MALANG (Realita) – Menjelang Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Kabupaten Malang yang dijadwalkan pada 14 Februari 2026, peta persaingan mulai mengerucut. Nama Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Zia’ul Haq, menguat sebagai salah satu kandidat serius Ketua KONI Kabupaten Malang.
Zia datang dengan misi besar: membenahi tata kelola KONI secara menyeluruh dan mengakhiri pola pengelolaan lama yang dinilai tertutup serta minim pengawasan. Menurutnya, tanpa transparansi dan akuntabilitas, prestasi olahraga hanya akan jalan di tempat.
Ia menegaskan, pengelolaan dana hibah harus menjadi prioritas pembenahan. Dana publik, kata Zia, wajib dikelola secara terbuka dan mudah diaudit agar benar-benar berdampak pada pembinaan atlet.
“KONI ini organisasi besar dengan potensi luar biasa. Tapi kalau pengelolaannya tidak transparan dan sulit diaudit, jangan harap prestasi melonjak. Tidak boleh lagi ada ruang abu-abu, terutama soal dana hibah,” tegas Zia, Sabtu (31/1/2026).
Dengan dukungan 15 cabang olahraga (cabor), Zia optimistis membawa perubahan nyata. Ia menilai salah satu persoalan mendasar KONI Kabupaten Malang selama ini adalah lemahnya sistem pembinaan atlet yang belum berjalan konsisten dan terukur.
Zia menekankan bahwa prestasi tidak lahir dari agenda seremonial atau program dadakan menjelang kejuaraan. Kunci keberhasilan, menurutnya, terletak pada pembinaan jangka panjang yang disiplin dan berbasis data, termasuk optimalisasi peran Pusat Latihan (Puslat) yang selama ini dinilai belum maksimal.
“Kalau pusat latihan saja lemah, hasilnya pasti jauh dari harapan. Pembinaan atlet harus dimulai sejak dini, dipetakan dengan jelas, bukan baru bergerak mepet event seperti Porprov,” ujarnya.
Sebagai bagian dari lompatan kualitas, Zia membuka peluang menghadirkan pelatih asing untuk sejumlah cabor unggulan. Langkah ini dinilai penting untuk membawa metode latihan modern dan program pembinaan yang lebih terukur agar atlet Kabupaten Malang mampu bersaing di level provinsi hingga nasional.
Tak hanya soal teknis, kesejahteraan atlet juga menjadi perhatian utama. Zia berkomitmen memperjuangkan peningkatan uang saku atlet pada ajang Porprov Jawa Timur 2027, agar atlet bisa fokus bertanding tanpa dibebani persoalan non-teknis.
Ia pun memasang target realistis namun menantang: menembus tiga besar Porprov Jatim 2027. Target tersebut, menurut Zia, hanya bisa dicapai jika pembinaan dilakukan secara serius dan prestasi atlet dihargai secara layak.
“Kabupaten Malang punya banyak cabor unggulan. Tinggal kemauan untuk membina secara konsisten dan memberi apresiasi yang pantas kepada atlet berprestasi,” katanya.
Lebih jauh, Zia menegaskan KONI tidak boleh sekadar menjadi penyalur anggaran. Ia mendorong transformasi KONI Kabupaten Malang menjadi organisasi yang benar-benar berorientasi prestasi, dengan dukungan penuh pemerintah daerah melalui penguatan anggaran dan sistem penghargaan atlet sebagai investasi jangka panjang.
“Olahraga itu investasi masa depan. Kalau dikelola setengah-setengah, hasilnya juga setengah-setengah. Sudah waktunya KONI Kabupaten Malang berbenah dan naik level,” pungkasnya. (mad)
Editor : Redaksi





