Bisnis.com, SURABAYA—Akumulasi pendapatan premi asuransi tercatat sebesar Rp12.312 triliun, tumbuh 1,58% secara tahunan (year on year/ YoY), per November 2025.
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari mengatakan pendapatan premi asuransi itu menunjukkan mulai pulihnya kinerja dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Sebaliknya pendapatan premi asuransi umum tercatat sebesar Rp4,164 triliun, mengalami koreksi 14,44% YoY sejalan dengan penyesuaian aktivitas dan dinamika pasar,” katanya dikutip Minggu (1/2/2026).
Di sisi risiko, kata dia, beban klaim asuransi jiwa menurun menjadi Rp10,749 triliun atau turun 7,74% YoY, sementara beban klaim asuransi umum tercatat sebesar Rp2,501 triliun, turun 12,6% YoY.
Menurutnya, penurunan beban klaim yang signifikan dibandingkan penurunan premi mencerminkan penguatan manajemen risiko, perbaikan kualitas portofolio, serta efektivitas pengendalian klaim.
Secara keseluruhan, rasio klaim total menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan peningkatan kualitas hasil underwriting dan arah pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika perekonomian global dan domestik.
Baca Juga
- Asuransi Wajib Bencana Tak Bisa Lagi Sekadar Wacana
- Premi Asuransi Penyakit Kritis Prudential Capai Rp185 Miliar pada Kuartal III/2025
- Purbaya Mau Kerek Porsi Investasi Dapen & Asuransi ke 20%, Masuk Saham LQ45
Pada industri dana pensiun terus menunjukkan kinerja yang stabil dan konsisten. Pada Oktober 2025, total aset dana pensiun tercatat sebesar Rp4,647 triliun, tumbuh 5,82% YoY.
Total aset bersih mencapai Rp4,627 triliun, juga tumbuh 5,82% YoY. Sementara itu, total investasi dana pensiun tercatat sebesar Rp4,496 triliun, meningkat 5,24% YoY. Pertumbuhan yang stabil ini mencerminkan pengelolaan investasi yang prudent, likuiditas yang terjaga, serta ketahanan dana pensiun dalam memenuhi kewajiban jangka panjang kepada peserta.
Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa industri dana pensiun berada dalam kondisi yang stabil dan berkelanjutan, didukung oleh pengelolaan investasi yang prudent serta keseimbangan yang terjaga antara pertumbuhan aset dan kewajiban.
Pada sektor penjaminan, total aset perusahaan penjaminan meningkat menjadi Rp823 miliar pada November 2025 atau tumbuh 27,45% YoY, mencerminkan penguatan basis aset.
Pendapatan penjaminan tercatat Rp8,137 triliun -2,95% YoY sejalan dengan dinamika aktivitas penjaminan pada periode berjalan.
“Penurunan ini mencerminkan sikap kehati-hatian dalam penerbitan penjaminan serta penyesuaian terhadap profil risiko dan kondisi ekonomi,” ucapnya.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai pendapatan premi asuransi di wilker OJK Jatim menjelang akhir 2025 kinerjanya membaik, meski pendapatan premi asuransi umum menurun.
Hal ini tentu sangat terkait dengan bagaimana pengeluaran masyarakat didasarkan atas pendapatan dan pemenuhan kebutuhan prioritas. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 12% penduduk Indonesia yang memiliki asuransi komersial (diluar BPJS maupun KIS).
Tentunya, kata dia, inklusi asuransi ini harus terus ditingkatkan dan juga jaminan LPS sehingga trust masyarakat pada lembaga asuransi meningkat. Kemudian terkait dengan pengelolaan dana pensiun, yang terus meningkat dari sisi penerimaan dan penyaluran investasi menunjukan tata kelola yang semakin baik. Hal ini mengindikasi semakin banyak tenaga kerja yang masuk ke sistem perlindungan ketenagakerjaan.



