Forum Internasional di Mesir, Kemenag Perkenalkan Ekoteologi

mediaindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

KEMENTERIAN Agama memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial. Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Lubenah Amir menjelaskan agama memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan global, termasuk krisis ekologis dan kemanusiaan yang saling berkaitan. Dikatakannya, dunia modern saat ini dihadapkan pada berbagai krisis yang kompleks. 

“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar internasional yang digelar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Mesir, Sabtu (31/1). 

Ia menekankan bahwa agama tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai praktik ritual atau identitas formal, melainkan harus hadir sebagai kekuatan yang membangun relasi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Baca juga : Ekoteologi Harus Menjadi Perilaku Nyata

“Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” katanya.

Menurut Lubenah, inti ajaran Islam adalah rahmat atau kasih sayang yang bersifat universal dan melampaui batas ruang serta waktu. Konsep rahmat bagi seluruh alam tersebut menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” ujarnya.

Baca juga : Pastikan Pembangunan Berkelanjutan Lingkungan Tertata Baik

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam praktik kehidupan modern, nilai-nilai universal tersebut kerap mengalami fragmentasi dan terlepas dari kepekaan terhadap penderitaan manusia serta kerusakan lingkungan.

“Di sinilah pentingnya upaya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar sebagai wacana normatif, tetapi sebagai spirit yang hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari,” kata Lubenah.

Dalam kesempatan itu, Lubenah juga menyebut bahwa Kementerian Agama menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai salah satu prioritas kebijakan keagamaan. Kebijakan tersebut diwujudkan melalui pengembangan berbagai layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk dapat menjadi contoh dalam merawat harmoni sosial berbasis nilai keagamaan. “Cinta kemanusiaan menjadi landasan agar agama hadir sebagai kekuatan pemersatu, yang menumbuhkan saling pengertian, empati, dan kerja sama lintas iman dan budaya,” kata Lubenah.

Seminar internasional tersebut turut menghadirkan pembicara lain, yaitu Pengajar Universitas Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi serta Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Mesir Abdul Muta’ali. Seminar itu diikuti 150 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan keagamaan. (M-3)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prediksi Skor Real Madrid vs Rayo Vallecano: Head to Head, Susunan Pemain
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Persija Lepas Hansamu Yama dengan Status Pinjaman Selain Ilham Rio Fahmi
• 21 jam lalumerahputih.com
thumb
KPK Sita Dokumen Sejumlah Proyek dan Bukti Elektronik dari Kantor Wali Kota Madiun
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
5 Negara dengan Jumlah Vegetarian Terbanyak di Dunia 2026
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Menyoroti OTT KPK Wali Kota Madiun, GERTAK Tegaskan Pentingnya Penguatan Fungsi Pengawasan DPRD
• 22 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.