Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7-8 persen menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Seminar Nasional Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 80 bertajuk “Mendorong Produktivitas untuk Pertumbuhan Ekonomi 7-8 Persen Menuju Indonesia Emas 2045” di Aula Timur ITB, Sabtu (31/1/2026).
Brian mengungkapkan bahwa proses membawa inovasi riset menuju komersialisasi bukanlah hal yang mudah. Ia menyebut ada tahapan sulit dalam rantai inovasi yang kerap menjadi penghambat produk riset untuk masuk ke pasar.
“Setiap produk inovasi itu tidak mudah menuju komersialisasi. Ada satu paper yang menyebutkan bahwa satu produk yang berhasil masuk ke tahap komersial berasal dari sekitar 3.000 inovasi,” ujarnya.
Menurut Brian, hasil riset tidak bisa dipaksakan untuk langsung menjadi produk komersial. Namun demikian, negara harus tetap hadir untuk mendorong proses tersebut melalui kebijakan dan pendampingan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan skema kolaborasi yang ditawarkan Kementerian Dikti Saintek, yakni dengan mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas riset perguruan tinggi.
Industri akan diminta memetakan kebutuhan inovasinya, kemudian kementerian akan mencarikan peneliti, dosen, atau guru besar yang sesuai dengan bidang tersebut, sekaligus menyiapkan pendanaan riset.
“Sepanjang hasil inovasi itu digunakan oleh industri, maka skema royalti bisa diberikan kepada kampus, profesor, maupun peneliti. Kami sangat terbuka dan mendukung industri yang ingin berinovasi, termasuk inovasi yang lahir dari kampus,” katanya.
Brian juga menegaskan bahwa pemerintah siap mengawal produk inovasi perguruan tinggi agar dapat go to market, termasuk membantu proses perizinan lintas kementerian, seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan.
Ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak terburu-buru dalam mendorong komersialisasi, mengingat risiko besar yang dihadapi industri.
Lebih lanjut, Brian menekankan bahwa industri berbasis sains dan teknologi memiliki efek berlipat terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi dan alumni dinilai sangat strategis dalam mengakselerasi lahirnya industri-industri berkelas.
“Kita berharap di sinilah perguruan tinggi dan juga alumni itu bisa mengakselerasi. Karena alumni tentu memiliki sumber daya manusia yang memiliki pengalaman luas dan jejaring luas. Dengan adanya kolaborasi ini, perguruan tinggi bisa melakukan riset-riset untuk mendukung industri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden RI telah meminta agar dilakukan berbagai kajian strategis yang berorientasi pada kebutuhan bangsa, khususnya pengembangan industri berbasis sains dan teknologi. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan mineral yang besar, Brian menilai penguatan downstreaming industri harus didukung oleh fondasi riset dan teknologi yang kuat.
“Kita membutuhkan kemajuan yang signifikan dari industri berbasis sains dan teknologi, apalagi kita juga memiliki kekayaan mineral yang tinggi. Downstreaming industri itu butuh latar fundament sains dan teknologi,” pungkasnya.




