran prospektif dari partai lain.

Baca JugaSoal Pilkada, PSI Klaim Satu Suara dengan Rakyat

“Dalam konteks ini, PSI menjadi salah satu partai incaran, karena berharap Jokowi effect yang dianggap masih kuat di pemilu yang akan datang. Selain itu, PSI juga membutuhkan kader partai lain yang dianggap punya nilai jual sesuai dengan grade PSI,” kata Bakir. 

Bakir menilai, partai-partai parlemen cenderung tidak menjadi tujuan migrasi. Boleh jadi, standar partai parlemen lebih mahal untuk menerima kader-kader partai lain. Lantas, pilihan para kader petualang politik jatuh pada partai yang belum masuk parlemen, tetapi memiliki prospek menjanjikan daripada partai non parlemen lainnya.

Ihwal agresifitas PSI merekrut kader partai lain, jelas Bakir, semata-mata hanya supaya partai berlambang gajah itu bisa memasuki parlemen. Tujuan utamanya, sebut dia, guna memperkuat pengaruh politik Jokowi dan keluarganya yang sejauh ini belum benar-benar mengokupasi suatu partai politik besar. 

“Yang paling terbaca dari gerak politik PSI adalah menguatkan eksistensinya sebagai partai politik yang bisa masuk parlemen, yang kebetulan saat ini dinakhodai trah politik Jokowi, dan sampai saat ini menjadi satu-satunya kendaraan. Dengan begitu, sekali mendayung, dua pulau kepentingan terlampaui,” kata Bakir.

Saling silang kepentingan terjadi dalam fenomena migrasi kader-kader senior partai lain ke PSI. Keberadaan politisi-politisi berpengalaman itu diyakini elite-elite PSI mampu membantu misi mereka membangun “Kandang Gajah” di berbagai daerah. Akankah strategi ini berhasil membawa Kaesang dan para kadernya melengggang ke Senayan?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Lakukan Sejumlah Upaya Antisipasi Virus Nipah
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Kemenhut bantu sarana air bersih dan perlengkapan ibadah di Agam
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Ressa Rizky Rossano Gugat Denada, Ini Dua Hal yang Diperjuangkan
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
MG S5 EV Debut di Indonesia, Siap Ramaikan IIMS 2026
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Segera Hangus, 10 Waran Terstruktur Ini Delisting Pertengahan Februari
• 7 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.