Medan (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menyosialisasikan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) versi 3 ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut).
"Kami baru launching Simfoni PPA versi 3. Simfoni PPA versi 3 adalah versi manajemen kasus," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Kota Medan, Sumatra Utara, Sabtu (31/1).
Ia menjelaskan bahwa Simfoni PPA versi 3 merupakan perluasan dari Simfoni PPA versi 2.
"Simfoni versi 1 itu adalah kita menerima layanan pengaduan itu secara manual. Jadi versi 1 ini ada orang datang, kemudian kita catat secara manual, baik pelapor yang datang langsung maupun yang melalui telepon. Naik ke versi kedua. Ini sudah secara online. Tidak ditulis secara manual, tetapi sudah lebih memudahkan teman-teman untuk memasukkan data melalui WhatsApp, telepon, kemudian masuk ke dalam sistem kami. Hanya saja versi 2 masih sebatas mencatat data kasus, korbannya siapa, pelakunya siapa, terjadi di mana. Nah perkembangan kasus di-follow up oleh masing-masing UPTD," kata Arifah Fauzi.
Sementara Simfoni PPA versi 3 merupakan penguatan sistem nasional pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tidak hanya berfungsi sebagai basis data aduan, tetapi juga sebagai instrumen utama dalam mendukung proses penanganan kasus secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap laporan kekerasan dapat ditindaklanjuti secara sistematis, terkoordinasi, dan terdokumentasi dengan baik oleh unit layanan terkait, khususnya UPTD PPA dan Dinas PPPA di daerah.
"Kasus-kasus yang dilaporkan kepada kami itu bukan sekadar dicatat, tetapi kita bisa melihat kasus itu sudah sampai di mana. Jadi kalau ada anak melaporkan kasusnya, kemudian dicatat, maka kita bisa melihat, kasus ini sekarang posisinya apa masih perlu pendampingan psikologi, perlu penguatan dalam hal-hal tertentu," kata Menteri Arifah Choiri Fauzi.
Sosialisasi Simfoni PPA versi 3 juga turut dihadiri oleh Dirres PPA-PPO Sumatera Utara Kombes Pol Kristinatara Wahyuningrum.
Baca juga: Keluarga diminta beri edukasi seks pada anak cegah kekerasan seksual
Baca juga: Konten sewa pacar, anak harus dibekali pengetahuan "child grooming"
Baca juga: KPPPA beri dukungan psikologis klinis kasus pencabulan anak Tangsel
"Kami baru launching Simfoni PPA versi 3. Simfoni PPA versi 3 adalah versi manajemen kasus," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Kota Medan, Sumatra Utara, Sabtu (31/1).
Ia menjelaskan bahwa Simfoni PPA versi 3 merupakan perluasan dari Simfoni PPA versi 2.
"Simfoni versi 1 itu adalah kita menerima layanan pengaduan itu secara manual. Jadi versi 1 ini ada orang datang, kemudian kita catat secara manual, baik pelapor yang datang langsung maupun yang melalui telepon. Naik ke versi kedua. Ini sudah secara online. Tidak ditulis secara manual, tetapi sudah lebih memudahkan teman-teman untuk memasukkan data melalui WhatsApp, telepon, kemudian masuk ke dalam sistem kami. Hanya saja versi 2 masih sebatas mencatat data kasus, korbannya siapa, pelakunya siapa, terjadi di mana. Nah perkembangan kasus di-follow up oleh masing-masing UPTD," kata Arifah Fauzi.
Sementara Simfoni PPA versi 3 merupakan penguatan sistem nasional pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tidak hanya berfungsi sebagai basis data aduan, tetapi juga sebagai instrumen utama dalam mendukung proses penanganan kasus secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap laporan kekerasan dapat ditindaklanjuti secara sistematis, terkoordinasi, dan terdokumentasi dengan baik oleh unit layanan terkait, khususnya UPTD PPA dan Dinas PPPA di daerah.
"Kasus-kasus yang dilaporkan kepada kami itu bukan sekadar dicatat, tetapi kita bisa melihat kasus itu sudah sampai di mana. Jadi kalau ada anak melaporkan kasusnya, kemudian dicatat, maka kita bisa melihat, kasus ini sekarang posisinya apa masih perlu pendampingan psikologi, perlu penguatan dalam hal-hal tertentu," kata Menteri Arifah Choiri Fauzi.
Sosialisasi Simfoni PPA versi 3 juga turut dihadiri oleh Dirres PPA-PPO Sumatera Utara Kombes Pol Kristinatara Wahyuningrum.
Baca juga: Keluarga diminta beri edukasi seks pada anak cegah kekerasan seksual
Baca juga: Konten sewa pacar, anak harus dibekali pengetahuan "child grooming"
Baca juga: KPPPA beri dukungan psikologis klinis kasus pencabulan anak Tangsel




