Jakarta, ERANASIONAL.COM – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat, 30 Januari 2026. Keputusan tersebut langsung mendapat respons dari pemerintah, khususnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, di tengah tekanan besar yang melanda pasar modal nasional dalam beberapa hari terakhir.
Airlangga Hartarto mengapresiasi langkah yang diambil Iman, seraya menegaskan bahwa pemerintah ke depan akan lebih mencermati tata kelola dan kepengurusan di lingkungan BEI. Menurut Airlangga, stabilitas dan kredibilitas pasar modal merupakan bagian penting dari ekosistem perekonomian nasional, sehingga harus dikelola secara transparan dan akuntabel.
“Tentu kami melihat bahwa ke depan pemerintah akan terus memonitor agar kepengurusan di bursa semakin memperhatikan tata kelola yang baik dan menjalankan peta jalan yang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK),” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta.
Airlangga menilai, UU P2SK telah memberikan kerangka yang jelas bagi penguatan sektor keuangan, termasuk pasar modal. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan, baik regulator maupun pengelola bursa, diharapkan konsisten menjalankan amanat undang-undang tersebut demi menjaga kepercayaan investor domestik dan global.
Pengunduran diri Iman Rachman terjadi di tengah tekanan hebat terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam kurun waktu tiga hari, IHSG tercatat anjlok signifikan, dari level 8.980,23 pada 27 Januari 2026 menjadi 8.320,56 pada 28 Januari, dan kembali melemah ke posisi 8.232,20 pada 29 Januari 2026.
Tekanan tersebut dipicu oleh sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga penyedia indeks global itu menyoroti sejumlah isu struktural di pasar modal Indonesia, mulai dari rendahnya porsi saham beredar bebas (free float), kurangnya transparansi kepemilikan saham, hingga pembekuan perubahan komposisi indeks yang dinilai menimbulkan ketidakpastian bagi investor.
Reaksi pasar pun tak terelakkan. Aksi jual investor asing dan domestik terjadi secara masif, memicu volatilitas tinggi dan memperburuk sentimen pasar. Dalam situasi tersebut, keputusan Dirut BEI untuk mengundurkan diri dinilai sebagai langkah yang sarat makna simbolik.
Dalam pernyataannya, Iman Rachman menyampaikan harapannya agar pengunduran dirinya dapat membawa dampak positif bagi pasar modal Indonesia. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai pimpinan bursa.
“Semoga dengan pengunduran diri saya ini, pasar modal kita ke depan bisa menjadi lebih baik,” ujar Iman.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan Iman sebagai langkah yang tepat dalam situasi krisis kepercayaan. Namun, Purbaya juga secara terbuka menyebut adanya kesalahan fatal dalam merespons masukan dan pertanyaan dari MSCI yang berujung pada koreksi tajam di pasar saham.
“Masalahnya karena masukan atau pertanyaan dari MSCI itu tidak ditindaklanjuti dengan baik. Akibatnya kita mengalami koreksi yang cukup dalam. Kalau ini tidak cepat dibenahi, bisa mengganggu sektor lain dan memunculkan persepsi bahwa ekonomi kita tidak stabil,” kata Purbaya usai konferensi pers di Wisma Danantara.
Menurut Purbaya, dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, komunikasi yang efektif dengan pelaku pasar dan lembaga internasional menjadi sangat krusial. Kegagalan merespons isu-isu strategis, kata dia, dapat menimbulkan dampak sistemik terhadap stabilitas keuangan nasional.
Purbaya kemudian membandingkan situasi di BEI dengan langkah-langkah pembenahan yang tengah ia lakukan di Kementerian Keuangan. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengganti sekitar 35 pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta berencana memutasi sekitar 70 pejabat di Direktorat Jenderal Pajak dalam waktu dekat.
Langkah tersebut, menurut Purbaya, merupakan bagian dari upaya serius pemerintah dalam memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi keuangan negara.
“Kalau mau ekonomi membaik, ya harus ada perbaikan nyata. Itu yang sedang kami lakukan,” ujarnya.
Pengunduran diri Dirut BEI dan respons para menteri ini menandai babak baru dalam upaya pembenahan pasar modal Indonesia. Ke depan, perhatian publik dan investor akan tertuju pada langkah konkret yang diambil otoritas terkait untuk memperbaiki tata kelola, meningkatkan transparansi, serta memulihkan kepercayaan pasar.


