Menteri Agama, Nasaruddin Umar, meminta kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bisa lebih banyak menciptakan figur manajer. Ini dilakukan sebagai upaya untuk menghadapi masa depan.
Hal ini disampaikan saat Nasaruddin menghadiri acara Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1).
"Tentu tantangan besar PBNU dan segenap warga Nahdliyin di masa depan yang paling konkret di depan mata kita ialah masa depan datang lebih awal, lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mempersiapkan diri menjemput si masa depan itu," kata Nasaruddin.
Akibat hal tersebut, Nasaruddin bilang, hal ini menyebabkan kejutan di sejumlah bidang. Mulai dari keagamaan, politik, hingga ekonomi.
"Akibatnya apa yang terjadi? Terjadilah multiple shock. Ada theological shock, ada cultural shock, ada political shock, ada economical shock, bahkan apalagi ada scientifical shock," jelas dia.
Karenanya, perlu ada figur-figur manajer yang lebih banyak untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.
"Nahdlatul Ulama sudah waktunya kita lebih menekankan figur-figur manajer yang senantiasa akan mengedepankan superteam, atau the power of we," tegas Nasaruddin.
Dia menambahkan, di masa lampau sudah banyak sosok dari PBNU yang memiliki kemampuan lebih. Namun, ke depan, perlu ada regenerasi dan penyesuaian dengan situasi yang ada.
"Tapi ke depan, seiring dengan situasi yang berubah dan berbeda, yang kita perlukan adalah kombinasi antara figur manajer dan figur leader," tuturnya.




