Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih. Di tengah pengerahan armada tempur Amerika Serikat ke kawasan Teluk, Panglima Militer Iran, Jenderal Amir Hatami, mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya siap "menarik pelatuk" jika Washington melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Peringatan ini disampaikan Hatami merespons kehadiran kelompok tempur Angkatan Laut AS yang dipimpin oleh kapal induk bertenaga nuklir, USS Abraham Lincoln, di perairan Timur Tengah.
"Kami dalam kesiagaan pertahanan dan militer tingkat tinggi. Kami memantau pergerakan musuh di wilayah ini dengan sangat ketat. Karena kami tahu niat jahat mereka, jari kami sudah berada di pelatuk," tegas Jenderal Hatami.
Ia menambahkan bahwa ancaman ini tidak hanya ditujukan kepada Amerika Serikat, tetapi juga kepada sekutu utamanya, Israel. Iran menegaskan tidak akan ragu merespons setiap agresi militer yang mengancam keamanan nasional mereka.
Trump Klaim Sudah Bicara dengan Teheran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim mengejutkan. Ia mengaku telah berbicara dengan para pemimpin Iran dan berencana melakukan diskusi lebih lanjut, meski Trump tidak merinci siapa tokoh yang ia maksud.
Dalam pernyataannya, Trump bersikeras menuntut Teheran untuk segera menghentikan program nuklirnya serta menghentikan eksekusi dan kekerasan terhadap para demonstran anti-pemerintah.
"Saya katakan dua hal kepada mereka. Nomor satu, tidak ada nuklir. Dan nomor dua, berhenti membunuh para demonstran," ujar Trump.
Namun, klaim Trump mengenai pintu diplomasi ini tampaknya bertolak belakang dengan situasi di lapangan. Pejabat Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa perundingan tidak mungkin terjadi di bawah ancaman militer yang nyata.



