Liputan6.com, Jakarta - UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sering kali disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun, di balik angka kontribusi yang impresif terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, terdapat realitas yang lebih kompleks terutama pada segmen ultra mikro.
Di kelompok inilah ketahanan usaha tidak cukup ditopang oleh pembiayaan semata. Hal itu seperti disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) L. Dodot Patria Ary.
Advertisement
"Dari perspektif ekonomi mikro, masalah utama pengusaha ultra mikro bukan hanya keterbatasan modal, melainkan juga keterbatasan kapasitas. Banyak pelaku usaha memiliki akses pasar yang terbatas, pencatatan keuangan yang minim, literasi usaha yang rendah, serta rentan terhadap guncangan eksternal mulai dari fluktuasi harga hingga bencana alam," ujar Dodot melalui keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).
Dia menyebut, pembiayaan memang penting sebagai bahan bakar awal. Namun tanpa pemberdayaan, kata dia, modal finansial berisiko menjadi beban. Kredit yang tidak dibarengi peningkatan kapasitas akan sulit mendorong produktivitas, apalagi pertumbuhan usaha.
"Pemberdayaan dalam konteks ini mencakup pendampingan usaha, penguatan literasi keuangan, pembentukan disiplin kelompok, hingga penanaman kepercayaan diri sebagai pelaku ekonomi," terang Dodot.
"Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan survivability usaha ultra mikro bukan hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki peluang naik kelas," sambung dia.
Dalam praktiknya, lanjut Dodot, pendekatan terintegrasi antara pembiayaan dan pemberdayaan masih relatif terbatas dilakukan secara konsisten.



