Tingginya harga emas tidak hanya berdampak pada daya beli masyarakat Aceh. Kenaikan ini juga mulai berpengaruh terhadap besaran mahar serta angka pernikahan.
Di Aceh ini, emas masih menjadi tradisi utama sebagai mahar atau jeulamee dalam pernikahan. Kenaikan harga emas signifikan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Aceh, terutama bagi pasangan muda yang tengah merencanakan pernikahan.
Dalam tradisi Aceh, mahar atau jeulamee umumnya menggunakan emas dengan satuan mayam. Saat ini harga satu mayam emas atau setara 3,3 gram telah menembus lebih dari Rp9 juta. Kondisi ini membuat calon
pengantin harus berpikir ulang dalam menentukan jumlah mahar.
Di Banda Aceh, kenaikan harga emas mulai terlihat dampaknya terhadap besaran mahar pernikahan.
Baca Juga :
Pantauan di sejumlah toko emas menunjukkan masyarakat masih membeli emas untuk mahar. Namun, dengan jumlah yang lebih sedikit sebagai bentuk penyesuaian.
"Cuman itulah karena Mas sudah mahal sekali jumlah mayamnya itu sudah berkurang. Ya, kalau dulu mungkin masyarakat biasa beli 20-30 mayam biasa. Kalau sekarang ya 10 mayam sudah top. Bahkan kemarin ada yang empat mayam untuk nikah, ada yang 10. Kalau di atas 10 sudah sangat besar," kata pemilik toko emas Aceh M. Daffa dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 1 Februari 2026.
Kenaikan harga emas juga diduga berdampak pada menurunnya angka pernikahan di Aceh. Seperti di Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, data Kantor Urusan Agama Kuta Alam mencatat pada tahun 2023 terdapat 243 pasangan menikah. Angka ini turun menjadi 233 pasangan pada tahun 2024 dan kembali merosot pada tahun 2025 dengan 192 pasangan.



