Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode: Kunci Pilpres 2029 Lebih Awal

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

PERNYATAAN Presiden Joko Widodo yang menyebut kemungkinan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming melanjutkan ke periode kedua bukanlah sekadar komentar personal atau candaan politik.

Dalam komunikasi politik, terutama ketika disampaikan oleh seorang presiden atau mantan presiden yang pengaruhnya belum sepenuhnya surut, setiap kalimat selalu memuat pesan.

Ia bukan hanya berbicara tentang masa depan Prabowo–Gibran, tetapi juga menggeser horizon waktu kekuasaan dengan membuat Pilpres 2029 terasa hadir lebih awal, bahkan sejak 2026.

Pergeseran horizon waktu inilah yang menjadi kunci pembacaan politiknya. Politik elektoral pada dasarnya bekerja dengan ritme yang relatif teratur—pemilu lima tahunan, konsolidasi pasca-pemilu, lalu fase jeda sebelum siklus berikutnya dimulai.

Ketika seorang aktor kunci menarik isu 2029 ke ruang publik jauh lebih awal, ia sedang menginterupsi ritme tersebut. Yang perlu dibaca bukan sekadar substansi pernyataannya, melainkan efek gangguan yang ditimbulkannya.

Dari sini, fokus analisis pun bergeser. Pertanyaan yang relevan bukan lagi apakah wacana ini realistis atau terlalu dini. Dalam politik, “terlalu dini” sering kali justru merupakan bagian dari desain.

Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa sinyal ini dilepas sekarang, dan kepada siapa ia sebenarnya ditujukan.

Baca juga: Reshuffle Kabinet: Ujian Loyalitas dan Kapasitas

Dalam konteks ini, wacana Prabowo–Gibran dua periode bekerja sebagai instrumen komunikasi politik. Ia sekaligus menciptakan kesan stabilitas dan membuka potensi ketegangan.

Stabilitas karena memberi bayangan kesinambungan kekuasaan, ketegangan karena kesinambungan tersebut belum tentu diterima atau diinginkan oleh semua aktor.

Dengan satu pernyataan, ruang tafsir dibuka lebar, dan elite politik dipaksa mulai berhitung lebih cepat dari jadwal yang semula mereka perkirakan.

Untuk memahami mengapa sinyal ini berdampak luas, relasi kekuasaan di baliknya perlu ditelusuri. Sejarah hubungan Jokowi dan Prabowo memberikan konteks yang tidak bisa diabaikan.

Keduanya pernah berhadap-hadapan secara keras dalam Pilpres 2014 dan 2019, dua kontestasi yang bukan hanya memecah suara pemilih, tetapi juga membelah emosi sosial.

Namun, politik Indonesia menunjukkan pola yang relatif konsisten: konflik elektoral jarang berujung pada permusuhan struktural jangka panjang.

Rekonsiliasi pasca-pemilu justru kerap menjadi mekanisme stabilisasi. Prabowo masuk ke kabinet Jokowi, lalu memenangkan Pilpres 2024 dengan Gibran sebagai wakilnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Transformasi dari rival menjadi mitra ini membentuk preseden bahwa politik nasional lebih digerakkan oleh kalkulasi kekuasaan ketimbang konsistensi konflik.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perkuat Hilirisasi Petrokimia, Polytama Andalkan Kilang Pertamina
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
7 Prioritas Utama yang Disarankan untuk Kepemimpinan OJK yang Baru
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Korban tenggelam di Kali Cengkareng belum ditemukan hingga hari kelima
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Red Notice Interpol untuk Buron Kasus Korupsi BBM Riza Chalid Berlaku hingga 2031
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
30 Kata-kata bijak wanita sabar dan kuat yang jadi pejuang cuan tangguh demi keluarga
• 2 jam lalubrilio.net
Berhasil disimpan.