Serba-serbi Harlah ke-100 NU

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Harlah ke-100 di Istora Senayan, pada Sabtu (31/1). Acara ini digelar meriah, dengan mengusung tema "Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Mulia".

Sejumlah tokoh hadir pada acara ini, mulai dari Sinta Nuriah Wahid, Yenny Wahid hingga ketua MPR Ahmad Muzani. Berikut rangkumannya.

Menag hingga Sinta Wahid Hadiri Puncak Harlah Ke-100 NU

Perayaan puncak Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1). Pantauan kumparan menunjukkan kehadiran tokoh dari pemerintah, lembaga negara, serta elite partai politik di lokasi acara yang mengusung tema besar “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”.

Pantauan kumparan di lokasi sekitar pukul 09.40 WIB, tampak sejumlah tokoh sudah berada di bangku VIP. Perwakilan dari pemerintah hadir Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang duduk di samping Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

Selain itu, tampak pula tokoh lainnya seperti istri presiden ke-4 Sinta Nuriyah Wahid bersama putrinya Yenny Wahid serta Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua DPD Sultan Bahtiar Najamuddin di antara undangan yang hadir pada puncak acara tersebut.

Lalu, hadir pula sejumlah tokoh dari elite partai politik yaitu ketua umum PPP Muhamad Mardiono, Presiden PKS Al Muzzammil Yusuf, dan Sekjen Golkar Sarmuji.

Gus Yahya Singgung Hujan dan Dinamika Internal PBNU

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam sambutannya pada puncak peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) menyinggung hujan lebat yang turun di pagi hari dan dinamika internal yang sempat terjadi di tubuh organisasi sebelum perayaan digelar. Ia mengaitkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses menuju peringatan satu abad NU.

“Alhamdulillah. Bapak Ibu yang saya hormati, syukur kepada Allah SWT. Setelah didahului dengan hujan lebat pagi tadi, dan juga didahului dengan dinamika yang tidak kalah lebatnya, hari ini kita rayakan, kita peringati Harlah 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama sebagai Nahdlatul Ulama yang satu,” kata Gus Yahya.

Gus Yahya kemudian memaparkan tema besar acara puncak Harlah yaitu “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, yang menurutnya mencerminkan kesamaan visi dan idealisme NU dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan bahwa kita semua, sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ujarnya.

Gus Yahya: Visi dan Misi NU Sebangun dengan Proklamasi Indonesia

Gus Yahya juga menegaskan bahwa visi dan misi PBNU sepanjang sejarah berdirinya organisasi ini sejalan dan sebangun dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia mengatakan hal itu dalam sambutan yang disampaikan pada puncak Harlah ke-100 NU di Istora Senayan.

“Kenapa mengawal Indonesia merdeka? Karena visi dan idealisme Nahdlatul Ulama sama dan sebangun dengan visi dan idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Gus Yahya.

Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa visi yang diusung NU mencakup pelaksanaan ketertiban dunia yang berlandaskan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sebagaimana tujuan organisasi tersebut sejak awal berdiri.

“Apakah visi dan idealisme itu? Yaitu untuk berjuang membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Gus Yahya Jelaskan Ketidakhadiran Prabowo, Rais Aam dan Sekjen PBNU di Harlah Ke-100

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf memberikan penjelasan terkait ketidakhadiran beberapa tokoh penting dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1). Tokoh yang tidak tampak hadir antara lain Presiden RI, Rais Aam PBNU, dan Sekjen PBNU.

“Tapi memang pada saat terakhir, beliau mungkin berhalangan karena ada tugas lain ya. Kami mendengar juga ada beberapa tugas negara terkait tamu-tamu negara yang hadir pada hari ini.” jelas Gus Yahya saat diwawancarai usai acara, merujuk pada ketidakhadiran Presiden RI.

Ia juga menjelaskan alasan ketidakhadiran Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang awalnya direncanakan hadir namun batal karena kondisi kesehatannya.

“Dan tadi dari khotbah yang biasa disampaikan oleh Rais Aam, diwakili oleh salah seorang Rais Syuriyah yaitu Profesor Doktor Kiai Haji Nasaruddin Umar, yang kebetulan juga adalah Menteri Agama Republik Indonesia.” ujar Gus Yahya menambahkan penjelasan soal peran pengganti Rais Aam pada khotbah.

Menag: NU Seperti Keluarga Besar yang Penuh Dinamika tapi Tetap Sakinah

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa NU merupakan sebuah keluarga besar yang memiliki dinamika internal yang beragam, namun tetap menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam organisasi. Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1).

“NU itu seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah,” ujar Nasaruddin dalam sambutannya.

Selain itu, ia menekankan bahwa dalam NU tidak ada yang dianggap sebagai orang luar karena semua anggota saling menerima satu sama lain sebagai bagian dari organisasi.

“Di dalam NU tidak ada orang lain, bahkan orang lain pun menjadi orang dalam dalam lingkungan Nahdlatul Ulama,” tambah Nasaruddin.

"Karena itu, insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini," tambah dia.

Beberapa waktu lalu, PBNU sempat mengalami dinamika masalah kepengurusan. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya sempat diminta mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Ketua MPR: NU Harus Kuat, Sehat, dan Dompetnya Tebal

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) perlu memiliki kekuatan internal dalam berbagai aspek agar tetap berperan strategis dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Muzani dalam puncak Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1).

“Negara perlu NU kuat. Kenapa negara perlu NU kuat? Kalau NU kuat, Indonesia akan kuat,” ujar Muzani dalam sambutannya.

Ia kemudian menguraikan bahwa cara membuat NU kuat adalah dengan memastikan jamaahnya sehat, bekerja, serta memiliki kesejahteraan yang baik.

“Indonesia akan kuat apabila rakyatnya sehat, Indonesia akan kuat apabila rakyatnya bekerja, Indonesia kuat apabila ada sehat, pikirannya sehat, otaknya cerdas, kerjanya ada,” tambah Muzani menekankan hubungan antara kesejahteraan warga dan kekuatan organisasi NU.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tanda Kiamat Makin Dekat, Pakar Buka-bukaan Petaka 2026
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bukan Hanya dapat Pahala, Zikir Juga Bisa Menggugurkan Dosa kata Ustaz Adi Hidayat
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Jokowi di Hadapan Kader PSI Sulsel, Bakal Bekerja Keras dan Mati-matian untuk PSI
• 23 jam laluharianfajar
thumb
7 Makanan yang Tidak Boleh Disimpan di Kulkas
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Polisi Ungkap Kandungan Isi Tabung Whip Pink di Kamar Lula Lahfah
• 23 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.