Iran menetapkan angkatan bersenjata negara-negara Eropa sebagai ‘kelompok teroris’. Hal ini menyusul keputusan Uni Eropa yang lebih dulu melabeli Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan status serupa.
Seperti yang diberitakan AFP, pernyataan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu (1/2).
Siaran televisi pemerintah menayangkan para anggota parlemen Iran tampak mengenakan seragam hijau Garda Revolusi. Mereka meneriakkan slogan “Matilah Amerika”, “Matilah Israel”, dan “Memalukan kau, Eropa”.
Menanggapi keputusan Uni Eropa, Ghalibaf mengecam langkah tersebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab.
“Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Penanggulangan terhadap Penetapan IRGC sebagai Organisasi Teroris, angkatan bersenjata negara-negara Eropa dianggap sebagai kelompok teroris,” kata Ghalibaf.
Belum jelas dampak langsung dari keputusan tersebut terhadap hubungan Iran dengan negara-negara Eropa. Undang-undang yang menjadi dasar langkah ini sejatinya telah disahkan sejak 2019, saat Amerika Serikat pertama kali menetapkan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris.
Sidang parlemen itu digelar bertepatan dengan peringatan 47 tahun kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan, tokoh yang mendirikan Republik Islam Iran pada 1979.
Garda Revolusi merupakan sayap ideologis militer Iran yang bertugas menjaga revolusi Islam dari ancaman internal maupun eksternal. Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini dituduh pemerintah Barat terlibat dalam penindasan aksi protes di Iran yang menewaskan ribuan orang.
Pemerintah Iran menepis tudingan tersebut dan menyebut kekerasan terjadi akibat aksi teroris yang dipicu AS dan Israel.
Uni Eropa pada Kamis (29/1) lalu sepakat memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris atas responsnya terhadap gelombang protes. Langkah ini sejalan dengan kebijakan serupa yang lebih dulu diambil AS, Kanada, dan Australia.
Ghalibaf menilai keputusan Uni Eropa itu diambil atas tekanan pihak lain.
“Keputusan ini, yang dilakukan sesuai dengan perintah presiden Amerika dan para pemimpin rezim Zionis, justru mempercepat jalan Eropa menuju ketidakrelevanan dalam tatanan dunia masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut justru memperkuat dukungan publik di dalam negeri terhadap Garda Revolusi.
Ketegangan ini muncul di tengah saling lempar ancaman antara Iran dan AS terkait kemungkinan aksi militer. Respons Iran terhadap aksi protes sebelumnya mendorong Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi dengan mengerahkan kelompok kapal induk.
Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir, kedua negara itu sama-sama menyatakan membuka peluang negosiasi.




