Pantau - Di tengah proyek revitalisasi kelistrikan pascabencana di Desa Pasir Putih, Kecamatan Pining, Gayo Lues, Aceh, dua petugas PLN, Rayyan Zaraary dan Gerry, bekerja keras memulihkan jaringan listrik di antara lumpur, reruntuhan, dan trauma yang belum reda, sambil menyimpan rindu pada kampung halaman mereka yang juga terdampak.
Bertugas Saat Kampung Halaman Masih GelapRayyan Zaraary, pengawas lapangan dari ULP PLN Blangkejeren, mengenakan helm proyek putih, rompi berdebu, dan sepatu boots berlumpur saat menegakkan tiang listrik di desa yang porak-poranda.
Ia tidak bekerja di kampung halamannya sendiri, tetapi di Gayo Lues — wilayah yang juga terdampak bencana.
Ironisnya, saat Rayyan dan Gerry menyalakan listrik untuk masyarakat Gayo Lues, kampung mereka di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, masih gelap gulita, tertimbun lumpur, dan tanpa sinyal.
Bencana besar terjadi setelah hujan turun selama tiga hari tiga malam tanpa henti, mengakibatkan banjir, longsor, dan matinya listrik serta jaringan komunikasi.
"Ger, kek mana nasib orang tua kita? Makan apa mereka di sana?" tanya Rayyan saat jeda bekerja.
"Ya kek orang-orang itu lah… makan nasi pakai indomie," jawab Gerry singkat, sambil melanjutkan pemasangan kabel di antara tiang yang masih miring.
Selama empat hari tanpa kabar dari keluarganya, Rayyan tetap bertugas, menyusuri medan berat dan memperbaiki jaringan listrik meski pikirannya tertambat pada orang tuanya.
Ia teringat mereka setiap kali melihat rumah rusak, batu besar menutupi jalan, atau cerita keluarga yang terpisah akibat banjir.
Ketika sinyal kembali di hari keempat, Rayyan akhirnya bisa menghubungi keluarganya dan mendapat kabar bahwa orang tuanya selamat, meski rumah mereka sempat terendam lumpur.
Tugas, Rasa Empati, dan Pengorbanan PribadiDalam satu kesempatan istirahat, Rayyan membeli dua buah durian seharga Rp200 ribu dari seorang pedagang — harga yang sangat tinggi — sebagai bentuk empati.
Wajah pedagang itu mengingatkannya pada ibunya.
Bagi Rayyan, membantu orang asing di daerah bencana adalah bentuk tidak langsung dari menjaga keluarganya sendiri.
Sudah lebih dari empat bulan ia tidak pulang — dua bulan sebelum bencana, dua bulan setelahnya.
Ia memilih tetap bertugas di Gayo Lues demi mempercepat pemulihan listrik masyarakat, terutama sebelum Ramadhan tiba.
Target tim PLN adalah menghidupkan kembali listrik agar masyarakat bisa menjalani ibadah dalam terang.
Medan kerja sangat sulit: lereng curam, jalur longsor, hingga harus memanggul alat berat karena kendaraan tidak bisa melintas.
Namun, Rayyan percaya bahwa setiap kabel yang tersambung dan lampu yang menyala adalah simbol harapan baru bagi masyarakat.
Di malam yang sunyi, ia sering duduk sendiri di depan barak, menatap langit dan membayangkan wajah orang tuanya, menahan rindu yang tidak ia tahu kapan bisa dituntaskan.
Namun baginya, pengorbanan ini sepadan.
Ia yakin, "dalam logika kemanusiaan pascabencana, kebaikan harus berputar dan solidaritas harus meluas."
Setiap langkah yang ia ambil untuk menyalakan listrik adalah langkah kecil menuju pemulihan kehidupan banyak orang.



