Bisnis.com, JAKARTA — Mandiri Institute mencatat bahwa penurunan pasar kerja menjadi penyebab utama melambatnya tingkat konsumsi masyarakat sepanjang 2025.
Dalam publikasi Policy Brief No. 1 edisi Januari 2026, Analis Mandiri Institute Johan Beni Maharda mencatat bahwa tingkat konsumsi yang diukur melalui Mandiri Spending Index (MSI) sejatinya tumbuh 40,09% secara tahunan (YoY) pada kuartal IV/2025, lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal III/2025 sebesar 27,7%.
Namun, pihaknya mencermati bahwa pemulihan konsumsi tidak merata, khususnya antara kelas atas dan kelas menengah.
Fenomena ini disebut mulai terjadi pasca-pandemi Covid-19, yang mana rata-rata pertumbuhan konsumsi kelompok menengah hanya sebesar 4,7%, sedangkan kelas atas tumbuh 5,5%.
“Penurunan pasar kerja menjadi constraint utama. Perlambatan konsumsi tidak terlepas dari masalah struktural di pasar kerja Indonesia, yakni semakin terbatasnya penciptaan lapangan kerja,” tulis publikasi Mandiri Institute, dikutip pada Minggu (1/2/2026).
Lebih lanjut, lembaga riset milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) ini mendata kemampuan serapan pasar kerja formal hanya 1,9 juta orang per tahun pada 2025, jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan yang mencapai 3,4 juta orang per tahun.
Baca Juga
- Prabowo Targetkan Pungutan Pajak Konsumsi Rp995,2 Triliun Tahun Ini
- Pergeseran Konsumsi Akhir Tahun jadi Sinyal Tantangan Ekonomi 2026
- Anomali! Prabowo Rajin Guyur Insentif, Masyarakat Pilih Tahan Konsumsi
Akibatnya, tenaga kerja yang tidak terserap masuk ke pasar kerja informal mencapai rata-rata sebesar 1,5 juta orang per tahun.
“Dalam tiga tahun terakhir, tren defisit pasar kerja formal ini tidak membaik,” lanjutnya.
Publikasi itu lantas menjelaskan bahwa perpindahan ke sektor informal ini paling banyak terjadi pada kelompok menengah, khususnya mengenai tantangan kualitas pekerjaan.
Dibandingkan dengan pra-pandemi (2019), Mandiri Institute mencatat indeks proporsi pekerjaan informal pada 2025 meningkat paling tinggi pada kelas menengah, yakni sebesar 6% poin. Sementara itu, kelompok atas hanya meningkat terbatas 2% poin, sedangkan kelas bawah justru membaik dengan indeks yang turun 1% poin.
Mandiri Institute lantas memproyeksikan bahwa konsumsi dalam jangka panjang dapat melemah apabila tren ini berlanjut. Pasalnya, pangsa konsumsi kelas menengah mencapai 37% dari konsumsi masyarakat Tanah Air.
Pemerintah pun dinilai perlu memperkuat daya beli kelompok menengah dengan dua cara utama, yakni dengan meningkatkan pendapatan dan meringankan beban pengeluaran.
“Peningkatan pendapatan hanya dapat dicapai melalui perluasan kesempatan kerja dan perbaikan kualitas pekerjaan. Sementara dari sisi pengeluaran, kebijakan stabilisasi harga pangan menjadi kunci, karena ketika belanja non-makanan tertekan maka porsi makanan cenderung membesar dan semakin sensitif dalam keranjang konsumsi,” jelas Mandiri Institute.




