Liputan6.com, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam meminta pemerintah mengkaji ulang keanggotannya di Board of Peace (BoP) atau badan perdamaian Gaza bentukan Donald Trump. Gus Salam merupakan cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
"Apa keanggotaan Indonesia dalam BoP jawaban kemerdekaan Palestina. Padahal, BoP diinisiasi, diskemakan dan dipimpin oleh Donald Trump, Presiden Amerika, setelah wilayah Gaza hancur lebur, luluh lantak, menewaskan 71.000 warga Palestina, ulah biadab dari Zionis Israel dibackup Amerika," ucapnya, Sabtu (31/1/2026).
Advertisement
Menurut Gus Salam, BoP bukan lembaga resmi bentukan PBB. BoP dibentuk oleh Donald Trump dengan membawa mandat Resolusi 2803 DK PBB serta mengatasnamakan perdamaian untuk Gaza setelah kesepakan damai Israel dan Hamas pada Oktober 2025. Dan, itupun tidak menghentikan agresi militer Israel di Tepi Barat, Palestina, hingga sekarang.
"Faktanya, Donald Trump menjadi ketua, sekaligus mewakili Presiden Amerika sebagai anggota BoP. Satu sosok dengan dua wajah, yang bila tidak menjadi presiden Amerika pun, Donald Trump tetap menjadi ketua BoP yang secara konstitusional memiliki hak veto. Dengan demikian, kedaulatan sebuah negara sebagai anggota BoP akan tunduk pada keputusan ketua. Inikah yang diinginkan Indonesia?" ucapnya.
Katib PBNU priode 2015-2018 itu berkata, jangan salah menilai kiai-ulama pesantren yang seringkali dipahami berpikir tradisional. Dalam sejarahnya, pandangan geopolitik kiai-ulama bisa menembus batas-batas negara dan benua. Memiliki ketajaman empati kemanusiaan yang tidak bisa dihalangi tembok teritori maupun keterbatasan materi, terutama untuk kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina.
"Kiai-ulama pesantren melalui Ketua Umum PBNU, KH Mahfudz Siddiq, 19 Ramadlan bertepatan 12 November 1938, sebelum Indonesia merdeka, menyerukan ormas Islam agar bersikap tegas dan bahu membahu dengan rakyat Palestina, berjuang demi agama dan memerdekakan tanah air mereka dari kolonial dan komplotan zionisme," ucap Gus Salam.
Seruan tersebut, kata Gus Salam, menjadi sikap tegas ulama dan jam’iyyah NU, dulu hingga sekarang. Palestina fond; penggalangan dana Palestina, pekan rajabiyah dan qunut nazilah digerakkan kiai-ulama di penjuru tanah air untuk menguatkan solidaritas kemanusiaan dan keagamaan.
"Larangan dari penguasa Hindia Belanda waktu itu, tidak menyurutkan kiai NU untuk terus menggalang solidaritas dan bantuan. Demikian pula dilakukan rakyat Indonesia hingga saat ini, berbentuk Rumah Sakit, Masjid, bantuan kemanusian dan solidaritas untuk Palestina. Solidaritas terjadi timbal balik," ujar Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, 2018-2023.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489335/original/083734100_1769843802-InShot_20260130_155146781.jpg.jpeg)

