Es Gabus Kembali Viral, UMKM Asal Solo Ini Laku 20 Ribu Buah per Bulan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Isu yang beredar belakangan mengenai tuduhan salah seorang penjual es gabus yang dikira menjual spons, rupanya turut meningkatkan kepopuleran makanan zaman dulu alias jadul ini. Salah satunya, UMKM asal solo bernama Es Gabus '90an.

Kepada kumparanFOOD, pemilik usaha Es Gabus '90an, Yusuf, menceritakan bagaimana dia awalnya membangun bisnis kuliner tersebut. Berawal dari kebutuhan pribadi untuk keluarga sendiri, kini sudah memiliki 25 reseller di berbagai kota di Indonesia.

"Kalau ditotal semuanya, ya, yang aktif sekitar 25 (reseller). Mereka pada saat itu berminat jadi reseller karena rata-rata margin profitnya, terutama dari biaya pengambilan, sama harga jual yang lumayan tinggi. Kemudian memang produk ini disukai banyak orang, dan pengin nostalgia, nyoba lagi," kisahnya kepada kumparan, saat dihubungi Kamis (29/1).

Yusuf turut menyebutkan reseller mereka saat ini tersebar di beberapa kota seperti Bekasi, Bogor, Jogja, Semarang, Pati, Kudus, Magelang, dan masih banyak lagi. Sementara pusat dari dapur Es Gabus '90an sendiri berada di Solo, di kota ini, camilan dingin tersebut penjualannya sudah merambah ke pusat perbelanjaan modern.

Usaha yang Yusuf bangun pertama kali pada September 2016 itu, diungkapkan, memiliki rata-rata penjualan hingga 20 ribu buah per bulan. "Rata-rata per bulan sekitar 20 ribu per bulan," ucapnya.

Kemudian soal rasa, Yusuf juga tak hanya berpatok pada rasa es gabus seperti zaman dulu saja. Dia juga melakukan inovasi varian es gabus untuk memperkaya produknya, dan ternyata turut mendapat sambutan baik dari para pelanggan.

"Kalau dulu awalnya kami bikinnya cuma satu rasa, kemudian sekarang ada delapan rasa. Yang favorit, yang terutama yang original ya, yang vanilla, yang warna-warni, karena seperti zaman dulu. Terus juga ada rasa cokelat, strawberry-bubblegum, green tea-mangga, durian-dark chocolate, semangka-kurma, pisang-anggur dan masih banyak lagi," terangnya.

Yusuf juga mengatakan bahwa produknya tidak menggunakan pengawet dan perasa tambahan. Dia menegaskan bahwa es gabus buatannya menggunakan bahan buah-buahan asli dan pewarna khusus makanan. Dia juga mengatakan produknya sudah memiliki sertifikasi halal sejak 2018.

Meski Teksturnya Mirip Spons, tapi Es Gabus Aman Dikonsumsi

Produk Es Gabus '90an ini juga mengeklaim aman dikonsumsi. "Nah, disebutnya es gabus karena ketika dimakan, aslinya kan cara makan es gabus disesap dulu, ya airnya itu, kemudian nanti setelah airnya habis, nanti (barulah) dimakan, (teksturnya) kayak krenis-krenis, kayak gabus itu, kayak styrofoam," jelas Yusuf.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa tekstur yang mirip gabus atau styrofoam, didapat karena adonan camilan ini menggunakan tepung hunkue atau tepung kacang hijau. Setelah dicetak, adonan dimasukkan ke dalam freezer, dan saat didinginkan tersebut didapatlah tekstur mirip gabus.

Meski kepopuleran makanan ini sempat menurun, kini es gabus kembali viral dan diminati masyarakat. Yusuf juga konsisten mempromosikan es gabus jualannya bukan hanya di mal-mal, namun juga di tempat-tempat wisata. Dia menjual dengan harga mulai Rp 5-8 ribuan per buah.

Terlebih isu yang kemarin ramai tentang pedagang es gabus dituduh menjual spons, turut kembali meningkatkan kepopuleran makanan tradisional satu ini.

Yusuf juga mengungkapkan bahwa usahanya turut terkena dampak peningkatan penjualan usai isu es gabus ramai. "Imbasnya ada. Banyak orang yang sebelumnya belum tahu es gabus jadi tahu es gabus, viewer socmed jadi meningkat, dan ada juga peningkatan penjualan (mitra yang sudah lama tidak ambil jadi ambil kembali)," tuturnya.

Kendati Yusuf belum bisa memastikan seberapa signifikan isu tersebut terhadap penjualannya saat ini. Namun ia tetap berharap bahwa usaha es gabusnya bisa terus tumbuh, dan tersedia di kota-kota lainnya di Indonesia.

"Jadi harapan kami bisa hadir di semua kota-kota di Indonesia, sebagai makanan yang sehat untuk anak-anak karena tadi, ya bahannya kami dari bahan-bahan yang berkualitas dan juga sudah ada sertifikasi. Dan bisa menjadi alternatif usaha sampingan, bahkan utama, untuk ibu-ibu atau mungkin keluarga yang ingin mempunyai penghasilan tambahan," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Suhu Ekstrem Tak Surutkan Tekad Aldila Sutjiadi di Ostrava Open
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Sepakat di Angka 30 Juta Euro! Transfer Jean-Philippe Mateta ke AC Milan Tinggal Tunggu Lampu Hijau dari Crystal Palace
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Pengemudi Porsche di Halim Pakai Pelat Dinas Kemhan Palsu Warisan Ayah
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Daftar 4 Negara yang Sudah Lolos ke Perempat Final AFC Futsal 2026
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Tren Karier Gen Z di 2026: Utamakan Kesehatan Mental
• 21 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.