Bisnis.com, PEKANBARU -- Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan seluruh korban insiden ambruknya lantai kayu di kawasan cagar budaya Tangsi Belanda, Kecamatan Mempura di Siak, Provinsi Riau, menjadi tanggung jawab penuh pemkab.
Afni menyebut insiden ambruknya lantai kayu gedung Tangsi Belanda itu terjadi saat rombongan pelajar Sekolah Dasar Islam Kreatif (SDIK) Lubuk Dalam, melaksanakan kegiatan belajar lapangan.
Begitu menerima informasi kejadian, dirinya langsung menuju lokasi dan mendampingi para korban di ruang perawatan medis sebelum orang tua masing-masing tiba.
“Saya langsung menemani anak-anak di ruang perawatan, menguatkan mereka. Kami pastikan seluruh korban tertangani dengan baik,” ujar Afni dalam akun instagram resminya, Sabtu (31/1/2026).
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Siak, total korban terdampak dalam kejadian tersebut sebanyak 16 orang.
Dari jumlah tersebut, 10 korban dirujuk ke RSUD Tengku Rafi’an Siak, enam orang menjalani observasi dan telah dipulangkan, sementara satu korban dirujuk lanjutan ke rumah sakit di Pekanbaru untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga
- Bank Riau Kepri Syariah (BRK) Himpun DPK Rp25,7 Triliun sepanjang 2025
- Target Setoran Pajak Riau 2026 Capai Rp22,16 Triliun, DJP Minta Dukungan Pemprov
- 10 Kabupaten Kota di Riau Terdampak Karhutla, Lahan Terbakar 59,38 Hektare
“Alhamdulillah kondisi korban stabil. Luka di kepala sudah ditangani dengan baik. Rujukan lanjutan dilakukan untuk memastikan tidak ada cedera internal,” jelas Afni.
Dia menjelaskan insiden terjadi akibat ambruknya lantai kayu hasil revitalisasi yang seharusnya masih dalam kondisi kokoh. Namun, lantai tersebut mengalami penumpukan beban di satu titik saat para siswa berkumpul.
“Tentu penyebab pastinya akan diteliti lebih lanjut oleh pihak kepolisian,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Siak menutup sementara seluruh objek wisata, museum, dan cagar budaya yang memiliki lantai dua, mengingat usia bangunan yang mencapai 1–2 abad.
Dia juga menyebutkan bahwa Forkopimda Kabupaten Siak telah turun langsung ke lokasi. Selain itu, Pemkab Siak telah berkoordinasi dengan anggota DPR RI untuk menyampaikan laporan kejadian kepada Menteri Kebudayaan.
“Kami berharap perhatian serius dari pemerintah pusat. Cagar budaya dan museum ini bukan hanya milik Siak, tapi warisan sejarah bangsa yang menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Afni menekankan pentingnya perhatian negara terhadap kondisi bangunan bersejarah agar kejadian serupa tidak terulang, mengingat sebelumnya juga pernah terjadi insiden di lokasi yang sama.
Selain penanganan medis, Pemkab Siak juga memberikan pendampingan trauma healing kepada para pelajar agar tidak mengalami trauma berkepanjangan.
“Untuk sementara lokasi kami tutup, tapi anak-anak tetap kami beri semangat agar tidak takut belajar mengenal sejarah dan budaya,” pungkas Afni.
Adapun, komplek cagar budaya Tangsi Belanda memiliki sejarah di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kompleks bangunan itu telah selesai dipugar Kementerian Pekerjaan Umum, dan berlokasi di pinggir sungai Siak.
Bangunan yang megah di zamannya tersebut telah berdiri sejak tiga abad silam atau tepat pada abad ke 18, atau pada masa Sultan Siak ke-9, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin, sultan yang berkuasa sejak tahun 1827-1864.
Dalam kompleks tangsi atau benteng itu terdapat enam unit bangunan yang membentuk formasi melingkar dengan halaman di bagian dalam yang memiliki beragam fungsi seperti sebagai penjara, asrama, kantor, gudang senjata, dan logistik. Tangsi Belanda ini didirikan setelah pembangunan Istana Siak.


