Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Syariah mengklaim kinerja perusahaan pasca spin off adalah salah satu indikator menguatnya kepercayaan masyarakat terhadap asuransi syariah.
Presiden Direktur Manulife Syariah Indonesia, Fauzi Arfan menyampaikan bahwa hingga Desember 2025 atau genap satu tahun setelah spin off, total aset kelolaan syariah tercatat mencapai Rp1,7 triliun.
Dia menjelaskan pendapatan kontribusi perusahaan mencapai Rp662 miliar, sementara total klaim yang telah dibayarkan sekitar Rp278 miliar.
“Capaian tersebut mencerminkan peran asuransi syariah yang kian diandalkan sebagai solusi perlindungan jangka menengah dan panjang,” ungkapnya kepada Bisnis, pada Kamis (29/1/2026).
Fauzi optimistis permintaan produk asuransi jiwa dan kesehatan syariah akan tetap solid, khususnya dari kelas menengah produktif. Hal ini juga tidak lepas dari besarnya populasi Muslim di Indonesia dan meningkatnya kebutuhan perencanaan keuangan yang sesuai prinsip syariah.
Di lain sisi, dia menilai persaingan industri asuransi syariah ke depannya akan semakin dinamis, seiring bertambahnya pemain baru hasil spin off unit usaha syariah (UUS). Baginya, perkembangan ini adalah hal yang positif bagi industri.
Baca Juga
- Hampir Setahun Spin Off, Manulife Syariah Bayarkan Klaim Rp248 Miliar
- Manulife Syariah Catat Aset Rp1,61 Triliun per Semester I/2025
- Manulife Syariah Tunjuk Ma'ruf Amin sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah
Kondisi tersebut, jelasnya, mendorong kompetisi yang lebih sehat dan memberikan pilihan serta kualitas layanan yang semakin baik bagi masyarakat. Selain itu juga memperluas jangkauan edukasi, literasi, dan penetrasi asuransi syariah.
“Bagi Manulife Syariah Indonesia, meningkatnya jumlah pemain di industri tidak hanya dipandang sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang untuk memperkuat diferensiasi melalui tata kelola yang kuat, keandalan operasional, serta komitmen terhadap nilai dan prinsip syariah,” kata Fauzi.
Lebih lanjut, Fauzi membeberkan tantangan yang dihadapi pasca spin off mencakup proses operasional, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, serta perluasan penetrasi pasar di tengah tingkat literasi dan inklusi asuransi syariah yang masih terbatas.
Kendati demikian, dia menganggap tantangan tersebut juga sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di industri asuransi jiwa syariah Indonesia.
Dia mengungkapkan dari sisi produk, segmen kesehatan dan endowment masih menjadi andalan utama Manulife Syariah Indonesia. Pada segmen kesehatan, perusahaan memiliki perlindungan tambahan bagi nasabah yang menjalankan ibadah Haji dan Umrah.
“Fitur ini menjadi salah satu keunggulan yang membedakan produk kesehatan syariah Manulife dari produk sejenis di pasar,” ucap Fauzi.
Sebagai informasi, sepanjang 2025, Manulife Syariah Indonesia meluncurkan sejumlah produk baru, antara lain Manulife Perlindungan Syariah (Flexi), Proteksi Prima Berkah (PPB), serta MiUltimate Healthcare Syariah (MiUHC Syariah).
“Sementara itu, produk unggulan yang telah lebih dulu dipasarkan mencakup Manulife Perlindungan Pendidikan Syariah [MPPS] dan MiSmart Insurance Solution Syariah [MiSSION Syariah],” pungkasnya.





