Grid.ID- Puasa Ramadhan 2026 kembali menjadi momentum spiritual yang sangat dinanti umat Islam di seluruh dunia. Ibadah puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih keikhlasan dan ketulusan niat.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, muncul pertanyaan yang kerap mengemuka, yakni bolehkah puasa Ramadhan 2026 dijalani dengan niat diet? Pertanyaan ini tidak sekadar menyangkut aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh sah tidaknya ibadah dan nilai pahala di sisi Allah.
Sebab dalam Islam, niat menjadi penentu utama diterima atau tidaknya suatu amal. Lantas, bagaimana pandangan fikih Islam terkait puasa Ramadhan 2026 yang disertai tujuan diet?
Puasa dan Kedudukan Niat dalam Islam
Puasa merupakan salah satu ibadah paling mulia dalam ajaran Islam. Ibadah ini menuntut kesungguhan lahir dan batin, karena nilai ibadahnya tidak ditentukan oleh apa yang tampak, melainkan oleh niat di dalam hati. Rasulullah SAW menegaskan prinsip dasar ini melalui sabdanya, “Innamal a‘mālu binniyyāt”, yang berarti setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya.
Al-Qur’an juga menegaskan tujuan utama puasa Ramadhan 2026, yakni membentuk ketakwaan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183. Dengan demikian, puasa tidak sekadar aktivitas fisik, tetapi sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut niat sebagai kompas batin yang menentukan arah sebuah amal, termasuk puasa Ramadhan 2026.
Ketentuan Niat Puasa Ramadhan dalam Fikih
Para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah puasa. Dalam puasa wajib seperti puasa Ramadhan 2026, niat harus mencakup dua unsur pokok, yakni qashdul fi‘li (kesengajaan berpuasa) dan ta‘yīn (penentuan jenis puasa). Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab menegaskan bahwa puasa Ramadhan, qadha, maupun puasa wajib lainnya tidak sah tanpa niat yang jelas.
Oleh karena itu, niat seperti “saya berpuasa untuk diet” tanpa menyebut Ramadhan tidak memenuhi syarat sah puasa Ramadhan 2026. Redaksi niat yang paling sederhana adalah “aku berniat puasa Ramadhan”, sementara redaksi yang lebih sempurna mencakup unsur waktu dan keikhlasan karena Allah semata.
Puasa Ramadhan 2026 dengan Tujuan Diet: Sah atau Tidak?
Dalam praktik sehari-hari, niat diet kerap menyertai puasa Ramadhan 2026, baik disadari maupun tidak. Para ulama mengelompokkan hal ini ke dalam dua kondisi.
Pertama, sebagaimana dikutip Tribun Gorontalo, jika seseorang berniat “puasa Ramadhan sekaligus untuk diet”. Dalam kondisi ini, terdapat perbedaan pendapat ulama. Namun pendapat yang lebih kuat menyatakan puasa tetap sah selama niat Ramadhan disebutkan secara jelas dan tidak tergeser oleh tujuan lain.
Kedua, niat puasa Ramadhan 2026 dilakukan sesuai kaidah fikih, sementara tujuan diet hanya hadir sebagai motivasi tambahan. Dalam kondisi ini, para ulama sepakat bahwa puasa tetap sah karena rukun dan syarat niat telah terpenuhi. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menegaskan bahwa motif tambahan tidak membatalkan ibadah selama tidak merusak niat utama.
Bagaimana Dampaknya terhadap Pahala?
Jika keabsahan puasa Ramadhan 2026 relatif tidak diperselisihkan, maka persoalan pahala menjadi ruang diskusi yang lebih luas. Al-Zarkasyi dan Izzuddin bin Abdissalam berpendapat bahwa ibadah yang dicampuri kepentingan duniawi tidak menghasilkan pahala secara mutlak.
Namun Imam al-Ghazali mengambil posisi moderat. Menurutnya, nilai pahala ditentukan oleh motivasi dominan dalam hati. Jika dorongan ibadah lebih kuat, pahala tetap diperoleh. Jika tujuan duniawi lebih dominan, pahala gugur. Jika seimbang, maka saling meniadakan. Pendapat ini banyak dianut ulama Syafi’iyyah dan dikuatkan oleh Imam al-Ramli.
Sementara itu, Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat lebih longgar. Ia menilai pahala puasa Ramadhan 2026 tetap mengalir sesuai kadar niat ibadah, selama tidak disertai riya’ dan niat ibadah tetap ada.
Manfaat Kesehatan Puasa Ramadhan 2026
Manfaat puasa bagi kesehatan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma‘ad menyebut puasa sebagai sarana menyeimbangkan tubuh dan mencegah penyakit. Bahkan ahli gizi Feda Alkilani dari American Wellness Center Dubai menyebut puasa Ramadhan sebagai bentuk puasa intermiten alami yang efektif untuk menurunkan berat badan, asalkan pola makan dijaga.
Namun Islam menegaskan agar manfaat kesehatan tidak menggeser orientasi utama puasa Ramadhan 2026 sebagai ibadah. Diet boleh menjadi dampak sampingan, tetapi bukan tujuan utama.
Pola Makan dan Olahraga Saat Puasa
Agar tujuan kesehatan tercapai tanpa mengurangi nilai ibadah puasa Ramadhan 2026, para ahli menyarankan fokus pada kualitas makanan dan olahraga yang tepat. James Appleton, instruktur olahraga di Dubai, menyebut waktu terbaik berolahraga adalah setelah sahur atau setelah berbuka puasa.
Dikutip Kompas.com, Sabtu (31/1/2026), kesalahan umum yang membuat berat badan justru naik selama puasa Ramadhan 2026 antara lain makan berlebihan, konsumsi makanan tinggi gula dan gorengan, kurang tidur, serta minim aktivitas fisik. Ahli gizi Yasmine Haddad dan Farah Hillou juga menekankan pentingnya tidur cukup, menghindari minuman manis, serta menjaga konsistensi waktu makan.
Menu Sehat Saat Buka Puasa
Untuk mendukung kesehatan selama puasa Ramadhan 2026, Feda Alkilani menyarankan menu buka puasa yang seimbang. Konsumsi buah dan sayur beragam warna, karbohidrat kompleks, protein bervariasi, produk susu, serta lemak sehat seperti alpukat dan minyak zaitun sangat dianjurkan. Hidrasi juga penting dengan minum air secara bertahap setelah berbuka.
Puasa Ramadhan 2026 dengan niat diet tidak membatalkan ibadah selama niat utamanya adalah ketaatan kepada Allah. Namun kualitas pahala sangat ditentukan oleh dominasi niat dalam hati. Ramadhan menjadi momentum muhasabah untuk meluruskan orientasi hidup.
Berharap sehat bukanlah kesalahan, selama tujuan utama tetap ibadah. Di situlah keindahan Islam tampak.
Ibadah yang tulus mampu menghadirkan manfaat dunia dan akhirat sekaligus. Dengan niat yang lurus, puasa Ramadhan 2026 tidak hanya menjaga tubuh, tetapi juga menjaga hati agar tetap bernilai di sisi Allah. (*)
Artikel Asli



