Martinus, dibantu tiga rekannya, membalikkan sebuah perahu yang berada di tepi pantai. Mereka kemudian mulai mendorong perahu ke arah laut.
Saat perahu menyentuh air, Martinus dan seorang rekannya segera naik ke perahu. Hari itu, Sabtu (13/12/2025), para petani rumput laut di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, akan memanen rumput laut. Hujan yang turun hampir setiap hari dan air laut yang sedang pasang tinggi membuat panen rumput laut sempat tertunda.
Dari tepi pantai, perahu kemudian mengarah ke tengah laut. Setelah menempuh jarak sekitar 300 meter, perahu berhenti. Martinus mengenakan kacamata selam dan terjun ke air. Tak berselang lama, ia naik ke permukaan sambil menarik tali rumput laut. Tali itu terus ia tarik dan dikumpulkan di atas perahu. Kemudian, perahu berpindah ke titik berikutnya.
Satu tali rata-rata memuat 35-45 kilogram rumput laut. Setelah hasil panen memenuhi perahu, Martinus dan petani lainnya kembali ke darat, lalu memindahkan rumput laut tersebut ke rumah ikat.
Sebenarnya, budidaya rumput laut sudah lama dilakukan oleh para petani di desa ini. Namun, selama bertahun-tahun pula mereka menghadapi tantangan berupa penurunan kuantitas dan kualitas akibat penggunaan bibit secara berulang hingga puluhan tahun.
Pada awal tahun 2025, babak baru kemandirian budidaya rumput laut mulai dirasakan para petani. Hal ini bermula dari bibit unggul yang dikembangkan laboratorium Universitas Mataram, Lombok, yang terdiri atas bibit jenis Payaka, Sacol, dan Cottoni lokal.
Kehadiran bibit ini menumbuhkan harapan baru akan hasil panen yang lebih berkualitas. Sebanyak 80 kilogram bibit rumput laut mulai didatangkan dari Lombok dalam rentang waktu Mei hingga Juli 2025.
Melalui kolaborasi antara Konservasi Indonesia, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Manandang Kaliuda, serta mitra lainnya, dilakukan pengembangan usaha pembibitan rumput laut berkelanjutan di kebun uji coba yang berada di Pantai Lendunga, Kaliuda.
Menurut Ketua BUMDes Manandang, Christiani Valentine Salean, pada awalnya para petani hanya mempunyai lima tali untuk bibit rumput laut. Namun, jumlahnya terus berkembang menjadi 17 tali, 62 tali, dan terakhir mencapai 185 tali. Saat dipanen, harga jual satu lonjor tali rumput laut mencapai Rp 125.000.
Jika sebelumnya para petani kesulitan mendapatkan bibit, sekarang mereka justru mampu menjual bibit. Tentu hal itu membuka harapan yang lebih besar untuk meningkatkan penghasilan masyarakat serta menuju kemandirian desa.
Selain itu, pengembangan bibit unggul ini tidak hanya meningkatkan potensi budidaya, tetapi juga berkontribusi pada konservasi ekosistem pesisir, termasuk dampak positif terhadap terumbu karang di Sumba Timur.

