Rajes tengah mengawasi dua tukang kayu yang sedang sibuk mengukur kayu dinding kapal yang akan diganti karena lapuk di dermaga Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (30/1/2026). ”Mumpung tidak melaut, waktunya digunakan untuk memperbaiki kapal saja” ujar Rajes. ”Kalau kerusakan minor seperti ini, paling cuma habis Rp 300.000 saja,” lanjutnya.
Rajes adalah salah satu pemilik kapal penangkap ikan yang beroperasi di Teluk Jakarta. Karena berukuran kecil, kapalnya biasanya hanya beroperasi kurang dari 24 jam. ”Kalau berangkat pagi dari Muara Angke, nanti sore sudah balik lagi,” katanya. Dengan membawa 15-20 anak buah kapal (ABK), kapal milik Rajes ini biasanya memburu ikan teri dan kembung, tergantung musim.
”Tapi, sudah sejak akhir November lalu kapal ini tidak melaut. Semua ABK sudah saya suruh pulang,” ujarnya. Ombak hingga setinggi 2 meter di Teluk Jakarta menjadi alasan Rajes untuk berlabuh dulu menunggu hingga laut tenang kembali.
Hal yang sama juga diutarakan oleh Trisno. Kapten kapal berukuran 52 gros ton ini lebih memilih menepikan kapalnya sejak dua bulan lalu hingga musim barat berlalu. Musim ombak besar menyebabkan nelayan menunda untuk melaut. Diperkirakan kapal penangkap ikan akan beroperasi kembali mulai awal Maret.
Jika dipantau dari udara, kolam labuh Pelabuhan Muara Angke juga sudah terlihat penuh dengan kapal nelayan. Kapal-kapal itu saling tersambung hingga seakan membentuk ranting pohon. Oleh karena itu, sulit bagi kapal yang sudah berada di posisi paling dalam untuk bergerak keluar.
Kondisi kolam labuh yang penuh ini dikeluhkan para nelayan. Karena parkir yang semrawut, SPBU nelayan yang berada di ujung kolam labuh pun semakin sulit diakses oleh kapal nelayan yang hendak mengisikan solar bersubsidi sebelum berangkat berlayar. ”Kapal jadi sulit dan lama untuk melintasi deretan kapal yang sedang parkir itu,” kata Giyarso, salah satu pengurus kapal di Pelabuhan Muara Angke. ”Bisa sampai 3-4 hari waktu yang diperlukan untuk menuju SPBUN,” ucapnya.
Selain mengganggu aktivitas nelayan, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi keselamatan, terutama terkait proses evakuasi kapal apabila terjadi kebakaran.





