Jakarta (ANTARA) - Pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, tanpa memandang usia, latar belakang, maupun lingkungan.
Bahkan, anak-anak pun tidak luput dari risiko ini, terutama karena banyak dari mereka yang masih belum mampu memahami perbedaan antara perilaku yang wajar dan perilaku yang melanggar batas.
Kepolosan tersebutlah yang kerap dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab sehingga membuat anak berada dalam posisi rentan terhadap tindakan pelecehan seksual.
Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh perlindungan.
Tidak hanya melalui pengawasan, tetapi juga dengan membekali anak edukasi yang tepat sejak dini agar mereka mampu mengenali batasan diri, menumbuhkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk melapor ketika menghadapi situasi berisiko.
Berikut ini ANTARA rangkum sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengedukasi anak agar terhindar dari risiko pelecehan seksual.
1. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak
Langkah awal yang perlu dilakukan orang tua adalah membangun komunikasi yang baik dengan anak sejak dini, yakni komunikasi yang terjalin secara hangat dan terbuka.
Luangkan waktu untuk mendengarkan setiap cerita anak, apapun topiknya, dengan penuh perhatian dan tanpa menghakimi. Langkah ini dapat menjadi fondasi dalam menumbuhkan rasa percaya antara anak dan orang tua.
Selain itu, biasakan komunikasi terbuka sebagai bagian dari tradisi keluarga sehingga anak merasa nyaman untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman yang dimilikinya.
Dengan terciptanya lingkungan yang penuh kasih sayang dan rasa pengertian, anak tidak akan merasa takut atau ragu untuk bercerita dan mencari perlindungan kepada orang tua.
2. Mengenalkan pada anggota tubuh sejak dini
Penting untuk mengenalkan anak pada anggota tubuhnya, termasuk organ-organ intim, sejak usia dini.
Pastikan anak diajarkan menggunakan istilah yang tepat dan pantas dalam menyebut anggota tubuh anak, bukan dengan kata perumpaan seperti menyebut penis sebagai “burung” atau vagina sebagai “kue”.
Langkah ini bertujuan agar anak memahami makna dan fungsi anggota tubuh sebenarnya, sekaligus membantu mereka berkomunikasi secara jelas apabila menghadapi situasi yang tidak nyaman.
3. Menjelaskan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain
Langkah selanjutnya adalah menjelaskan kepada anak bahwa terdapat bagian tubuh yang bersifat pribadi yang tidak boleh dilihat maupun disentuh oleh sembarang orang.
Tekankan bahwa hanya orang tua yang bisa melihat tubuh anak saat kondisi tertentu seperti saat mandi, sedangkan orang lain hanya boleh melihat mereka dalam keadaan berpakaian.
Namun, orang tua juga perlu menjelaskan terdapat pengecualian dalam situasi tertentu, misalnya saat pemeriksaan medis oleh dokter, yakni anak perlu membuka pakaian dengan pendampingan orang tua.
4. Tanamkan budaya malu pada anak
Malu dalam kontes ini dimaknai sebagai upaya mengajarkan anak untuk menjaga privasi diri seperti tidak sembarangan mengganti pakaian di tempat terbuka atau ruang umum.
Selain itu, penting pula menanamkan pemahaman bahwa tidak ada orang yang boleh mengambil foto atau merekam gambar bagian tubuh pribadinya.
5. Mengajarkan untuk berani mengatakan “tidak”
Orang tua perlu mengajarkan anak untuk berani mengatakan “tidak” terhadap kontak fisik yang tidak wajar atau jika mereka merasa nyaman disentuh oleh orang lain, meskipun orang tersebut tampak baik atau merupakan kerabat dekat.
Ajarkan anak untuk terus menolak dan mempertahankan diri hingga ada orang dewasa yang mereka percayai datang memberikan pertolongan.
6. Mengajarkan cara bersikap saat menghadapi sentuhan yang tidak pantas
Orang tua juga perlu membekali anak kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Ajarkan anak agar berani menolak, menjauh, dan berteriak meminta bantuan ketika menghadapi orang asing yang mencoba menyentuh bagian tubuh pribadinya.
Baca juga: DPR dorong Kementerian PPPA dan KPAI turun ke Cianjur
Baca juga: KPPPA beri dukungan psikologis klinis kasus pencabulan anak Tangsel
Baca juga: KPPPA minta siswi SMP korban pelecehan guru tidak dikeluarkan sekolah
Bahkan, anak-anak pun tidak luput dari risiko ini, terutama karena banyak dari mereka yang masih belum mampu memahami perbedaan antara perilaku yang wajar dan perilaku yang melanggar batas.
Kepolosan tersebutlah yang kerap dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab sehingga membuat anak berada dalam posisi rentan terhadap tindakan pelecehan seksual.
Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh perlindungan.
Tidak hanya melalui pengawasan, tetapi juga dengan membekali anak edukasi yang tepat sejak dini agar mereka mampu mengenali batasan diri, menumbuhkan rasa aman, serta memiliki keberanian untuk melapor ketika menghadapi situasi berisiko.
Berikut ini ANTARA rangkum sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengedukasi anak agar terhindar dari risiko pelecehan seksual.
1. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak
Langkah awal yang perlu dilakukan orang tua adalah membangun komunikasi yang baik dengan anak sejak dini, yakni komunikasi yang terjalin secara hangat dan terbuka.
Luangkan waktu untuk mendengarkan setiap cerita anak, apapun topiknya, dengan penuh perhatian dan tanpa menghakimi. Langkah ini dapat menjadi fondasi dalam menumbuhkan rasa percaya antara anak dan orang tua.
Selain itu, biasakan komunikasi terbuka sebagai bagian dari tradisi keluarga sehingga anak merasa nyaman untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman yang dimilikinya.
Dengan terciptanya lingkungan yang penuh kasih sayang dan rasa pengertian, anak tidak akan merasa takut atau ragu untuk bercerita dan mencari perlindungan kepada orang tua.
2. Mengenalkan pada anggota tubuh sejak dini
Penting untuk mengenalkan anak pada anggota tubuhnya, termasuk organ-organ intim, sejak usia dini.
Pastikan anak diajarkan menggunakan istilah yang tepat dan pantas dalam menyebut anggota tubuh anak, bukan dengan kata perumpaan seperti menyebut penis sebagai “burung” atau vagina sebagai “kue”.
Langkah ini bertujuan agar anak memahami makna dan fungsi anggota tubuh sebenarnya, sekaligus membantu mereka berkomunikasi secara jelas apabila menghadapi situasi yang tidak nyaman.
3. Menjelaskan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain
Langkah selanjutnya adalah menjelaskan kepada anak bahwa terdapat bagian tubuh yang bersifat pribadi yang tidak boleh dilihat maupun disentuh oleh sembarang orang.
Tekankan bahwa hanya orang tua yang bisa melihat tubuh anak saat kondisi tertentu seperti saat mandi, sedangkan orang lain hanya boleh melihat mereka dalam keadaan berpakaian.
Namun, orang tua juga perlu menjelaskan terdapat pengecualian dalam situasi tertentu, misalnya saat pemeriksaan medis oleh dokter, yakni anak perlu membuka pakaian dengan pendampingan orang tua.
4. Tanamkan budaya malu pada anak
Malu dalam kontes ini dimaknai sebagai upaya mengajarkan anak untuk menjaga privasi diri seperti tidak sembarangan mengganti pakaian di tempat terbuka atau ruang umum.
Selain itu, penting pula menanamkan pemahaman bahwa tidak ada orang yang boleh mengambil foto atau merekam gambar bagian tubuh pribadinya.
5. Mengajarkan untuk berani mengatakan “tidak”
Orang tua perlu mengajarkan anak untuk berani mengatakan “tidak” terhadap kontak fisik yang tidak wajar atau jika mereka merasa nyaman disentuh oleh orang lain, meskipun orang tersebut tampak baik atau merupakan kerabat dekat.
Ajarkan anak untuk terus menolak dan mempertahankan diri hingga ada orang dewasa yang mereka percayai datang memberikan pertolongan.
6. Mengajarkan cara bersikap saat menghadapi sentuhan yang tidak pantas
Orang tua juga perlu membekali anak kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Ajarkan anak agar berani menolak, menjauh, dan berteriak meminta bantuan ketika menghadapi orang asing yang mencoba menyentuh bagian tubuh pribadinya.
Baca juga: DPR dorong Kementerian PPPA dan KPAI turun ke Cianjur
Baca juga: KPPPA beri dukungan psikologis klinis kasus pencabulan anak Tangsel
Baca juga: KPPPA minta siswi SMP korban pelecehan guru tidak dikeluarkan sekolah





