FAJAR, SURABAYA — Catatan 100 persen dribel sukses bukan sekadar angka statistik. Ia adalah sinyal. Di bawah tempaan pelatih Bernardo Tavares, Malik Risaldi perlahan menjelma menjadi solusi tak terduga di lini depan Persebaya Surabaya—sebuah proses yang mengingatkan publik pada metamorfosis Ramadhan Sananta saat digembleng sang pelatih di PSM Makassar.
Dalam keterbatasan stok penyerang lokal, Malik muncul sebagai jawaban. Bukan karena status, melainkan karena fungsi dan keberanian beradaptasi.
Keterbatasan yang Melahirkan Solusi
Persebaya Surabaya memang tak punya banyak opsi di lini serang lokal untuk mengarungi sisa Super League 2025/2026. Sejak kepergian Rizky Dwi, kekosongan itu tak sepenuhnya terisi.
Situasi inilah yang memaksa Bernardo Tavares memutar otak—sebuah kondisi yang tak asing baginya. Di PSM, kondisi serupa justru melahirkan Ramadhan Sananta, striker lokal yang ditempa dari pemain potensial menjadi penyerang timnas.
Kini, skenario itu seolah terulang.
Malik Risaldi, yang sejatinya adalah winger, diberi kepercayaan lebih. Ia diposisikan fleksibel—mengisi sayap, bahkan beberapa kali menjadi penyerang tengah—melengkapi trio depan bersama Bruno Moreira, Gali Freitas, hingga Bruno Paraiba.
Fleksibilitas ala Tavares
Bernardo Tavares tak pernah terpaku pada posisi alami pemain. Baginya, karakter dan fungsi lebih penting daripada label.
“Tidak mudah mendatangkan pemain lokal di bursa transfer, karena sebagian besar sudah terikat kontrak,” ujar pelatih asal Portugal itu.
Namun keterbatasan tak pernah menjadi alasan.
“Malik bisa bermain sebagai winger, bisa juga sebagai striker. Semua orang harus siap. Ini target kami,” tegasnya.
Kepercayaan itu dijawab Malik dengan kerja keras dan keberanian mengambil risiko di lapangan.
Statistik yang Bicara
Dalam satu pertandingan, Malik mencatatkan 11 operan sukses dari 13 percobaan (akurasi 85 persen). Di area lawan, ia mencatatkan 9 operan sukses dari 11, sementara di area sendiri ia sempurna: 2 dari 2.
Untuk umpan jauh, Malik bahkan mencatatkan 100 persen akurasi dari dua percobaan long ball.
Namun yang paling mencolok adalah keberaniannya membawa bola. Tiga dribel, tiga sukses. Seratus persen.
Dribel-dribel itu bukan kosmetik. Ia memecah blok pertahanan lawan, membuka ruang, dan memaksa bek PSIM Yogyakarta keluar dari zona nyaman.
Bukan Striker Murni, Tapi Berguna
Dalam duel bawah, Malik terlibat sembilan kali duel dan memenangkan tiga di antaranya. Ia memang belum dominan di duel udara—nol kemenangan—namun kontribusinya tak berhenti di sana.
Satu recovery, agresivitas tinggi, dan kemauan turun membantu pertahanan menjadi nilai tambah. Kehilangan bola lima kali masih dalam batas wajar untuk pemain dengan gaya bermain direct dan progresif.
Menariknya, Malik bermain bersih. Tak satu pun pelanggaran ia buat atau terima—tanda efisiensi dan kontrol emosi.
Jejak Sananta yang Terulang
Publik Makassar tentu ingat bagaimana Bernardo Tavares membentuk Ramadhan Sananta—dari pemain yang dipandang biasa menjadi striker lokal paling efektif di PSM, bahkan menembus timnas.
Pola itu kini mulai terlihat di Surabaya.
Bukan lewat gol beruntun, tetapi melalui proses, kepercayaan, dan disiplin peran.
Malik Risaldi mungkin belum Sananta.
Namun di tangan pelatih yang sama,
jalannya sedang menuju ke sana.
Dan seperti yang pernah terjadi di PSM,
ketika prosesnya matang—
ledakan biasanya hanya soal waktu.





