Pantau - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M. Hanif Dhakiri, menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 28–29 Januari sebagai alarm serius bagi sektor keuangan nasional.
Menurut Hanif, penurunan tajam IHSG mencerminkan adanya persoalan struktural dalam pasar modal Indonesia yang perlu segera dibenahi.
"Kalau terkait dengan pasar saham kita, memang saat ini punya masalah-masalah struktural yang harus dibenahi. Ketika kemarin sempat jeblok beberapa kali dan bahkan terancam di-downgrade oleh MSCI, tentu saja ini menjadi persoalan," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa permasalahan di sektor keuangan dan pasar modal tidak semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika domestik.
Salah satu dinamika tersebut adalah pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) serta beberapa pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dianggap berkaitan dengan anjloknya IHSG.
DPR Minta OJK Lakukan Reformasi MenyeluruhHanif Dhakiri meminta OJK untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap pengawasan dan pengaturan di pasar modal.
"Karenanya, kita minta kepada OJK untuk betul-betul melakukan pengawasan dan pengaturan yang baik, guna memastikan kualitas pasar modal Indonesia menjadi lebih baik," ia mengungkapkan.
Menurutnya, pembenahan pasar modal tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh seluruh aspek tata kelola.
Hanif menekankan bahwa tantangan yang dihadapi otoritas keuangan saat ini semakin kompleks, sehingga dibutuhkan kebijakan yang tegas dan kredibel.
"Oleh karenanya, pekerjaan dan tantangan yang dihadapi OJK untuk benar-benar bisa meregulasi dan menguasai pasar modal kita harus kita dorong agar lebih baik," katanya.
Komisi XI DPR RI saat ini masih memantau proses transisi di OJK dan BEI agar tidak terjadi kekosongan kebijakan yang dapat memperburuk sentimen pasar.
Komisi XI juga berencana memanggil OJK untuk membahas situasi ini secara khusus.
"Mungkin nanti kita akan ketemu dengan OJK, dan akan kita bahas secara khusus persoalan ini," ungkap Hanif.


