Profil Friderica Widyasari Dewi: Ketua OJK Baru Gantikan Mahendra Siregar

mediaindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita

PETA kepemimpinan otoritas keuangan Indonesia mengalami perubahan signifikan awal tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menunjuk Friderica Widyasari Dewi untuk memegang tampuk kepemimpinan tertinggi, menggantikan Mahendra Siregar yang telah mengakhiri masa jabatannya lebih awal.

Penunjukan wanita yang akrab disapa "Kiki" ini menandai sejarah baru. Ia bukan hanya membawa perspektif segar dalam pengawasan industri keuangan yang makin digital, namun juga mempertegas peran kepemimpinan wanita di sektor yang selama ini didominasi pria. Berikut adalah profil lengkap dan rekam jejak Friderica Widyasari Dewi hingga menduduki kursi nomor satu di Gedung Sumitro Djojohadikusumo.

Transisi Kepemimpinan OJK 2026

Pergantian ini terjadi menyusul pengunduran diri Mahendra Siregar bersama beberapa anggota Dewan Komisioner lainnya pada Jumat (30/1) kemarin. Dalam situasi krusial ini, mekanisme internal dan persetujuan pemangku kepentingan menunjuk Friderica, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen, sebagai nakhoda baru untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Baca juga : Pemerintah Diingatkan untuk Segera Buat Regulasi Data dan Privasi dalam Penentuan Arah Penggunaan AI

Poin Penting Transisi 2026:

  • Pejabat Lama: Mahendra Siregar (Ketua DK OJK 2022-2026).
  • Pejabat Baru: Friderica Widyasari Dewi.
  • Fokus Utama: Melanjutkan reformasi IKNB, stabilitas pasar modal, dan penguatan literasi keuangan digital.
Dari Layar Kaca ke Pasar Modal

Sebelum dikenal sebagai teknokrat keuangan yang disegani, Kiki memiliki latar belakang yang unik. Ia pernah berkecimpung di dunia hiburan dan modeling, bahkan menyandang gelar Diajeng Yogyakarta 1994 dan Putri Ayu Yogyakarta 1995. Namun, ketertarikannya pada dunia akademis dan ekonomi membuatnya banting setir sepenuhnya ke sektor pasar modal.

Keputusan untuk meninggalkan popularitas demi mengejar pendidikan di Amerika Serikat menjadi titik balik. Ia membuktikan bahwa stigma "artis" tidak menghalanginya untuk menjadi pemimpin yang kompeten di industri yang sangat teknis dan penuh regulasi.

Baca juga : Peringati Hari Ibu, OJK Gelar Edukasi Keuangan bagi Anggota KOWANI

Rekam Jejak Pendidikan

Fondasi akademis Friderica sangat solid, mendukung kapasitasnya dalam merumuskan kebijakan ekonomi makro maupun mikro:

  • S1 Ekonomi: Universitas Gadjah Mada (UGM), lulus 2001.
  • S2 (MBA): California State University, Fresno, Amerika Serikat (2004).
  • S3 (Doktor): Universitas Gadjah Mada (2019) dengan predikat Cumlaude. Disertasinya berfokus pada kepemimpinan dan inovasi kebijakan.
Perjalanan Karier: Menaklukan Bursa hingga OJK

Sebelum mencapai puncak pimpinan OJK di tahun 2026, Friderica telah malang melintang di berbagai posisi strategis Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal Indonesia:

Periode Jabatan Strategis 2009 - 2015 Direktur Pengembangan Pasar PT Bursa Efek Indonesia (BEI). 2015 - 2016 Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). 2016 - 2019 Direktur Utama PT KSEI. 2020 - 2022 Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas. 2022 - Jan 2026 Anggota DK OJK (Kepala Eksekutif Pengawas PEPPU). 2026 - Sekarang Ketua Dewan Komisioner OJK. Prestasi dan Gaya Kepemimpinan

Selama menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (2022-2026), Kiki dikenal sangat vokal dalam memberantas investasi bodong dan pinjaman online (pinjol) ilegal. Ia sukses menginisiasi berbagai program edukasi masif yang menjangkau daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Pada tahun 2025, ia bahkan menerima penghargaan "Outstanding Leader in Financial Services" dan BIG 40 Awards atas dedikasinya dalam tata kelola perlindungan konsumen. Gaya kepemimpinannya dinilai komunikatif namun tegas, sebuah kombinasi yang dibutuhkan OJK di tengah volatilitas ekonomi global 2026.

Tantangan di Depan Mata

Sebagai Ketua OJK yang baru, Friderica menghadapi tantangan berat, termasuk:

  • Pengawasan aset kripto yang kini sepenuhnya berada di bawah OJK.
  • Menjaga stabilitas sektor perbankan di tengah fluktuasi suku bunga global.
  • Memastikan transisi digitalisasi bank perekonomian rakyat (BPR) berjalan mulus.

Publik kini menanti tangan dingin "Srikandi Pasar Modal" ini dalam membawa Otoritas Jasa Keuangan menjadi lembaga yang lebih responsif, transparan, dan berwibawa. (Z-10)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Serangan Separatis di Balochistan Pakistan Tewaskan Delapan Polisi
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Zodiak yang Paling Hobi Tidur di Akhir Pekan
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
5 Makanan Khas Imlek Selain Kue Keranjang, Punya Makna Mendalam soal Kehidupan, Apa Saja?
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Harga Perang Taiwan: 100 Ribu Korban, Ekonomi Ambruk, dan Risiko Kudeta di Beijing
• 13 jam laluerabaru.net
thumb
Sinopsis Drama China Once More Love in 1995, Kisah Cinta Lintas Waktu yang Penuh Emosi
• 17 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.