Penulis: Kunta Bayu Waskita
TVRINews - Port-au-Prince, Haiti
Sebastien Migne tercatat sebagai pelatih Piala Dunia pertama yang membawa tim lolos tanpa pernah berada di negara yang ia tangani.
Sebastien Migne menorehkan salah satu kisah paling unik dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia 2026. Pelatih asal Prancis itu sukses membawa Timnas Haiti lolos ke Piala Dunia 2026, meski belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di negara tersebut.
Keberhasilan tersebut dipastikan setelah Haiti mengalahkan Nikaragua 2-0 pada laga penentuan Grup C kualifikasi zona CONCACAF di Stadion Ergilio Hato, Willemstad, Curacao, 19 November 2025 lalu.
Itu merupakan sebuah stadion netral yang digunakan Haiti karena mereka tidak dapat memainkan laga kandang di negaranya sendiri akibat kondisi keamanan yang buruk.
Hasil itu menutup kampanye kualifikasi yang penuh kejutan. Di bawah arahan Migne, Les Grenadiers keluar sebagai juara grup, mengungguli tim-tim yang lebih diunggulkan seperti Honduras dan Kosta Rika.
Pencapaian ini juga mengakhiri penantian panjang selama 52 tahun, setelah terakhir kali Haiti tampil di Piala Dunia pada edisi 1974 di Jerman Barat.
Namun di balik keberhasilan itu, terdapat tantangan luar biasa yang jarang dihadapi pelatih tim nasional lainnya. Kondisi keamanan di Haiti yang terus memburuk membuat Migne mustahil untuk bekerja langsung dari dalam negeri.
Kekerasan dan kerusuhan sipil yang telah berlangsung bertahun-tahun, serta terhentinya penerbangan internasional, memaksa sang pelatih mengelola tim sepenuhnya dari jarak jauh.
“Tidak mungkin untuk berkunjung ke Haiti karena terlalu berbahaya,” kata Migne dikutip dari France Football. “Saya biasanya tinggal di negara tempat saya bekerja, tetapi saya tidak bisa di sini. Tidak ada lagi penerbangan internasional yang mendarat di sana,” mantan pelatih Ginea Ekuator itu menambahkan.
Situasi tersebut menjadikan Migne sebagai pelatih Piala Dunia pertama yang membawa tim lolos tanpa pernah berada di negara yang ia tangani.
Kondisi ini berdampak langsung pada operasional tim. Haiti tidak bisa memainkan pertandingan kandang di negaranya sendiri dan harus bermarkas sekitar 800 kilometer jauhnya, yakni di Curacao.
Selain itu, seluruh pemain Haiti saat ini berbasis di luar negeri, mayoritas di Eropa dan Amerika Utara. Tantangan koordinasi, pemantauan performa, hingga pembentukan identitas permainan harus dilakukan Migne melalui komunikasi jarak jauh dan pemusatan latihan singkat.
Meski demikian, pendekatan tersebut justru melahirkan tim yang disiplin dan kompetitif. Gelandang Wolverhampton Wanderers kelahiran Prancis, Jean-Ricner Bellegarde, misalnya, kini menjadi figur sentral di lapangan sekaligus simbol dari identitas diaspora Haiti yang dibangun berdasarkan arahan Migne.
Media-media di Eropa menyebut keberhasilan ini sebagai bukti bahwa stabilitas taktik dan kejelasan peran pemain dapat mengatasi keterbatasan yang dialami pelatih berusia 53 tahun itu.
Keberhasilan Migne juga membuka peluang baru bagi Les Grenadiers untuk memperkuat skuad menjelang Piala Dunia. Penyerang Sunderland berdarah Haiti dan Prancis, Wilson Isidor, masuk radar Migne dan federasi Haiti. Ia mengakui bahwa tampil di Piala Dunia menjadi mimpi besar baginya.
“Saya ingin menetapkan tujuan untuk pergi ke Piala Dunia, itu akan selalu menjadi mimpi. Saya punya dua pilihan: Prancis dan Haiti. Haiti sudah menghubungi saya, tapi saya belum membuat keputusan,” ujar Isidor dikutip dari L’Equipe.
“Saat ini saya masih fokus pada klub saya. Kalau di Timnas Prancis, saya mengenal para pemainnya, dan saya pernah bermain bersama mereka serta melawan mereka,” ia menambahkan.
Bagi Haiti, kelolosan ini lebih dari sekadar prestasi olahraga. Sejumlah media internasional menyebut Timnas Haiti kini menjadi simbol harapan dan persatuan di tengah krisis berkepanjangan.
Sedangkan bagi Sebastien Migne, keberhasilan ini menegaskan reputasinya sebagai pelatih yang mampu bekerja dalam kondisi ekstrem, membawa sebuah negara konflik ke Piala Dunia.
Editor: Kunta Bayu Waskita




