Kerendahan Hati dan Karunia

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada suatu masa, hiduplah seorang nabi tua yang mengutus murid-muridnya untuk berlatih dan menempuh perjalanan spiritual ke berbagai tempat.

Salah satu muridnya, setelah melalui latihan keras yang panjang, berhasil menguasai sebuah kemampuan luar biasa—  dia mampu berjalan di atas permukaan air.

dia pun merasa sangat bangga.

Di hadapan murid-murid lain, dia bercerita dengan penuh semangat dan rasa percaya diri, lalu dengan wajah berseri-seri bertanya kepada sang nabi tua: “Guru, bagaimana menurut Anda? Bukankah kemampuanku ini luar biasa? Bukankah yang lain seharusnya banyak belajar dariku?”

Nabi tua itu tidak berkata apa-apa.

Dia justru mengajak semua murid pergi ke tepi sungai, memanggil sebuah perahu, dan mengajak mereka menyeberang bersama-sama menggunakan perahu itu.

Tak seorang pun tahu apa maksud sang nabi.

Setibanya di seberang, nabi tua itu bertanya kepada pendayung perahu:  “Berapa ongkosnya?”

“Dua keping uang,” jawab si pendayung.

Mendengar itu, sang nabi tua tersenyum, lalu menoleh kepada murid yang tadi begitu sombong dan berkata: “Anak muda, kemampuan baru yang begitu kau banggakan itu, ternyata nilainya hanya dua keping uang saja.”

Mendengar perkataan itu, wajah murid tersebut langsung memerah karena malu.

Sejak saat itu, dia semakin giat melatih karakter dan kerendahan hatinya. Beberapa tahun kemudian, dia pun tumbuh menjadi pribadi yang mampu sekaligus rendah hati.

Kerendahan hati adalah kebajikan yang sering kali justru kurang dimiliki oleh orang-orang berbakat.

Tuhan menganugerahkan kepada setiap orang karunia dan talenta yang berbeda-beda: ada karunia menulis, karunia berkhotbah, karunia mengajar, karunia bermusik,  bahkan karunia berbicara dalam bahasa tertentu.

Jika kita memiliki karunia-karunia itu, tentu patut bersyukur. Namun jangan sekali-kali merendahkan orang lain yang tidak memilikinya.

Karena mampu melakukan sesuatu tidak berarti kita lebih tinggi atau lebih mulia dari orang lain. Kemampuan itu hanyalah hadiah dari Tuhan.

Tuhan memberikan karunia yang berbeda kepada setiap orang, dan orang lain pun pasti memiliki kemampuan yang tidak kita miliki.

Berjalan di atas air—bukankah itu karunia yang luar biasa?

Namun seperti kata sang nabi tua dalam cerita ini, nilainya pun hanya dua keping uang saja.

Jika kemampuan sehebat itu saja hanya bernilai dua keping uang,  lalu berapa nilai kemampuan dan talenta kita yang relatif biasa-biasa saja di mata Tuhan?

Masih pantaskah kita menyombongkan diri? Masih adakah alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain?

Apa pun karunia yang kita miliki, jangan tinggi hati, jangan merasa diri paling hebat, jangan menganggap orang lain harus meneladani kita.

Jika tidak, tanpa sadar kita telah menjadi tawanan kesombongan.

Renungan 

Melalui kisah yang ringan namun bermakna, artikel “Kerendahan Hati dan Karunia” mengajak kita memahami satu hal penting: setiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda.

Jangan menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki, dan jangan pula merendahkan diri karena kekurangan yang kita rasakan.

Kesombongan justru menjauhkan seseorang dari berkat, sementara kerendahan hati adalah wadah yang mengumpulkan kebaikan dan keberkahan.

Pada akhirnya, bukan seberapa besar karunia yang kita miliki yang menentukan nilai diri kita, melainkan seberapa rendah hati kita dalam menggunakannya. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ditjenpas: Ammar Zoni Tetap Kembali ke Nusakambangan Usai Sidang Selesai
• 9 jam laludetik.com
thumb
Prilly Latuconsina Banjir Tawaran di LinkedIn, Semangat demi Buka Lapangan Pekerjaan
• 40 menit lalugenpi.co
thumb
Disbudpar Tangerang: Syuting Film Korea Jadi Ajang yang Bagus untuk Promosi Kota
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Kini Mulai Selidiki Asal-Usul Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pefindo Tetapkan Peringkat DEWA idA dengan Prospek Stabil 
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.