Penulis: Fityan
Pesta sepak bola terbesar di Amerika Utara akan menyambut wajah-wajah baru seiring perluasan format turnamen menjadi 48 tim.
Peta kekuatan sepak bola global resmi bergeser. Menjelang Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, empat negara dipastikan akan mencatatkan sejarah dengan tampil untuk pertama kalinya di panggung paling bergengsi tersebut.
Tanjung Verde, Curacao, Yordania, dan Uzbekistan sukses memanfaatkan perluasan format 48 tim untuk membuktikan bahwa dominasi kekuatan lama kini mulai tertantang oleh kekuatan baru yang tengah bangkit.
Dominasi Tanpa Cela dari Tanjung Verde dan Curacao
Timnas Tanjung Verde (Foto: FIFA)
Dari zona Afrika (CAF), Tanjung Verde atau yang dikenal dengan julukan Blue Sharks, mencatatkan perjalanan impresif.
Di bawah asuhan pelatih Bubista, mereka mengunci posisi puncak Grup D dengan rekor pertahanan yang luar biasa tidak kebobolan satu gol pun dalam laga kandang.
Kemenangan krusial 1-0 atas raksasa Kamerun pada September 2025 menjadi titik balik yang mengukuhkan mentalitas mereka.
"Kami telah menulis babak baru yang sangat penting dalam sejarah sepak bola kami," lapor FIFA melalui tinjauan resminya. Dailon Livramento muncul sebagai bintang dengan koleksi empat gol, menyamai catatan penyerang elit kelas dunia lainnya di fase kualifikasi.
Sementara itu, dari zona Concacaf, Curacao tampil sebagai kejutan di bawah tangan dingin pelatih veteran asal Belanda, Dick Advocaat.
Tim berjuluk Blue Wave ini melaju dengan catatan sepuluh pertandingan tak terkalahkan. Mengandalkan talenta berbakat seperti Tahith Chong dan duo Bacuna bersaudara, Curacao mengunci tiket sejarah mereka setelah meraih hasil imbang tanpa gol melawan Jamaika di Kingston.
Kebangkitan Asia: Yordania dan Uzbekistan
Timnas Yordania (Foto: FIFA)Kawasan Asia (AFC) menyumbang dua debutan yang menunjukkan persistensi tinggi. Yordania, yang sempat memulai kualifikasi dengan keraguan, bertransformasi menjadi unit penyerang paling mematikan di bawah arahan taktis Jamal Sellami.
Trio lini depan mereka Mousa Al Tamari, Yazan Al Naimat, dan Ali Olwan menjadi kunci keberhasilan The Nashama mengamankan posisi runner-up di Grup B, tepat di bawah Korea Selatan. Momentum kebangkitan mereka ditandai dengan kemenangan telak 7-0 atas Pakistan yang memicu kepercayaan diri tim hingga akhir kompetisi.
Timnas Uzbekistan (Foto: FIFA)Di sisi lain, Uzbekistan mengukir sejarah setelah bertahun-tahun nyaris lolos. Di bawah komando legenda Italia, Fabio Cannavaro, yang mengambil alih kursi kepelatihan pada akhir 2025, White Wolves tampil solid secara organisasi.
Uzbekistan berhasil finis sebagai runner-up Grup A, mengungguli negara-negara berpengalaman seperti Qatar dan Uni Emirat Arab. Dengan pertahanan yang dipimpin oleh Abdukodir Khusanov, mereka membuktikan diri mampu bersaing dengan tim elit sekelas Iran di fase grup.
Era Baru 48 Tim
Kehadiran empat debutan ini merupakan manifestasi dari visi FIFA untuk memperluas akses sepak bola global.
Dengan format baru ini, turnamen tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang persaingan para raksasa, tetapi juga panggung inklusif bagi negara-negara yang tengah berkembang untuk menunjukkan identitas nasional mereka melalui olahraga.
Keempat negara ini kini bersiap menuju Amerika Utara, membawa antusiasme pendukung baru dan menjanjikan warna yang berbeda dalam sejarah panjang Piala Dunia.
Editor: Redaktur TVRINews





