Nezar Patria: Tidak Ada Ruang Aman di Dunia Digital

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan masyarakat bahwa ancaman siber di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menyasar langsung kehidupan masyarakat.

Ia mengatakan, risiko tidak lagi terbatas pada sistem besar, tetapi menyentuh rekening, identitas, dan perangkat pribadi sehari-hari. “Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” katanya, Minggu, 1 Februari 2026.

Baca Juga :
Amazon Gelontorkan Ratusan Triliun ke Perusahaan AI saat PHK 16.000 Karyawan, Mantap Gantikan Manusia dengan Robot?
Amazon Kembali PHK Massal 16.000 Karyawan di Seluruh Dunia, Mayoritas Terdampak di AS

Wamenkomdigi menjelaskan, AI mengubah pola serangan siber menjadi jauh lebih cepat dan masif. Dengan otomatisasi, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dianggap bernilai.

“Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ungkap Nezar Patria.

Ia menegaskan, ancaman tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi emosional masyarakat.

Pemanfaatan AI dalam penipuan membuat wajah dan suara seseorang bisa dipalsukan secara meyakinkan.

“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” jelasnya. Menurut dia, sistem perlindungan konvensional juga semakin rapuh.

Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum membuat kata sandi yang selama ini digunakan warga tidak lagi cukup aman. “Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pascakuantum,” papar Wamenkomdigi Nezar Patia.

Menurutnya, tidak ada ruang aman di dunia digital selama perangkat terhubung dengan jaringan lain. Ancaman siber dapat datang dari ponsel pintar (smartphone), aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan sehari-hari.

“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya. Untuk melindungi publik, Kemkomdigi mendorong penerapan pendekatan security by design.

Keamanan harus dibangun sejak awal pengembangan sistem, bukan setelah terjadi kebocoran atau serangan siber. “Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” katanya.

Baca Juga :
PHK Besar-besaran Hantam Perusahaan Global, Amazon hingga Nestlé Pangkas Puluhan Ribu Karyawan
Ogah Kerja Bareng Gen Z, Generasi Boomers Pilih Pensiun Lebih Cepat
Amazon PHK 16.000 Karyawan, Persaingan AI Makin Sengit!

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
MUI Tolak Keanggotaan RI di Dewan Perdamaian Gaza
• 5 menit lalueranasional.com
thumb
Megawati Soekarnoputri Lakukan Kunjungan Kerja Ke UAE, Bakal Hadiri Zayed Award
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
Sempat Picu Korban Jiwa, Polisi Catat 1.000 Titik Jalan Rusak di Jakarta Mulai Diperbaiki
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Golkar Nilai Sistem Politik Harus Selaras Sistem Pemerintahan Presidensial
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Satu Dekade Mengaspal, 120 Bus Biru TransJakarta Resmi Pensiun
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.