EtIndonesia. Ada seorang perempuan yang dengan berani memperlihatkan “luka” dalam hidupnya kepada dunia. Bukan untuk dikasihani, melainkan untuk menginspirasi. Dan justru karena keberaniannya itu, dia mendapatkan tepuk tangan dan bunga dari banyak orang.
Saat berusia 13 tahun, dia menjalani operasi tulang belakang pertamanya. Dokter menanamkan batang logam dan penyangga besi di punggungnya. Sejak saat itu, dia mulai memanjangkan rambutnya—bukan demi gaya, melainkan untuk menutupi bekas luka operasi di punggungnya.
“Bekas luka itu tidak akan pernah hilang. Dia selalu ada. Itulah kelemahanku,” ujar Jeanette Lee. Setiap kali teringat akan bekas lukanya, perasaannya selalu terpuruk.
“Aku sangat sensitif terhadap punggungku. Bahkan jika ada orang berdiri di belakangku, aku merasa tidak nyaman. Saat makan pun aku selalu memilih duduk membelakangi tembok. Aku sendiri tidak tahu mengapa,” katanya.
“Dia selalu menjadi perempuan paling mencolok di arena,” tulis James, kolumnis BBC.
Rambut panjang hitam menjuntai, atasan hitam tanpa lengan, sarung tangan hitam khusus, celana kulit ketat, serta sepatu hak tinggi runcing berwarna hitam—penampilannya tampak garang dan memikat. Namun sebenarnya, itu bukan sekadar gaya “cool”, melainkan cara untuk menutupi kekurangannya.
“Aura dan sisi sensual yang kumiliki sekarang berasal dari latihan biliar yang keras,” katanya.
“Biliar adalah olahraga yang emosional, teknis, dan penuh keanggunan. Aku menyukainya, itulah sebabnya aku terus bertahan hingga hari ini.”
Dalam masa panjangnya melawan penyakit, dia bertemu dengan pria yang kemudian menjadi suaminya, George Billey. Saat itu dia berusia 25 tahun dan telah bermain biliar selama 7 tahun. Dia mulai memahami bahwa bagi seorang perempuan, keluarga juga merupakan simbol kesuksesan—namun hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk terus bersinar di meja biliar.
Namun justru perempuan yang selama ini begitu menutupi bekas lukanya itu, suatu hari membuat keputusan yang mengejutkan dunia.
Sebuah majalah mode ternama dunia merilis seri pemotretan terbaru para selebritas. Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi merasa malu dengan tubuh yang pernah dioperasi. Rambut hitam panjang yang biasa menutupi punggungnya kini diangkat. Dia dengan berani memperlihatkan bekas lukanya kepada publik.
Ketika wartawan bertanya dari mana keberanian itu datang, dia menjawab: “Setiap perempuan memiliki luka. Ada yang di tubuh, ada yang di hati. Penderitaan itu tidak menakutkan. Jika kamu mampu mengendalikan dan menaklukkannya, penderitaan justru akan menjadi sebuah kalung—yang membuatmu semakin indah.”
Dialah Jeanette Lee, juara dunia biliar wanita yang sangat dicintai para penggemar—sosok legendaris di meja biliar yang penuh percaya diri dan bercahaya, dikenal dengan julukan “Black Widow” (Janda Hitam).
Banyak kisah tentang dirinya terdengar nyaris tak masuk akal—namun semuanya nyata.Konon dia pernah berlatih biliar selama 37 jam berturut-turut hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dia juga menggunakan plester plastik untuk mengikat posisi tangannya siang dan malam demi menjaga presisi.
Setiap malam sebelum tidur, dia membutuhkan satu jam penuh hanya untuk mengoleskan obat, lalu meminta suaminya memijat tubuhnya.
“Aku hanya ingin menikmati kebahagiaan bermain biliar dan berolahraga bersama keluargaku,” katanya. “Aku harus melakukan yang terbaik—melakukannya untuk semua orang yang sedang menderita. Lee, kamu hebat!”
Dia tidak tumbang. Justru dalam penderitaan, dia terus bangkit berkali-kali. Penderitaan menempa tekad dan keyakinannya jauh lebih kuat daripada batang logam dan penyangga besi di punggungnya.
Hasilnya pun nyata.
Kurang dari satu tahun sejak bergabung dengan Women’s Professional Billiard Association (WPBA) Amerika Serikat, dia sudah masuk dalam 10 besar pemain biliar profesional wanita dunia.
Pada tahun 1994, dia meraih gelar juara Baltimore Championship dan Washington Championship di nomor 8-ball. Setelah itu, satu demi satu trofi 9-ball berhasil dia bawa pulang. Tahun 1996, dia menjuarai WPBA Player of the Year dan menduduki peringkat dunia nomor satu.
Sebagai atlet biliar wanita keturunan Asia, pencapaian ini bukanlah hal yang mudah. Hingga hari ini, dia telah menjadi ikon dan simbol kelas dunia dalam cabang biliar 9-ball wanita.
Warna hitam membuatnya tampak indah. Namun penderitaanlah yang membuatnya melampaui sekadar keindahan.(jhn/yn)


