JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) merayakan hari jadi ke-100 pada hari ini, Sabtu (31/1/2026).
Ini adalah kali kedua NU merayakan satu abad usianya. Sebelumnya, pada 7 Februari 2023 NU jug pernah merayakan resepsi 1 abad Nahdlatul Ulama untuk tahun hijriah di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur.
Perayaan 1 abad NU saat itu mengambil tema "Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru.
Kini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kembali menggelar hari lahir ke-100 versi tahun masehi.
Baca juga: 1 Abad Nahdlatul Ulama, Wapres Harap NU Berkembang Sesuai Zaman
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan, tema yang akan digunakan adalah "Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia".
Dia bilang, tema tersebut merupakan kelanjutan dan menjadi visi besar yaitu Membangun Peradaban yang juga menjadi cita-cita berdirinya Jamiyyah NU. Tema itu juga berkesinambungan dengan Harlah 1 Abad NU versi Hijriah.
"Oleh sebab itu, PBNU memulai dengan tageline Merawat Jagat Membangun Peradaban karena kita memahami bahwa jamiyyah ini didirikan dengan visi untuk membangun peradaban. Itu berarti bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, bukan hanya untuk kaum mukminin, tapi juga untuk seluruh umat manusia," ucap dia.
Sejarah berdirinya NUNU memiliki jumlah anggota berkisar 40 juta orang (2013) hingga lebih dari 95 juta orang (2021).
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 atau 16 rajab 1344 H di Surabaya, Jawa Timur, oleh KH Hasyim Asy'ari, kakek dari mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Sejak awal berdiri hingga sekarang, NU cukup berperan aktif dalam berbagai bidang, termasuk agama dan politik.
Berdirinya organisasi NU bermula dari dibentuknya kelompok-kelompok diskusi yang terdiri atas sejumlah ulama.
Jauh sebelum NU berdiri, pada 1914, KH Wahab Chasbullah lebih dulu mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran atau yang disebut juga Nahdlatul Fikr atau Kebangkitan Pemikiran.
Tujuan didirikannya Nahdlatul Fikr adalah untuk memberikan pendidikan sosial-politik kepada kaum santri.
Baca juga: 8 Ulama Besar Akan Buka Resepsi 1 Abad Nahdlatul Ulama
Dua tahun berselang, pada 1916, para kiai pesantren mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan atau Kebangkitan Tanah Air, yang bertujuan untuk melawan penjajahan Belanda.
Kemudian pada 1918, organisasi serupa juga turut didirikan yang disebut Nahdlatul Tujjar atau Kebangkitan Saudagar.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489025/original/038036600_1769777505-eks_menteri_agama.jpg)


