- Forum Kebangsaan Sinergi Masyarakat Bersama Polri diselenggarakan LSM Penjara 1 di Gedung Joang '45, Menteng, pada 17 Januari.
- Acara ini mendefinisikan ulang keamanan sebagai tanggung jawab kolektif masyarakat dan aparat, bukan sekadar urusan teknis.
- Diskusi menghasilkan usulan seperti Posko Sinergi Lokal dan penguatan literasi digital untuk menjaga ketertiban sosial.
Suara.com - Keamanan sebuah negara seringkali dianggap sebagai urusan mereka yang berseragam. Namun, sebuah pemandangan berbeda terlihat di Gedung Joang ’45, Menteng, Sabtu siang (17/1). Ratusan orang dari berbagai lapisan, mulai dari pengemudi ojek online, mahasiswa, hingga tokoh lintas agama, berkumpul bukan untuk berunjuk rasa, melainkan untuk bicara tentang cara menjaga Indonesia.
Melalui Forum Kebangsaan bertajuk “Sinergi Masyarakat Bersama POLRI”, LSM PENJARA 1 mencoba mendefinisikan ulang makna keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Keamanan bukan lagi soal pendekatan teknis aparat, melainkan tentang ketahanan sosial dan budaya tertib yang dimulai dari meja makan hingga ruang digital.
Kekuatan dari Akar Rumput
Sebanyak 400 peserta memadati ruangan, menciptakan mosaik keberagaman yang unik. Ada tenaga kesehatan yang berdiskusi dengan pelaku UMKM, hingga insan pers yang bertukar ide dengan pekerja informal. Kehadiran mereka menegaskan satu hal: ketertiban adalah kepentingan semua orang.
Teuku Z. Arifin, Ketua Umum LSM PENJARA 1, menegaskan bahwa forum ini bertujuan memecah sekat antara masyarakat dan aparat keamanan.
"Kamtibmas itu tanggung jawab kolektif. Kita ingin membangun jembatan komunikasi yang kuat agar sinergi ini berjalan komprehensif menghadapi tantangan bangsa yang kian kompleks," ujar Arifin di sela-sela acara.
Lebih dari Sekadar Aturan
Menariknya, diskusi ini tidak hanya bicara soal pasal hukum. Para tokoh agama yang hadir menekankan bahwa fondasi keamanan yang paling kuat adalah toleransi dan harmonisasi. Ketenteraman lahir ketika masyarakat memilih untuk menjaga ruang bersama dengan nilai moral, bukan hanya karena takut pada sanksi.
Baca Juga: 19 Tahun Aksi Kamisan, Payung Hitam Terus Menuntut Keadilan di Depan Istana
Beberapa gagasan praktis pun lahir dari lantai diskusi, di antaranya:
- Posko Sinergi Lokal: Usulan pembentukan posko keamanan di tingkat akar rumput.
- Literasi Digital: Penguatan benteng masyarakat terhadap provokasi dan hoaks yang kerap memicu gesekan sosial.
- Forum Rutin: Membuka ruang komunikasi berkala antara warga dan Polri agar masalah di lapangan bisa diselesaikan dengan cara yang lebih humanis.
Warisan Ketertiban
Arifin berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni di Gedung Joang saja. Ia mendorong agar gerakan ini menjadi bola salju yang menciptakan budaya baru dalam bernegara.
"Negara yang besar bukan hanya yang kuat senjatanya, tapi yang kuat ketertibannya," tegas Arifin menutup orasinya.
Baginya, saat Polri melayani dengan presisi dan masyarakat memilih untuk patuh secara sadar, maka keamanan bukan lagi beban, melainkan sebuah warisan keadilan bagi generasi mendatang.



