Artis Prilly Latuconsina membuat geger media sosial setelah memasang status “Open to Work” di LinkedIn pada Senin (26/1/2026). Ia menegaskan, langkah ini diambil bukan karena kekurangan aktivitas, melainkan keinginan keluar dari zona nyaman dan belajar hal baru. Berbekal pengalaman di industri film dan manajemen bisnis, Prilly membuka peluang untuk posisi seperti spesialis penjualan, manajer toko, sales representative, hingga manajer merek.
Tak lama setelah memasang status itu, dia menceritakan di Instagram bahwa ia menerima 32.744 permintaan koneksi di LinkedIn. Dia mengaku terharu sekaligus deg-degan karena banyak perusahaan, organisasi, pelaku usaha, hingga merek yang memercayainya untuk mengerjakan hal-hal di luar dunia hiburan.
Sebagai langkah konkret, Prilly mulai menjajaki dengan selektif agar dapat menjalani setiap pekerjaan dengan penuh tanggung jawab meski sifat pekerjaannya ialah paruh waktu. Dia pun memilih memulai kerja sama dengan merek yang sudah dekat dengannya agar dapat memahami produk secara mendalam dan bekerja secara maksimal. Ia mengungkapkan mulai bekerja sebagai offline sales salah satu merek pada 30 Januari di Summarecon Mall Bekasi.
Reaksi warganet menanggapi langkah Prilly itu terbelah. Sebagian menilai langkah Prilly hingga meraih 32.774 permintaan koneksi di LinkedIn itu sebagai bukti bahwa pencitraan personal atau personal branding yang kuat dan nilai yang jelas bisa memudahkan seseorang memperoleh tawaran kerja. Tidak harus melamar ke banyak tempat atau menjalani proses wawancara panjang.
Banyak pula warganet yang bersikap sebaliknya. Mereka menyebut langkah Prilly sebagai gimik artis untuk kepentingan pekerjaan sebagai duta salah satu produk pasta gigi, dan tidak peduli (tone deaf) dengan pencari kerja lainnya yang belakangan ini berjibaku mengantre cari magang atau berdesakan di bursa kerja.
Terlepas dari gimik artis atau bukan, langkah Prilly tersebut patut diduga telah direncanakan dengan matang sebagai bagian dari personal branding untuk keberlangsungan kariernya, baik mungkin sebagai artis, investor, maupun pebisnis.
Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959) memandang personal branding sebagai proses mengelola kesan individu selayaknya ‘aktor’ di panggung sosial. Goffman juga menekankan, praktik personal branding menuntut narasi diri yang selaras, kurasi konten yang sadar, serta penyesuaian persona dengan audiens yang dituju.
Pendiri dan Direktur Pelaksana Headhunter Indonesia Haryo Suryosumarto, Sabtu (31/1/2026), di Jakarta, berpendapat, langkah pasang status “Open to Work” yang Prilly lakukan menjadi heboh karena dia adalah artis yang sudah punya nama dan dilakukan di LinkedIn. LinkedIn merupakan media sosial paling jarang disentuh oleh artis, dibanding Instagram dan Tiktok.
“Langkah pasang status ‘Open to Work’-nya Prilly jadi berbeda dengan orang lain di Linkedin. Saya melihat Prilly ke depannya ingin dianggap sebagai seorang profesional, dan bukan sekedar artis. Pasti, langkah pasang status itu sudah direncanakan dengan matang sebagai bagian personal branding dia,” ucap Haryo. Apalagi, LinkedIn memungkinkan menjadi kanal alternatif yang menjangkau segmen berbeda dibandingkan Instagram atau Tiktok.
Haryo selalu meyakini personal branding yang baik itu adalah upaya untuk menumbuhkan kepercayaan di jejaring personal yang dibangun secara daring ataupun luring. Karena personal branding sebenarnya dibuat untuk tujuan tertentu, maka satu-satunya hal yang bisa memperkuat pondasi adalah reputasi yang sudah dibangun sebelumnya.
Cara menampilkan diri dalam personal branding perlu disesuaikan dengan modal, keunikan atau keunggulan yang dimiliki, target jaringan, jenis konten, serta platform media sosial yang dioptimalkan. Personal branding biasanya bersifat dinamis mengikuti fase karier seseorang, namun tetap harus dijalankan secara autentik dan konsisten.
“ Perhatikan pula apa yang ditampilkan di media sosial dan bangun interaksi santun dengan siapapun. Sebab, reputasi digital itu sangat rentan ternodai hal kecil,” tutur Haryo.
Sementara itu, Pendiri The Slow Leaders Academy, Andrew Prasatya, berpendapat, dalam konteks pencitraan, baik personal, jasa, maupun produk, hal paling krusial pada fase awal adalah memastikan bahwa “produk” yang diangkat benar-benar berkualitas. Tanpa fondasi kualitas yang kuat, upaya branding tidak akan menghasilkan dampak optimal.
Jika yang dibangun adalah personal branding, pertanyaan utamanya bukan sekadar bagaimana terlihat menarik, melainkan apakah seseorang benar-benar mampu menghasilkan karya atau kinerja yang baik. Personal branding yang hanya berisi narasi tanpa didukung kemampuan nyata cenderung berdampak jangka pendek. Sebaliknya, kualitas kerja yang solid dipadukan dengan personal branding yang tepat mampu menghasilkan efek berkelanjutan.
“Oleh karena itu, pembahasan personal branding untuk tujuan mendapatkan pekerjaan perlu diawali dengan refleksi mendasar: apakah seorang angkatan kerja sudah yakin mampu menghasilkan sesuatu yang benar-benar bernilai?,” ujar dia.
Jika jawabannya belum, langkah berikutnya yang mesti dilakukan seseorang adalah fokus pada peningkatan kapasitas dan kompetensi terlebih dahulu. Sebaliknya, apabila jawabannya sudah, barulah masuk ke tahap menciptakan personal branding dengan menentukan cara bercerita kepada publik yang paling nyaman dan konsisten untuk jangka panjang, baik melalui tulisan, visual, video, maupun siniar.
Andrew menekankan, hal yang paling penting dan harus disadari ialah apa yang mau diperoleh angkatan kerja dari aktivitas personal branding. Jangan sampai sekadar ikut-ikutan dan tidak jelas tujuan yang mau didapat dari personal branding tersebut.
Pada akhirnya, lepas dari isu gimik artis serta anggapan tidak peka terhadap masyarakat pekerja lainnya, polemik pasang status ”Open to Work” Prilly Latuconsina di LinkedIn membawa pesan bahwa personal branding bukan sekadar soal visibilitas atau sensasi, melainkan strategi sadar untuk membangun kepercayaan dan keberlanjutan karier.
Di tengah pasar kerja yang kian kompetitif, personal branding hanya akan berdampak jika ditopang kualitas nyata, tujuan yang jelas, serta konsistensi dalam menampilkan diri yang otentik.



