Hamdan (14) tampak berjalan perlahan di antara reruntuhan permukiman TPU Kebon Nanas, Jakarta Timur. Sesekali ia menghentikan langkah, menunduk, dan menatap puing-puing bangunan yang tersisa.
Saat dihampiri kumparan, Hamdan mengaku datang ke lokasi itu untuk melihat kembali masa kecilnya di tengah reruntuhan.
"Main-main doang. Ngelihat masa kecil," ujar Hamdan, Minggu (1/2).
Usai direlokasi, Hamdan bersama keluarganya kini bermukim di Rusunawa Pulogebang. Ia mengaku terbebani dengan kondisi yang dialaminya, karena pada akhirnya harus tetap mengontrak tempat tinggal.
"Harus ngontrak juga ujung-ujungnya. Puyeng juga belum bayar listrik, bayar air," ucap Hamdan menceritakan kondisi keluarganya di rusun.
Relokasi juga membuat jarak tempuh Hamdan menuju sekolahnya di kawasan Jatinegara menjadi lebih jauh. Ia mengaku sempat terkejut ketika rencana penggusuran mulai bergulir.
"Kalau dulu sebelum dibongkar kita juga kaget, tiba-tiba ada mau gusuran aja. Dikira gusurannya bohong, ternyata betulan. Pas udah dikasih surat peringatan yang pertama," tutur Hamdan.
Salah satu warga yang direlokasi, Sarjono (58), menyebut surat peringatan pertama kali diterima pada akhir Desember 2025. Menurutnya, rentang waktu dari surat peringatan hingga pelaksanaan relokasi pada Januari tergolong sangat singkat.
"Kurang lebih 1 bulan setengah kali itu. 2 bulan gak ada deh pokoknya. Kalau enggak salah peringatannya itu di akhir Desember kayaknya. Biasanya sih gak begitu, cuma ya mengingat ini kali, alasan dia dia ini mau ditempati orang mati gitu kan," tutur Sarjono saat ditemui di TPU Kebon Nanas, ketika sedang mencari besi untuk dijual.
Seperti Hamdan, Sarjono kini bermukim di Rusunawa Pulogebang sejak 12 Januari. Ia mengatakan pembongkaran permukiman di TPU Kebon Nanas mulai dilakukan pada 14 Januari.
Proses pembongkaran berlangsung hingga 27 Januari dan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Menurut Sarjono, pembongkaran berlangsung hingga tanggal tersebut karena masih ada enam keluarga yang bertahan. Bukan sebagai bentuk penolakan, mereka tetap tinggal lantaran masih menimbang langkah hidup selanjutnya.
"Kalau yang terakhir ya kemarin, tanggal 27 itu. Karena ada yang bertahan, maksudnya dia itu berpikir gitu lho. Maksudnya ke sana (rusun) kejauhan, terus kehilangan pekerjaan kan. Terus rencananya itu dia mau cari kontrakan daerah sini. Kontrakan juga mahal," ungkap Sarjono.
"Akhirnya mau enggak mau ikut ke sana (rusun)," tambahnya.
Warga yang direlokasi dari TPU Kebon Nanas ke Rusun Pulo Gebang berjumlah 28 keluarga, termasuk Sarjono. Ia mengaku relokasi tersebut berdampak langsung pada mata pencahariannya.
"Jadi saya kan kerjanya mulung ya, bantu dinas kebersihan itu di pembuangan sampah bawah Tol Kalimalang, Cipinang Melayu situ. Saya kerja di situ tiap malam. Berangkat habis Isya itu pulangnya Subuh biasanya. Lah terus sekarang dipindah ke Pulo Gebang itu jauh gitu kan. Ya pasti saya kehilangan kerjaan gitu kan," ungkap Sarjono.
Sarjono juga menjelaskan, saat direlokasi ke Pulogebang, ia menerima kompensasi sebesar Rp 500 ribu. Namun, menurutnya, Rp 100 ribu dipotong oleh pihak kelurahan untuk saldo kartu pembayaran rumah susun.
"Ya 500 ribu dari pihak kelurahan itu. Langsung suruh buka, suruh ngitung 'berapa itu Pak?' '500 ribu'. 'Buat isi saldo kartu pembayaran rumah susun 100 ribu Pak' katanya gitu. Langsung ada yang narik ya. Jadi semua warga dapatnya 400," kata Sarjono.
Relokasi permukiman di TPU Kebon Nanas yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bertujuan menyediakan lahan pemakaman baru.
Pasalnya, ketersediaan lahan pemakaman di Jakarta saat ini tengah mengalami krisis.
Oleh karena itu, para pemukim direlokasi ke sejumlah rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang disiapkan pemerintah, sementara sebagian warga lainnya memilih mengontrak secara mandiri.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F10%2F27%2F60d4206e-910e-4bc3-99be-4de3e781580d_jpg.jpg)