Bisnis.com, INDRAMAYU – Tumpukan polipropilena (PP) di gudang produksi PT Polytama Propindo (Polytama) menunggu giliran untuk dikirimkan ke konsumen, Jumat (30/1/2026).
Polytama memainkan peran strategis di sektor petrokimia untuk memenuhi bahan baku plastik di Tanah Air. Bersama dengan Chandra Asri dan Lotte Chemical memenuhi setidaknya 50% pasokan PP di dalam negeri. Polytama saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 300.000 metrik ton (MT) polipropilena per tahun. Adapun realisasi produksi Polytama tertinggi mencapai 266.262 MT pada tahun lalu.
Saat ini, kebutuhan PP di Indonesia mencapai sekitar 1,9–2,1 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru mampu memenuhi kurang dari separuhnya. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang penguatan industri petrokimia nasional melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi.
Polytama sendiri dapat berproduksi dengan mendapat pasokan propilen dari Refinery Unit (RU) VI Balongan milik Pertamina. Perusahaan dengan kepemilikan saham mayoritas oleh Pertamina dan Kementerian Keuangan ini, sedang melakukan ekspansi kapasitas produksi PP.
Nantinya, Polytama akan menyerap propilen dari proyek RDMP Balikpapan yang akan mampu memproduksi bahan baku petrokimia sebesar 225.000 ton per tahun. Adapun, berdasarkan rencana pengembangan RDMP Balikpapan, fasilitas produksi propilen akan rampung pada 2028. Nantinya, setelah ekspansi, kapasitas produksi Polytama mencapai 600.000 ton per tahun.
PIC Manager PT Polytama Propindo Riko Bimantara menjelaskan sejauh ini Kilang Pertamina selalu berkomitmen memenuhi pasokan bahan baku, dalam hal ini propilen.
Baca Juga
- Kilang Balikpapan Mampu Produksi BBM Setara Euro 5, Pengamat: Setara Negara Maju
- Prabowo Bakal Resmikan Proyek Kilang Balikpapan Senilai Rp123 Triliun Hari Ini
- Chandra Asri (TPIA) Gelar Pemeliharaan Pabrik Petrokimia di Cilegon
“Untuk bahan baku tidak ada impor, semuanya dari Pertamina. (dengan ada proyek ekspansi) Kami harapkan 100% juga dari Pertamina,” katanya, Jumat (30/1/2026).
Adapun selama ini, propilen dari Kilang Balongan mengalir melalui pipa sepanjang 4 kilometer (km) menuju fasilitas produksi Polytama. Tidak hanya pasokan bahan baku, Pertamina juga mendukung pasokan bahan bakar gas pipa dari Pertagas.
Terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengungkapkan, Selain memproduksi BBM, kilang-kilang Pertamina juga menghasilkan produk antara (intermediary) yang menjadi bahan baku penting bagi industri petrokimia nasional.
Peran ini sejalan dengan upaya Pertamina dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya energi serta memperkuat ketahanan industri dalam negeri. "Eksistensi Pertamina melalui Polytama, menjadi bukti peran Pertamina dalam mendorong hilirisasi migas," jelasnya.
Baron menambahkan pemanfaatan propilen dari kilang Pertamina ini berperan strategis dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia, serta memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional.
“Ini sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya dalam negeri,” ujar Baron.
Di sisi lain, Direktur PT Polytama Propindo, Dwinanto Kurniawan, menegaskan bahwa Polytama merupakan bagian integral dari ekosistem Pertamina Group yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Polytama tidak berdiri sendiri. Kami merupakan bagian dari sistem industri nasional yang menghubungkan sektor hulu dan hilir, mulai dari kilang hingga ke industri manufaktur. Integrasi ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan industri petrokimia Indonesia,” ujar Dwinanto.
Berdasarkan data Polytama, rata-rata pasokan dari Kilang Balongan mencapai 250.000 ton per tahun. Selanjutnya, bahan baku tersebut diolah menggunakan teknologi Spheripol dari LyondellBasell untuk menghasilkan produk polypropylene berkualitas.
Produk polypropylene Polytama dipasarkan dalam berbagai jenis (grade) untuk memenuhi kebutuhan sektor kemasan, peralatan rumah tangga, industri kesehatan, hingga ritel.



