Musim hujan yang disertai banjir meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih berkembang. Lingkungan lembap hingga sanitasi yang terganggu menjadi faktor pemicu mudahnya penyebaran berbagai penyakit. Kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih dari orangtua dan pemangku kepentingan kesehatan.
Di tengah situasi tersebut, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak. Aktivitas bermain di luar rumah, kontak dengan air kotor, hingga perubahan cuaca ekstrem kerap membuat mereka lebih mudah terserang penyakit. Jika tidak dikenali sejak dini, penyakit yang awalnya ringan berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Kehujanan atau berjalan di genangan air sebaiknya dihindari.
Memahami berbagai penyakit yang berpotensi menjangkiti anak saat musim hujan menjadi langkah awal yang krusial. Pengetahuan ini membantu orangtua dan pengasuh mengenali tanda-tanda awal penyakit, mengambil tindakan cepat, serta menentukan kapan anak perlu mendapatkan perawatan medis.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Anggraini Alam mengemukakan, air hujan tidak secara langsung memicu penyakit. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena musim hujan identik dengan kelembapan tinggi dan penurunan suhu yang meningkatkan perkembangan mikroorganisme penyebab penyakit.
“Kandungan kimia dalam air hujan juga perlu diperhatikan, terutama di perkotaan. Kandungan karbon, asam nitrat, dan asam sulfat akibat pencemaran dan polusi di kota besar dapat berdampak pada kesehatan,” ujarnya saat diskusi media yang diselenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (30/1/2026).
Menurut Anggraini, genangan air di talang air, daun-daunan, plastik, atau wadah terbuka, berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Curah hujan yang tinggi juga memperluas area rawa sehingga memudahkan nyamuk Anopheles berkembang biak dan meningkatkan risiko penularan malaria di wilayah tertentu.
Selain faktor lingkungan, risiko infeksi juga meningkat akibat paparan langsung dengan air banjir atau genangan air kotor. Aktivitas anak di lingkungan tersebut, terutama jika terdapat luka kecil pada kulit, dapat menjadi pintu masuk kuman penyebab penyakit.
Dalam kondisi seperti ini, daya tahan tubuh anak berperan penting dalam menentukan mudah tidaknya infeksi terjadi. Tanpa adanya asupan gizi yang cukup, istirahat yang memadai, dan kebiasaan hidup bersih, paparan kuman dari lingkungan lembap dan air tercemar akan lebih mudah menyebabkan anak jatuh sakit.
Kelompok yang paling terdampak dalam situasi tersebut adalah balita, yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi. Sistem kekebalan tubuh balita yang masih berkembang, ditambah kebiasaan bermain di berbagai tempat dan sering memasukkan tangan ke mulut tanpa kebersihan yang memadai, membuat mereka lebih rentan terserang penyakit.
“Kondisi cuaca dingin saat hujan juga mendorong orang untuk berkumpul di dalam satu ruangan dengan ventilasi yang tertutup dan sirkulasi udara yang buruk. Situasi ini mempermudah penularan penyakit, terutama terkait saluran pernapasan,” kata Anggraini.
Anggraini menjelaskan, salah satu penyakit yang menunjukkan peningkatan signifikan saat musim hujan ialah influenza. Secara global, peningkatan kasus influenza dilaporkan mencapai 38 persen. Sementara di Indonesia pada minggu ke-40 tahun 2025 tercatat kenaikannya bahkan mencapai 55 persen.
Lonjakan ini berkaitan dengan mutasi virus influenza AH3N2 atau kerap dikenal sebagai “super flu”. Virus ini memiliki daya tular tinggi karena belum sepenuhnya dikenali oleh sistem imun manusia sehingga berpotensi meningkatkan jumlah kasus berat pada anak.
Musim hujan juga berkaitan erat dengan meningkatnya penyakit akibat gangguan sanitasi dengan peningkatan hingga lima kali lipat dibandingkan musim kemarau. Keterbatasan air bersih dan sanitasi yang buruk memicu peningkatan bakteri seperti E. coli, Shigella, dan Salmonella, yang berdampak pada naiknya kasus demam tifoid pada anak.
Hepatitis A juga menjadi ancaman serius di musim hujan. Penyakit ini kerap tidak langsung terdeteksi karena memiliki masa inkubasi yang panjang, bahkan hingga satu bulan sejak virus masuk melalui makanan dan minuman. Akibatnya, kasus hepatitis A sering kali baru terlihat satu hingga dua bulan kemudian, ketika jumlah penderita sudah meningkat tajam.
Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah leptospirosis yang angka kematiannya di Indonesia tergolong tinggi, terutama pada musim hujan. Kondisi Indonesia dengan tingkat kelembapan 70–90 persen sangat mendukung berkembangnya bakteri penyebab leptospirosis. Kasus penyakit ini banyak ditemukan di wilayah Pulau Jawa bagian utara.
Infeksi yang ditularkan melalui nyamuk juga meningkat selama musim hujan. Demam dengue cenderung naik karena adanya genangan air dan kebiasaan masyarakat lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Nyamuk dengue ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari.
Di sisi lain, penyakit yang penularannya melalui udara juga menjadi perhatian. Campak, misalnya, merupakan salah satu penyakit paling mudah menular, di mana satu anak dapat menularkan ke banyak anak lainnya, terutama di ruang tertutup. Rendahnya cakupan imunisasi campak memperbesar risiko lonjakan kasus pada musim hujan.
Cacar air dan hand, foot, and mouth disease (HFMD) juga meningkat pada musim hujan. Curah hujan dan kelembapan tinggi menciptakan kondisi ideal bagi enterovirus untuk berkembang dan menularkan penyakit pada anak.
Anggraini menegaskan, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk melindungi anak dari berbagai penyakit yang meningkat pada musim hujan. Kebiasaan hidup bersih, seperti mencuci tangan, mengonsumsi makanan yang bersih, mencuci buah, serta minum air bersih yang sudah dimasak menjadi dasar penting dalam menjaga kesehatan anak.
“Kehujanan atau berjalan di genangan air sebaiknya dihindari, terutama jika kondisi tubuh anak sedang kurang fit atau cuaca disertai angin kencang. Setelah terkena hujan, dianjurkan untuk segera mengganti pakaian dan mandi guna mengurangi risiko infeksi,” ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menekankan agar anak mendapatkan imunisasi dasar dan lanjutan sesuai usia untuk mencegah penyakit saat musim hujan. Vaksin yang diberikan seperti campak, difteri, pertusis, hingga influenza.
Orangtua juga perlu memastikan agar anak mendapat makanan yang bernutrisi tinggi, terutama protein hewani, cukup cairan, hindari makanan tinggi gula, garam, juga junk food, serta istirahat yang cukup, yaitu 8-10 jam sesuai usia. Orangtua perlu segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam, batuk, pilek, diare, atau lemas.
Hal lainnya yang menjadi perhatian IDAI adalah mengajarkan anak etiket batuk dan perilaku hidup bersih sehat. Beberapa di antaranya yakni menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, cuci tangan dengan sabun, menggunakan masker bila sakit, serta hindari berbagi penggunaan alat makan, minum, dan alat kebersihan pribadi.
Selain itu, IDAI juga menyarankan untuk menerapkan aktivitas menguras, menutup, mendaur ulang (3M) dan pastikan lingkungan sekolah maupun rumah bebas dari genangan air. Kemudian untuk menghindari diare dan leptospirosis pastikan anak selalu memakai alas kaki saat bermain atau berjalan di area yang mungkin terkontaminasi.




