JAKARTA, KOMPAS.com - Selama lebih dari satu tahun penugasan, Laut Mediterania kerap menyuguhkan wajah yang tenang bagi Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda (KONGA) XXVIII-P.
Gelombang menggulung wajar, patroli berjalan rutin, dan radar Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 menyapu lalu lintas laut seperti hari-hari biasa.
Baca juga: KSAL: KRI Sultan Iskandar Muda Jadi Satu-satunya Kapal Berhelikopter di Misi UNIFIL
Laut tampak damai, seolah jauh dari hiruk-pikuk konflik daratan Timur Tengah. Namun, ketenangan itu runtuh dalam sekejap.
Dalam rentang 12 hari, prajurit Satgas MTF Indonesia menghadapi periode paling menegangkan sepanjang masa tugas mereka di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Letnan Kolonel Laut (P) Anugerah Annurullah, Komandan Satgas MTF Indonesia ke-28, masih mengingat jelas masa-masa itu.
Ingatan tersebut kembali hadir saat ia berdiri di geladak KRI Sultan Iskandar Muda yang bersandar di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/2/2026), setelah menyelesaikan tugas.
Perang 12 hari Israel vs IranPada pertengahan Juni 2025, konflik terbuka antara Israel dan Iran meletus. Meski pertempuran tidak terjadi langsung di wilayah Lebanon, dampaknya terasa hingga ke perairan yang dijaga pasukan perdamaian PBB, termasuk unsur Indonesia.
Baca juga: KRI Sultan Iskandar Muda Tiba di Tanah Air Usai 14 Bulan Misi di Lebanon
“Situasi di perairan Lebanon relatif aman atau eskalasinya tidak terlalu tinggi. Namun, kita sempat mengalami suatu eskalasi yang tinggi pada saat terjadi perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni kemarin,” kata Anugerah.
Pada periode itu, Iran meluncurkan sejumlah rudal jelajah dengan lintasan tidak langsung. Misil berpemandu tersebut terbang rendah, memutar melewati wilayah Suriah, Lebanon, dan Laut Mediterania sebelum mengarah ke Israel.
Di saat bersamaan, sistem pertahanan udara Israel melakukan intersepsi di udara. Tanpa pernah direncanakan, KRI Sultan Iskandar Muda berada tepat di bawah lintasan serangan.
“Ketika itu kami sedang melaksanakan tugas patroli di sekitar perbatasan laut dan kita menjadi tepat berada di bawah line of fire atau bisa dikatakan bahwa serangan lintasan rudal itu tepat berada di atas kepala kita,” ungkap Anugerah.
Baca juga: Perdana, KRI Prabu Siliwangi-321 Uji Tembak Meriam Raksasa 127 Mm
Situasi tersebut menjadi eskalasi tertinggi yang dialami Satgas MTF Indonesia selama masa tugas. Meski hanya berlangsung singkat, ketegangannya terasa nyata dan membekas. Tekanan psikologis tak terelakkan.
Saat pertama kali menyadari kapal berada di bawah lintasan serangan, perasaan prajurit bercampur aduk. Ada khawatir, was-was, bahkan takut.
Namun, bersamaan dengan itu, tumbuh pula kesiapan dan naluri profesional sebagai prajurit.
“Kita tidak memungkiri bahwa pada saat pertama kita mendeteksi kejadian itu dan tepat berada di atas kepala kita, itu perasaan berkecamuk,” ujar Anugerah.




