Menjaga gizi anak terdampak bencana di tenda-tenda pengungsian

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Di tengah hiruk-pikuk penanganan banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Sumatera, perhatian publik kerap tertuju pada seberapa cepat bantuan bergerak dan berapa banyak paket yang berhasil disalurkan.

Truk logistik datang dan pergi, relawan sibuk membagi kardus-kardus bantuan, dan antrean panjang terbentuk di dapur umum.

Namun di balik ritme itu, ada satu hal yang sering luput dari sorotan, yakni kualitas pangan yang dikonsumsi anak-anak yang hidup di tenda-tenda pengungsian.

Bencana tidak hanya memaksa orang bertahan dari hari ke hari, tetapi juga membentuk kondisi yang akan memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.

Bagi mereka yang sedang berada pada masa pertumbuhan, apa yang dimakan hari ini bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan bagian dari fondasi tubuh dan daya pikir mereka di masa depan.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Budi Setiawan, yang turun langsung ke Aceh Tamiang, melihat persoalan ini dari jarak yang sangat dekat.

Di lokasi pengungsian, ia mendapati bantuan pangan yang datang sebagian besar berupa mie instan dan makanan praktis lain.

“Kami melihat langsung di Aceh Tamiang, bantuan yang banyak datang itu mie instan dan makanan praktis lain. Kalau itu terus-menerus dikonsumsi, tentu kurang sehat untuk anak-anak,” ujarnya.

Menurut Budi, pola bantuan seperti ini sering terjadi karena faktor kepraktisan. Makanan dengan daya simpan panjang lebih mudah dikumpulkan, diangkut, dan dibagikan.

Dalam situasi darurat, pilihan tersebut terasa paling masuk akal. Namun di sisi lain, pendekatan seragam ini membuat perbedaan kebutuhan gizi antar kelompok usia menjadi tidak terlihat.

Balita, anak-anak, orang dewasa, dan lansia menerima jenis pangan yang sama, padahal kebutuhan tubuh mereka sangat berbeda.

Bagi balita, masa ini adalah periode penting yang menentukan perkembangan fisik dan kemampuan belajar mereka. Asupan yang kurang seimbang dapat berdampak pada daya tahan tubuh dan kualitas tumbuh kembang dalam jangka panjang.

Pemantauan yang beredar di media sosial dan laporan relawan di lapangan juga menunjukkan hal serupa. Bantuan pangan didominasi mie instan dan produk kental manis. Produk ini memang mudah dibagikan dan tidak membutuhkan pengolahan rumit, tetapi kandungan gizinya kerap disalahpahami.

Baca juga: Menko AHY lepas 19 truk bantuan makanan bagi warga Aceh dan Sumatera

Kental manis, misalnya, masih sering diperlakukan sebagai pengganti susu, padahal kandungan susunya sangat minim dan kadar gulanya tinggi.

Budi menilai, tanpa pemahaman yang tepat, kondisi ini berisiko menimbulkan kebiasaan konsumsi yang kurang sehat bagi anak-anak.



Berorientasi Kebutuhan

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat muncul dalam bentuk masalah kesehatan di kemudian hari, mulai dari gangguan gigi hingga meningkatnya risiko penyakit tidak menular.

Perhatian terhadap balita menjadi semakin penting karena kelompok usia ini belum tersentuh program gizi berbasis sekolah. Mereka sepenuhnya bergantung pada pilihan orang tua dan jenis bantuan yang tersedia di pengungsian.

“Untuk balita yang belum sekolah, ini jadi lebih repot. Mereka belum banyak mendapat perhatian, sementara yang datang justru makanan instan,” kata Budi.

Di lapangan, persoalan ini juga berkaitan erat dengan keterbatasan sarana dasar. Banyak keluarga terdampak belum memiliki tabung gas, kompor, atau peralatan memasak. Tanpa itu, sekalipun bahan pangan yang lebih bergizi tersedia, mereka tetap tidak memiliki cara untuk mengolahnya.

“Kalau mereka sudah punya tempat tinggal sementara dan alat masak, orang tua pasti akan memilihkan makanan yang lebih baik untuk anaknya. Masalahnya, alat-alat itu belum tersedia,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat keluarga tidak punya banyak pilihan selain mengandalkan makanan siap saji yang mudah dikonsumsi. Dalam situasi seperti ini, kualitas bantuan pangan dan dukungan non-pangan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Budi menjelaskan banyak relawan kemudian berupaya mendekati persoalan ini dengan cara yang lebih terarah. Di beberapa lokasi, mereka melakukan pendataan terpisah untuk balita, lansia, dan orang dewasa.

Dari data tersebut, mereka mencoba menghadirkan dapur balita dan layanan khusus bagi kelompok rentan, meskipun jangkauannya masih terbatas.

Langkah ini, menurutnya, bukan sekadar soal teknis distribusi, tetapi tentang cara memandang bantuan itu sendiri.

Solidaritas tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang terkumpul, melainkan seberapa sesuai bantuan tersebut dengan kebutuhan penerima.

Baca juga: TNI siapkan makanan bagi 168 penyintas di Salareh Aia Agam

Kualitas Bantuan

Bencana memang menuntut semua pihak bergerak cepat. Namun di tengah kecepatan itu, ada ruang untuk berpikir lebih jauh tentang dampak jangka panjang.

Setiap paket bantuan yang dibagikan akan menentukan apa yang bisa dimakan anak-anak hari itu dan hari-hari berikutnya, di tengah keterbatasan dapur dan pilihan pangan di pengungsian.

Banyak yang berharap perhatian terhadap kualitas bantuan pangan bisa menjadi bagian dari percakapan bersama.

Jika bantuan hanya berfokus pada kepraktisan, anak-anak berisiko terus terpapar makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebaliknya, jika sejak awal perencanaan sudah ada ruang untuk mempertimbangkan kelompok rentan, bantuan dapat membantu keluarga perlahan kembali menyiapkan makanan yang lebih layak bagi anak-anak mereka, meskipun masih tinggal di tenda pengungsian.

Ada banyak langkah sederhana yang dapat dilakukan tanpa harus memperlambat distribusi.

Paket pangan dapat dilengkapi dengan bahan yang lebih seimbang gizinya, panduan singkat tentang pemanfaatan makanan instan dan kental manis, atau dukungan peralatan memasak portabel di lokasi pengungsian.

Dapur balita dan layanan gizi khusus juga dapat menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga dan relawan.

Di tenda-tenda pengungsian di Sumatera, di antara kardus bantuan dan antrean dapur umum, harapan anak-anak sedang tumbuh dalam kondisi yang serba terbatas.

Cara bantuan disiapkan dan dibagikan hari ini akan menentukan apakah anak-anak bisa mendapatkan makanan yang lebih layak selama mereka masih tinggal di tenda pengungsian.

Maka hanya dengan solidaritas yang semakin peka dan berempati, bantuan tidak hanya menjadi sarana bertahan hidup, tetapi juga jembatan menuju pemulihan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca juga: Dinsos Tangerang cek berkala makanan bantuan bencana cegah kedaluwarsa


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
DLH DKI Jakarta Tingkatkan Teknologi Pengendalian Emisi dan Bau di RDF Plant Rorotan
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Airlangga Ungkap Pesan Prabowo untuk Investor Usai Pasar Saham Rontok
• 17 jam laludetik.com
thumb
Penerapan Teknologi Digital Bidang Kedokteran Tingkatkan Presisi Diagnosis
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kabar Baik! Jembatan di Aceh Rampung 100%, Akses Warga Kembali Terhubung
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Efektif 31 Januari, OJK Tetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua DK Pengganti
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.