Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan Amerika Serikat bahwa serangan militer terhadap Iran akan memicu perang berskala regional.
Khamenei menegaskan, Iran tidak akan gentar dengan ancaman Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mengirimkan kelompok kapal induk. Ia juga meminta rakyat Iran untuk tidak perlu takut.
“Orang-orang Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional,” kata Khamenei, Minggu (1/2), dikutip dari AFP.
Pernyataan tersebut muncul setelah respons keras aparat Iran terhadap aksi protes anti-pemerintah memicu ancaman intervensi dari AS. Aksi demo yang semula dipicu keluhan atas mahalnya biaya hidup berkembang menjadi gerakan besar menentang pemerintah.
Namun, Khamenei menggambarkan protes tersebut bukan sebagai gerakan rakyat, melainkan upaya kudeta yang didalangi pihak luar.
“Mereka (para perusuh) menyerang polisi, pusat-pusat pemerintahan, pusat IRGC, bank, dan masjid, serta membakar Al-Qur’an. Ini seperti kudeta,” ujar Khamenei.
“Kudeta itu berhasil dipadamkan,” tambahnya.
Pemerintah Iran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan berlangsung. Meski demikian, Iran mengeklaim sebagian besar korban merupakan anggota pasukan keamanan dan warga sipil tak bersalah, serta menyebut kekerasan terjadi akibat aksi terorisme.
Sebaliknya, kelompok hak asasi manusia dan sejumlah pemerintah Barat menuding Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melakukan penindakan brutal yang menewaskan ribuan demonstran.
Situasi tersebut mendorong Uni Eropa memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Langkah itu langsung dibalas parlemen Iran dengan menetapkan angkatan bersenjata negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris.



