Jelang Imlek, Pusat Perbelanjaan Jadi Ruang Perayaan Bersama

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Lampion merah, ornamen shio, dan alunan musik khas mulai menghiasi pusat-pusat perbelanjaan serta kawasan keramaian menjelang perayaan Imlek. Suasana meriah itu tak hanya menandai datangnya tahun baru penanggalan Tionghoa, tetapi juga menghidupkan kembali ruang publik, berbelanja, dan merayakan harapan.

Di halaman lobi Queen City Mall, pengunjung langsung disambut dengan gapura megah bergambar kuda, simbol Imlek tahun ini. Dekorasi yang berdiri megah tersebut seolah memang diberikan sebagai ruang berswafoto untuk turut dalam kemeriahan, Sabtu (31/1/2026).

Sementara itu, di bagian dalam mal tampak deretan stan menghadirkan pernak-pernik khas Imlek, dari gantungan kunci sampai busana bernuansa merah dan emas. Shinta penjaga salah satu stan mengatakan baru buka sepekan terakhir.

”Baru buka sekitar seminggu ini, mudah-mudahan mendekati Imlek makin ramai, apalagi kondisi ekonomi sekarang, kan, masih terasa berat,” ujarnya. Ia berharap, dagangannya bisa turut terdongkrak dari banyak pengunjung yang datang ke mal.

Perayaan Imlek yang kini tampil terbuka di ruang publik merupakan perubahan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Pada masa Orde Baru, segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa sempat dibatasi. Kemudian, di era Reformasi, Imlek diakui sebagai hari raya dan telah menjadi bagian dari budaya.

Upaya para pedagang tersebut sepertinya juga sejalan dengan strategi pengelola pusat perbelanjaan yang memoles ruang-ruang publiknya secara tematik hari raya. Dekorasi yang dihadirkan tidak hanya menjadi penanda budaya, tetapi juga menjadi daya tarik untuk mengundang warga datang.

Beberapa toko pakaian di DP Mall bahkan sudah memajang koleksi terbaru mereka dengan menyelipkan warna merah sebagai padu padan pakaian. Promosi berupa potongan harga juga mulai mereka pasang agar pengunjung berbelanja.

Semarak Imlek di pusat perbelanjaan tak bisa dilepaskan dari karakter Kota Semarang yang sejak lama lekat dengan budaya Tionghoa. Akulturasi yang tumbuh selama ratusan tahun itu terekam dalam denyut kehidupan kotanya. Mulai dari tradisi kuliner serta banyaknya perayan budaya yang terus hidup berdampingan dengan budaya lokal setempat.

Baca JugaSaat ”Korban” Konten Tiktok Puas dengan Durian Desa Duyung
Baca JugaMereka yang Mengabdi untuk Anak-anak Telantar

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Update Longsor Cisarua Bandung Barat: Total 60 Kantong Jenazah Dievakuasi, 20 Korban Masih Hilang
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Cuaca Ekstrem, BNPB Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Bertemu Tokoh Oposisi, Ini yang Dibahas
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Rumor Panas Bomber Asing Baru PSM Makassar Setelah Luka Cumic, Tomas Trucha Isyaratkan Lepas Satu Pemain Asing Lagi?
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Perankan DJ di Film Caper, Devano Danendra Sampai Riset Mendalam
• 14 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.