Membaca "The Power of Us" di Balik Bencana Sumatera

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketika tanah di Sumatera berguncang dan debu reruntuhan belum sepenuhnya turun, ada satu hal yang bergerak lebih cepat daripada bantuan resmi: rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh bangsa ini. Dalam hitungan jam, sekat-sekat perbedaan politik, perdebatan agama, dan polarisasi yang bising di media sosial mendadak senyap. Yang terdengar hanyalah satu frekuensi: "Apa yang bisa saya bantu?"

​Fenomena solidaritas dalam bencana Sumatera ini adalah manifestasi nyata dari konsep “The Power of Us”. Kita bergerak bagaikan satu tubuh biologis; ketika satu organ terluka, seluruh sistem saraf merespons untuk memulihkan.

Namun, dorongan ini bukan sekadar romantisme budaya atau emosi sesaat. Data global membuktikan bahwa refleks "tolong-menolong" ini adalah DNA pertahanan hidup bangsa Indonesia yang paling kuat.

Validasi Data: Kita Memang "Juara" Hati

​Dunia luar mungkin melihat Indonesia sebagai negara berkembang dengan segala dinamikanya, tetapi data menempatkan kita di puncak peradaban manusia dalam hal kemurahan hati. Laporan World Giving Index 2024 menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia (Peringkat #1) untuk tahun ketujuh berturut-turut.

​Apa yang terjadi di Sumatera bukanlah anomali. Data menunjukkan bahwa 90% orang Indonesia menyumbangkan uang, angka tertinggi di dunia. Lebih jauh lagi, sebanyak 65% dari kita rela meluangkan waktu untuk menjadi relawan. Statistik ini adalah bukti empiris bahwa gotong royong bukan sekadar slogan di buku PKN, melainkan juga mesin sosial yang bekerja presisi. Di saat bencana, mesin ini bekerja pada kapasitas maksimalnya.

Solidaritas di Atas Cincin Api

​Mengapa ikatan persaudaraan kita begitu kuat saat bencana? Jawabannya mungkin terletak pada nasib geografis yang kita tanggung bersama. Laporan World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia pada Peringkat #3 dunia sebagai negara paling berisiko bencana, dengan skor risiko 39.80.

​Skor exposure (paparan terhadap bencana alam) kita sangat tinggi, yaitu mencapai angka 39.89. Kita hidup di tanah yang rawan dan kerawanan kolektif inilah yang membentuk psikologi bangsa. Kita menyadari bahwa "hari ini kamu, besok mungkin aku." Kesadaran bawah sadar akan risiko bersama ini meleburkan ego individu menjadi kekuatan kolektif. Kita bersatu bukan karena kita sama, melainkan karena kita senasib.

​"The Power of Us" Menambal Celah Sistem

​Ada sisi analitis yang menarik jika kita membedah data lebih dalam. Mengapa gerakan warga bantu warga di Sumatera begitu masif dan krusial? Data World Risk Index 2025 menunjukkan bahwa skor Lack of Coping Capacities (kurangnya kapasitas penanggulangan) Indonesia berada di angka 51.27. Angka ini mengindikasikan bahwa sistem formal memiliki keterbatasan yang signifikan dalam menangani guncangan bencana sendirian.

​Di sinilah The Power of Us bekerja sebagai mekanisme evolusioner masyarakat. Kedermawanan publik hadir untuk melakukan "subsidi silang" atas kekurangan kapasitas sistem tersebut. Ketika logistik resmi terhambat, dapur umum warga sudah mengepul. Ketika alat berat belum tiba, tangan-tangan tetangga sudah mengangkat puing. Donasi dan kerelawanan kita berfungsi menutup celah kerentanan tersebut, memastikan saudara kita di Sumatera tetap bisa bertahan.

Melihat Manusia, bukan Golongan

​Poin paling mengharukan dari bencana Sumatera ini adalah hilangnya label identitas. Bantuan mengalir tanpa bertanya afiliasi politik atau latar belakang korban. Hal ini terkonfirmasi oleh data World Giving Index di mana 66% orang Indonesia menyatakan telah menolong orang asing (helped a stranger).

​Angka 66% ini adalah angka harapan. Ia membuktikan bahwa di balik riuhnya pertengkaran di dunia maya, mayoritas dari kita siap menolong siapa saja yang tidak kita kenal sekalipun. Bencana Sumatera menjadi "kaca benggala" yang memperlihatkan wajah asli Indonesia: sebuah bangsa yang mungkin bising dalam perbedaan pendapat, tetapi satu tubuh dalam kemanusiaan.

​Pada akhirnya, bencana Sumatera mengajarkan kita kembali arti menjadi Indonesia, bahwa kekuatan terbesar kita bukanlah pada sumber daya alam atau kecanggihan teknologi, melainkan pada The Power of Us, kemampuan untuk saling menopang ketika satu bagian tubuh kita sedang lumpuh. Reruntuhan bangunan bisa kita bangun kembali, tetapi persaudaraan yang terjalin di atasnya adalah fondasi yang tak ternilai harganya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Barcelona resmi umumkan perpanjang kontrak Fermin Lopez
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Pelabuhan Parepare Layani Puluhan Ribu Penumpang Selama Nataru
• 7 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Tanpa Autopsi, Penyebab Kematian Lula Lahfah Masih Misterius
• 18 jam laluliputan6.com
thumb
Tempaan Bernardo Tavares! Alasan Bomber Lokal Persebaya Surabaya Malik Risaldi Siap Meledak Layaknya Ramadhan Sananta Saat di PSM
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Mahendra Mundur, OJK Tegaskan Tugas dan Kewenangan Tetap Berjalan
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.