Beasiswa LPDP 2026 dan Harapan Kemajuan Industrialisasi Indonesia

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Beasiswa Lembaga Penyedia Dana Pendidikan atau LPDP 2026 menjadi penanda arah baru pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui jalur pendidikan. Transformasi beasiswa LPDP pada tahun ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan pembangunan nasional, terutama program prioritas pemerintah di bidang sains dan teknologi.

Secara resmi, beasiswa LPDP tahap I-2026 dibuka pada 22 Januari lalu. Tahun ini, LPDP membuka kuota sebanyak 5.750 penerima beasiswa. Rinciannya, 1.000 kuota untuk beasiswa Garuda atau jenjang sarjana (S-1), 4.000 kuota untuk jenjang magister (S-2) dan doktoral (S-3), serta 750 kuota dikhususkan untuk program dokter spesialis.

Jumlah kuota tersebut bertambah sebanyak 1.750 penerima dari tahun lalu yang sekitar 4.000 penerima. Penambahan kuota ini seiring dengan adanya suntikan dana Rp 25 triliun dari pemerintah terhadap dana abadi pendidikan (DAP) LPDP pada 2025.

Meskipun demikian, dana tersebut juga diinvestasikan dalam berbagai program, termasuk porsi terbesarnya adalah untuk membiayai penerima beasiswa (awardee) yang sekarang ini masih menempuh pendidikan (on-going). Dengan demikian, jumlah kuota yang tersedia pada tahun ini belum mampu mencapai kuota terbanyak yang pernah diberikan, yakni 10.021 penerima pada 2023.

Baca JugaMengapa Perlu Memperluas Kampus Tujuan Program Universitas Unggulan LPDP?

Berdasarkan laporan tahunan LPDP 2025, hingga 31 Desember 2025, sebanyak 38.715 awardee masih harus didanai dari DAP. Dari jumlah tersebut, penerima beasiswa di bawah naungan LPDP menjadi yang terbanyak dengan 19.040 orang. Sisanya terbagi dalam program beasiswa di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebanyak 12.243 orang, dan Kementerian Agama sebanyak 7.432 orang.

Selain penambahan kuota, berbagai perubahan atau skema baru juga diterapkan. Sedikitnya ada tujuh perubahan yang diterapkan dalam pendaftaran beasiswa LPDP 2026.

Salah satu perubahan yang paling mendasar ialah disatukannya seluruh jenjang beasiswa dalam satu platform yang terintegrasi. Pengintegrasian ini tidak hanya meliputi alur seleksi dan manajemen program, tetapi juga menyatukan berbagai program beasiswa lintas kementerian dan lembaga. Adapun kementerian dan lembaga tersebut meliputi Kemendikdasmen, Kemendiktisaintek, Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, dan LPDP itu sendiri.

Arah baru

Orientasi penyelenggaraan beasiswa LPDP 2026 juga mengalami transformasi yang cukup signifikan. Mengubah dari pendidikan secara umum (education-centric) menjadi lebih fokus pada dampak nyata (impact-driven). Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung realisasi program prioritas pemerintah, terutama di bidang sains dan teknologi.

Sebagai bentuk realisasi dari transformasi tersebut, LPDP mengubah skema beasiswa dari berbasis kategori pendaftar seperti umum, targeted, dan afirmasi menjadi lebih spesifik pada bidang tertentu. Hal ini tecermin dari adanya skema-skema baru, seperti STEM (science, technology, enginering, mathematics) industri strategis, SHARE (social sciences, humanities, art for people, religious studies, economics), perguruan tinggi unggulan, hingga beasiswa kemitraan dan tanpa gelar (non-degree).

STEM industri strategis merupakan program beasiswa yang memiliki fokus pengembangan SDM unggul pada delapan industri strategis. Industri strategis tersebut meliputi pangan, energi, pertahanan, digitalisasi (AI dan semikonduktor), kesehatan, hilirisasi, maritim, serta manufaktur dan material maju. Selain itu, terdapat dua bidang pendukung industri strategis yang meliputi kebijakan publik dan hukum serta bisnis dan ekonomi, serta kewirausahaan dan industri kreatif.

Sementara itu, SHARE merupakan program beasiswa yang memiliki fokus pengembangan SDM unggul di bidang sosial, budaya, keagamaan, humaniora, pendidikan, dan ekonomi.

Baca JugaMembangun Fondasi Ekonomi melalui Talenta Sains dan Teknologi

Selain itu, agar semakin sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional, LPDP juga merilis dan menetapkan daftar perguruan tinggi dan program studi unggulan, baik di dalam maupun luar negeri. Kebijakan tersebut dinilai terasa lebih ketat dan cenderung membatasi pilihan. Berbeda dengan tahun lalu yang lebih bersifat terbuka terhadap pilihan jurusan atau all subject.

Karena itu, pendaftar yang ingin mendaftar di luar daftar kampus yang ditetapkan LPDP harus mencantumkan surat pernyataan diterima tanpa syarat (LoA unconditional) dan sertifikat akreditasi unggul dari kampus tujuan.

Meski demikian, LPDP juga membuka kesempatan lebih luas dengan menghadirkan daftar kampus yang lebih banyak dalam skema kerja sama atau co-funding. Beberapa perguruan tinggi luar negeri terbaik dunia, seperti National University of Singapore (NUS) dan University of Dundee, Britania Raya, masuk dalam daftar kampus yang bisa menjadi tujuan dalam skema tersebut.

Masalah industrialisasi Indonesia

Berbagai skema baru yang dihadirkan dalam beasiswa LPDP tersebut bertujuan mendukung akselerasi industri dan produktivitas domestik. Beasiswa LPDP diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan kualitas SDM di bidang tersebut. Sebab, selama ini, salah satu persoalan struktural industrialisasi Indonesia ialah keterbatasan SDM unggul di sektor riset, pengembangan, dan inovasi.

Industri nasional kerap kuat di sisi produksi, tetapi lemah dalam penguasaan teknologi dan desain nilai tambah. Selain itu, adaptasi teknologi yang relatif berjalan lambat serta keterhubungan riset dengan industri dan pendidikan yang lemah juga masih membayangi persoalan industrialisasi di negeri ini. Kondisi  inilah yang menjadi sebab tingkat produktivitas Indonesia masih jauh dari rata-rata.

Baca JugaPenerima Beasiswa LPDP Dituntut Pulang dan Berkarya untuk Negeri

Berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), selama satu dekade terakhir rata-rata pertumbuhan produktivitas Indonesia hanya sebesar 2,6 persen. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara besar dengan pertumbuhan produktivitas terendah di Asia Tenggara.

Ditambah lagi, terkhusus pada bidang STEM, Bappenas juga melaporkan pada tahun 2023 jumlah sarjana Indonesia di bidang STEM hanya berkisar 18,47 persen. Jumlah ini kalah jauh dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, yang masing-masing mencapai 37,19 persen dan 34,40 persen.

Masalah tersebut serupa dengan kondisi global, dengan terdapatnya keterbatasan SDM berkualitas di bidang STEM. Jika melihat data secara global, kebutuhan pekerjaan berbasis STEM pada tahun 2025 mencapai 3,5 juta pekerjaan. Dari jumlah tersebut baru sekitar 1,5 juta yang terisi. Kondisi ini mengindikasikan adanya kekurangan SDM di bidang STEM.

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) memproyeksi jumlah pekerjaan berbasis STEM dalam kurun 2023-2033 akan tumbuh 10,4 persen. Sekitar tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan pekerjaan di bidang lain.

Melihat tingginya kebutuhan SDM di bidang STEM dan arah pembangunan strategis nasional yang memprioritaskan bidang tersebut, alokasi beasiswa LPDP 2026 harus bisa dimaksimalkan untuk mengatasi persoalan dan tantangan itu. Apalagi, LPDP juga menargetkan 80 persen lebih penerima beasiswa berada di bidang STEM.

Baca JugaTahun 2026, Beasiswa LPDP Disesuaikan dengan Perguruan Tinggi dan Program Studi

Dalam jangka panjang diharapkan para alumnus LPDP akan mampu mendorong transformasi industri terkhusus di bidang STEM berbasis pengetahuan. Dalam konteks hilirisasi, misalnya, Indonesia tidak cukup hanya membangun smelter atau pabrik pengolahan, tetapi juga membutuhkan SDM berkualitas yang memahami rantai nilai secara utuh.

Lebih jauh, hasil dari beasiswa LPDP itu juga berpotensi mempercepat lahirnya ekosistem industri berbasis inovasi. Dengan demikian, dunia industri tidak lagi hanya menjadi pengguna tenaga kerja, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan riset dan teknologi.

Investasi mutu SDM dalam jangka panjang melalui program beasiswa LPDP itu diharapkan kian mengakselerasi cita-cita Indonesia untuk tumbuh sebagai negara maju di dunia. Ke depan, penerima beasiswa yang menjadi aset kemajuan bangsa itu harus lebih ditingkatkan. Dengan demikian, akan semakin banyak anak muda yang dapat berkontribusi bagi kemajuan negeri ini. (LITBANG KOMPAS).


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Taruna Akpol Selamatkan Bocah Hanyut di Sungai Aceh Tamiang
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Masih Suka Menunda Shalat? Ustaz Adi Hidayat Ingatkan Bahayanya
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Donald Trump Sebut Iran Ingin Bikin Kesepakatan, Teheran Tegaskan Hal Ini
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
LEPAS L8 Tawarkan Pengalaman Berkendara yang Intuitif untuk Kebutuhan Sehari-hari
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wamendagri Dorong Pelajar Persiapkan Diri Jadi Pemimpin Masa Depan
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.