Iran mengeklaim terjadi kemajuan dalam upaya negosiasi dengan Amerika Serikat, meski ketegangan militer masih membayangi kedua negara tersebut.
Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan proses menuju negosiasi tetap berjalan meskipun muncul kekhawatiran akan potensi serangan militer.
“Bertentangan dengan pemberitaan media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi terus mengalami kemajuan,” kata Larijani, dikutip dari AFP, Minggu (1/2).
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Kremlin mengatakan telah mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengonfirmasi adanya komunikasi antara AS dan Iran. Namun, Trump tetap mempertimbangkan ancaman serangan.
“(Iran) sedang berbicara dengan kami, dan kita lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak kita lihat apa yang akan terjadi. Kami memiliki armada besar yang sedang menuju ke sana,” kata Trump kepada Fox News.
“Mereka sedang bernegosiasi,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan konflik berskala besar tidak akan menguntungkan kedua negara. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Pezeshkian menyatakan posisi Iran tetap menolak perang.
“Republik Islam Iran tidak pernah mencari, dan sama sekali tidak mencari perang, dan meyakini sepenuhnya bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan,” ujarnya.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, AS diketahui telah mengerahkan armada lautnya yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan dekat Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran akan konfrontasi langsung, terlebih setelah Trump mengancam intervensi menyusul tindakan keras Iran terhadap aksi protes nasional.
Iran sendiri telah memperingatkan akan melakukan serangan balasan ke pangkalan, kapal, dan sekutu AS, termasuk Israel, jika terjadi serangan militer.
Kepala Staf Angkatan Darat Iran Amir Hatami menegaskan kesiapan militernya dan memperingatkan AS serta Israel agar tidak melancarkan serangan. Hatami juga menegaskan teknologi dan kapabilitas nuklir Iran tidak dapat dihapuskan.
“Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu hal itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” kata Hatami.
Di sisi lain, Qatar turut berperan dalam meredakan ketegangan. Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut Perdana Menteri sekaligus Menlu Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah bertemu Larijani di Teheran untuk berupaya menurunkan eskalasi ketegangan.
Di tengah meningkatnya tensi, Iran juga membantah sejumlah insiden yang terjadi pada Sabtu (31/1) berkaitan dengan serangan atau sabotase. Salah satunya adalah ledakan di Bandar Abbas, yang menurut pemadam kebakaran setempat disebabkan oleh kebocoran gas, bukan serangan militer.





