Bisnis.com, SEMARANG - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah menginisiasi pembentukan Central Java Trade & Expo Centre (CJTEC) untuk memperkuat ekosistem ekspor daerah.
Bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, langkah tersebut menjadi bentuk kontribusi Kadin untuk ikut memacu geliat perekonomian di Jawa Tengah.
Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menuturkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah pada 2024 sempat mengalami perlambatan dibanding tahun 2023.
Kondisi tersebut perlu diperkuat dengan memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki Jawa Tengah.
"Mudah-mudahan [CJTEC] ini menjadi pendorong ekonomi Jawa Tengah ke depan. Tantangan kita adalah persaingan ketat dengan kompetitor, perbedaan bahasa, hingga ketegangan geopolitik," kata Nawal Arafah Yasin usai menghadiri peresmian CJTEC pada Jumat (30/1/2026).
CJTEC diharapkan mampu mendampingi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Tengah untuk berani menembus pasar global.
Baca Juga
- Perputaran Ekonomi Besar, tapi UMKM Jateng Masih Kesulitan Tembus Pasar Ekspor
- Sukses Kantongi Rp11,1 T pada 2025, Kota Semarang Siap Promosikan 3 Proyek Investasi Baru
- Tabel KUR Bank Jateng 2026, Pencairan Rp500 Juta segini Angsurannya
Ketua Kadin Jawa Tengah Harry Nuryanto Soediro menjelaskan bahwa CJTEC dirancang sebagai rumah besar bagi ekosistem ekspor di Jawa Tengah.
"Kita banyak tertinggal terkait digitalisasi dan tuntutan standar dari keberlanjutan produk. Karena itu UMKM kita masih mengalami kendala terkait akses pasar, informasi, pemenuhan standar, hingga sistem logistik dan pembiayaan yang efisien," tutur Harry.
Setidaknya ada 6 fungsi strategis yang coba dijalankan CJTEC, yaitu sebagai pusat intelijen data pasar global, rumah kurasi standar produk, hub jejaring dengan atase perdagangan luar negeri, pusat peningkatan kapasitas, fasilitas pembiayaan kompetitif, hingga advokasi kebijakan.
"Hadirnya CJTEC tidak hanya sebagai pusat informasi, melainkan sebagai penguatan ekosistem ekspor dan memperkuat Jawa Tengah sebagai basis UMKM yang berorientasi ekspor," tegas Harry.
Harry berharap inisiatif Kadin Jawa Tengah itu bisa menjadi pionir bagi pengembangan UMKM berorientasi ekspor.
Kolaborasi begitu diharapkan agar Jawa Tengah mampu melangkah lebih cepat dalam menembus pasar global.
Perancang busana sekaligus Anggota Komisi VII DPR-RI Samuel Wattimena, memberi apresiasi atas inisiatif yang dijalankan Kadin Jawa Tengah itu.
Menurutnya, UMKM kategori menengah di Jawa Tengah hanya berkisar di angka 1-2% atau sekitar 1.000-1.250 pelaku usaha.
Untuk bisa menembus pasar internasional, Samuel mengajak pelaku UMKM di Jawa Tengah untuk mulai melek dengan isu keberlanjutan yang jadi preferensi konsumen di negara maju.
Selain itu, narasi produk juga perlu diperkuat untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dengan produk lain.
"Tolong lengkapi dengan narasi yang tepat. Banyak barang tidak terpelihara di Kantor Atase Perdagangan Luar Negeri karena tidak ada data daerah, karakteristik, maupun bahan dasarnya," ujarnya melalui sambungan konferensi jarak jauh.



