Jakarta, CNBC Indonesia - Habis manis, sepah dibuang, peribahasa ini sepertinya cocok buat menggambarkan kondisi investor yang sudah dibawa roller coaster sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu.
Investor rasa-nya dibawa terbang sampai langit ke-tujuh ketika IHSG reli sampai All Time High (ATH) sekitar level 9100 pada 20 Januari 2026, setelah itu dihempaskan sampai mengalami trading halt dua kali, kembali ke sekitar level 7600.
Pedih, satu kata yang cukup dirasakan bagi investor yang "nyangkut" saat ini, meskipun sebagian orang sudah mulai hijau tipis atau malah cuan luber lagi karena berani serok bawah saham-saham bervalue yang sempat jatuh dalam.
Terlepas dari bagaimana kondisi portofolio kita, yang penting kita tenang dulu, usahakan tetap waras, tidak boleh panik dan jual-jual saham kita.
Kita mulai berbenah untuk deteksi sakit-nya saham yang kita hold itu dimana, biasanya kalau kita merasa panik itu karena terlalu berlebihan masuk di satu atau dua saham, apalagi yang punya saham konglo sampai dibawa mentok Auto Reject Bawah (ARB) pasti sempat merasakan fear.
Namun, disitulah PR yang harus kita kerjakan. Volatilitas pasar mengingatkan kita bahwa bertahan di market bukan hanya soal mencari cuan, tapi juga tentang menjaga disiplin, manajemen risiko, dan kesehatan mental.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar kita lebih tahan banting dan tetap waras menghadapi dinamika pasar:
1. Decluttering Saham
Evaluasi kembali seluruh portofolio.
Sebaiknya, kurangi saham yang strategi-nya untuk trading. Ketika volatilitas market cenderung tinggi dan rawan turun, posisi support seringkali tertembus ke bawah, lebih baik kita keluar dulu untuk amankan modal, nanti bisa masuk lagi ketika tekanan jual sudah mulai reda atau ketika sudah ada sinyal secara teknika..
Untuk saham yang memang ditujukan untuk investasi, masih tetap bisa kita keep HOLD, dengan catatan itu merupakan saham perusahaan yang fundamental-nya masih kuat dan punya prospek pertumbuhan ke depan. Jadi, saat ini kita perkuat cash buffer sembari menunggu area yang optimal untuk average down.
2. Selektif Lagi Pilih Saham
Selanjutnya, bagi yang berencana mulai masuk ke pasar, ada dua sudut pandang yang perlu diperhatikan: investor baru dan investor lama. Untuk investor baru, kondisi saat ini bisa dibilang sebagai "hujan emas", karena mayoritas saham sudah mulai kembali ke valuasi yang lebih murah. Meski demikian, ini bukan berarti langsung menabrak beli saham apa pun. Tetap perlu selektif, dengan fokus pada emiten yang punya fundamental kuat dan valuasi yang masuk akal.
Pendekatan yang sama juga berlaku bagi investor lama, termasuk yang masih berada di posisi nyangkut. Selain menunggu pemulihan pada saham yang masih sejalan dengan tesis awal, opsi melakukan rotasi ke saham lain setelah mengamankan sebagian modal juga patut dipertimbangkan.
Sejauh ini, hingga sekitar Mei 2026, pasar masih dibayangi sejumlah ketidakpastian, terutama terkait isu free float serta menunggu pergantian pejabat di Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Karena itu, strategi yang relatif lebih aman adalah berfokus pada saham-saham value dengan fundamental solid, valuasi murah, atau emiten yang memiliki prospek dividend investing.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari pernyataan Airlangga Hartarto terkait kenaikan batas limit investasi saham untuk dana pensiun dan asuransi menjadi 20%. Kebijakan ini berpotensi membuka upside pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45 dan IDX30.
Menarik pula untuk mencermati saham-saham dengan free float masih di bawah 15%. Jika investor institusi besar mulai masuk, mulai dari dana pensiun, asuransi, hingga BPJS Ketenagakerjaan, kondisi ini bisa menjadi katalis jangka pendek bagi pergerakan harga.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(saw/saw)


