Harga Perang Taiwan: 100 Ribu Korban, Ekonomi Ambruk, dan Risiko Kudeta di Beijing

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada akhir Januari 2026, sejumlah individu yang memiliki akses dekat ke lingkungan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara pribadi mengungkapkan sebuah realitas yang sangat berbeda dari narasi resmi Beijing. Di balik rangkaian latihan militer berskala besar yang tampak agresif dan penuh ancaman terhadap Taiwan, suasana internal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) justru diliputi kecemasan, keraguan, dan resistensi psikologis yang mendalam.

Latihan kepung Taiwan, pengerahan armada laut dan udara, serta retorika keras dari pimpinan pusat memang menciptakan kesan kesiapan tempur penuh. Namun, menurut sejumlah sumber militer, kondisi mental dan kesiapan sistemik di dalam tubuh PLA tidak sejalan dengan citra tersebut.

“Tugas Politik, Bukan Pilihan Militer”

Bagi banyak perwira PLA, demonstrasi militer di sekitar Taiwan dipandang sebagai tugas politik, bukan keputusan yang lahir dari penilaian profesional militer. Seorang narasumber militer yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa berlayar dan berputar mengelilingi Taiwan masih dapat diterima, tetapi perang sungguhan adalah hal yang ingin dihindari oleh hampir semua pihak di lapangan.

Menurutnya, dorongan penggunaan opsi militer lebih banyak berasal dari kalkulasi politik pimpinan tertinggi, bukan dari analisis rasional tentang risiko dan kemampuan tempur. Dia menegaskan bahwa tidak ada perwira yang benar-benar ingin memikul konsekuensi perang berskala besar, karena risikonya bukan hanya kekalahan militer, melainkan kehancuran sistemik.

Pandangan serupa disampaikan seorang perwira dari Komando Teater Selatan bermarga Wang. Dia menyatakan secara terbuka bahwa slogan “penyatuan Taiwan” di kalangan militer lebih sering dipahami sebagai retorika politik, sementara mereka yang benar-benar harus maju ke medan tempur dan mempertaruhkan nyawa adalah anak-anak rakyat biasa.

Logistik dan Medis: Titik Lemah yang Mengkhawatirkan

Selain faktor psikologis, persoalan yang jauh lebih nyata adalah ketidaksiapan logistik dan sistem medis militer. Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa sistem kesehatan, suplai logistik, dan cadangan darah PLA sama sekali tidak memadai untuk menopang perang modern berintensitas tinggi.

Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Xiamen, Provinsi Fujian, mengungkapkan bahwa pasokan darah di wilayah tersebut telah lama berada pada kondisi kritis. Dalam skenario perang lintas selat, sistem medis yang ada diperkirakan akan runtuh dalam waktu singkat, bahkan sebelum konflik mencapai fase eskalasi penuh.

Kondisi inilah yang membuat banyak kalangan militer menilai bahwa persoalan Taiwan bukan lagi soal menang atau kalah, melainkan apakah PLA mampu bertahan secara struktural. Dalam situasi seperti ini, sekeras apa pun perintah politik dari atas, akan sangat sulit diterjemahkan menjadi operasi militer yang benar-benar dapat dijalankan.

Penilaian Dingin Lembaga Pemikir AS

Pandangan internal PLA ini justru selaras dengan penilaian lembaga pemikir Amerika Serikat. Dalam laporan terbarunya, German Marshall Fund membagi kemungkinan konflik Taiwan ke dalam dua skenario: konflik terbatas dan perang total.

Namun, kesimpulannya konsisten dan tegas—apa pun skalanya, Beijing akan menanggung harga yang sangat mahal dan nyaris tak sanggup ditanggung.

Dari sisi militer, dalam skenario perang total, korban PLA diperkirakan dapat melampaui 100.000 jiwa. Dalam sistem politik yang sangat menekankan loyalitas dan hukuman, kegagalan perang berpotensi memicu pembersihan elite, kekacauan internal militer, bahkan risiko kudeta.

Dari sisi ekonomi, konflik terbatas saja sudah cukup untuk menghantam ekonomi Tiongkok dengan kerugian triliunan dolar AS. Jika perang besar terjadi, embargo dagang AS–Tiongkok, sanksi finansial, serta pemutusan pasokan energi dan bahan mentah akan berjalan serempak. Rantai pasok global akan dipercepat menuju “de-Tiongkokisasi”, sebuah proses yang hampir mustahil dibalikkan.

Dampak Sosial dan Risiko Keruntuhan Internal

Dampak sosial perang juga dinilai sangat besar. Pemblokiran transportasi pesisir, gangguan distribusi pangan dan obat-obatan, serta runtuhnya stabilitas sosial akan segera terasa. Dalam konflik berkepanjangan, laporan tersebut menilai eksodus pengungsi dan keruntuhan tatanan sosial bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Bahkan, dalam skenario terburuk, PKT bisa dipaksa mencari gencatan senjata atau menerima kekalahan. Dengan kata lain, konflik Taiwan bukan soal apakah Beijing bisa menang, melainkan apakah Beijing akan menyeret dirinya sendiri menuju kehancuran.

Perang Sudah Dimulai, Tapi Berwujud Lain

Karena pertimbangan inilah, Beijing dinilai lebih memilih strategi tekanan jangka panjang bertahap. Selat Taiwan kini bukan lagi satu medan tempur tunggal, melainkan medan konflik hibrida—mulai dari latihan militer, operasi abu-abu, hingga perang informasi dan kognitif.

Tekanan terhadap Taiwan telah menjadi menyeluruh dan terlembaga, termasuk perang psikologis, intimidasi lintas batas, dan penindasan hukum terhadap individu. Bagi Taiwan, pertanyaannya bukan lagi apakah perang akan terjadi, melainkan bahwa perang itu sudah berlangsung setiap hari, hanya dengan bentuk yang berbeda.

Suara dari Garis Depan Politik Taiwan

Perubahan ini paling dirasakan oleh para pengambil keputusan pertahanan Taiwan. Legislator DPP Wang Ting-yu, yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia militer dan politik, menggambarkan bagaimana situasi Selat Taiwan telah berubah dari ketegangan menjadi ketidakpastian tingkat tinggi.

Dia mengenang masa dinas militernya pada 1992, ketika bertugas di Wing Udara Keenam Pingtung. Saat itu, Taiwan masih mengoperasikan pesawat angkut C-119 dan mulai beralih ke C-130H, dengan lingkungan ancaman yang jauh lebih sederhana.

Krisis misil Selat Taiwan 1996 menjadi titik balik awal. Namun menurut Wang, ancaman kala itu masih terbatas dan kasar. Memasuki dekade 2020-an, media sosial, citra waktu nyata, dan teknologi AI membuat medan perang menyusup ke layar ponsel setiap individu, menguras ketahanan sosial secara perlahan namun konsisten.

Legislator DPP lainnya, Chen Kuan-ting, menegaskan bahwa tekanan Beijing bersifat kontinu, bukan sporadis. Menanggapi sanksi personal seumur hidup terhadap pejabat Taiwan, pemerintah Taipei menegaskan bahwa langkah tersebut tidak memiliki dasar hukum dan hanya bertujuan menciptakan teror psikologis.

Presiden Lai Ching-te menegaskan bahwa intimidasi dan taktik front persatuan justru akan memperkuat solidaritas nasional Taiwan. Negara demokratis, menurutnya, hanya bisa menahan ekspansi otoritarianisme melalui kerja sama dan kekuatan nyata.

Sinyal Keras Washington dan Sekutu

Dalam konteks ini, langkah Amerika Serikat dan sekutunya semakin jelas sebagai pencegah terukur. Dengan moral militer PLA yang rapuh, keterbatasan logistik, dan tekanan internasional yang meningkat, opsi militer Beijing terhadap Taiwan dinilai semakin sulit direalisasikan.

Menurut laporan media AS, Donald Trump telah mengusulkan sistem pertahanan misil generasi baru bernama Golden Dome, dengan Guam dipilih sebagai lokasi uji coba pertama. Perwakilan Guam, Michael San Nicolas, menegaskan bahwa Guam adalah poros strategis Indo-Pasifik—kehilangan pulau itu berarti ancaman langsung terhadap daratan Amerika Serikat.

Sistem Golden Dome dipandang sebagai versi lebih besar dan canggih dari Iron Dome Israel, mengintegrasikan pencegat luar angkasa dan sensor mutakhir untuk menghadapi misil balistik, hipersonik, dan jelajah. Trump bahkan meminta anggaran pertahanan tahun fiskal 2027 dinaikkan hingga USD 1,5 triliun, menandakan bahwa Washington tidak lagi memandang konflik Taiwan sebagai krisis yang bisa dikendalikan secara ringan.

Latihan Tembak Nyata dan Pesan Terbuka

Kesiapan ini bukan sekadar wacana. Pada akhir Januari 2026, militer AS melakukan latihan tembak langsung di Laut Cina Selatan. Kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln memperlihatkan tembakan intensitas tinggi untuk menghadapi skenario serangan kawanan drone dan kapal tak berawak—taktik yang sering dilatih militer Tiongkok.

Inti pertahanan terakhir kapal induk ini adalah Phalanx CIWS, meriam enam laras kaliber 20 mm dengan laju tembak hingga 4.500 peluru per menit, membentuk tirai peluru rapat di jarak dekat. Namun yang membuat kapal induk sulit ditembus bukan satu sistem, melainkan pertahanan berlapis: dari misil Sea Sparrow, RIM-116 Rolling Airframe Missile, hingga Phalanx sebagai zona akhir.

Pemilihan Laut Cina Selatan sebagai lokasi publikasi latihan ini dipandang sebagai sinyal strategis terbuka: taktik kawanan bukan tanpa solusi, dan Amerika Serikat tengah mempersiapkan diri menghadapi perang masa depan, termasuk skenario terburuk di Selat Taiwan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perang Narkoba! Polresta Malang Ungkap 31 Kasus, Tangkap 36 Tersangka
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Bagaimana Cara Mencegah dan Mengendalikan Wabah Virus Nipah yang Kini Menyebar di India dan Bangladesh?
• 23 jam laluerabaru.net
thumb
Satria Muda dulang kemenangan perdana di Bandung Arena
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Kodim 1702/Jayawijaya Perkuat Pemahaman Tugas Prajurit Lewat Jam Komandan
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Whip Pink di TKP Lula Lahfah Kosong, Puslabfor Toksikologi Bareskrim Polri Beberkan Kandungannya
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.