Indonesia Emas vs Indonesia Panas, Ancaman Iklim bagi Generasi Muda

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Pada 2050, generasi muda Indonesia yang hari ini mendominasi demografi akan memasuki usia paling produktif dalam hidup mereka. Idealnya, merekalah motor penggerak Indonesia Emas 2045. Namun ada ancaman yang jarang dibicarakan secara serius, panas ekstrem akibat perubahan iklim yang berpotensi menggerus kesehatan, produktivitas, dan kualitas hidup mereka.

Pertanyaannya, seberapa siap generasi muda menghadapi realitas iklim yang makin keras? Sebuah studi dari Universitas Oxford yang dipublikasikan di jurnal Nature Sustainability (2026) memperkirakan bahwa jika pemanasan global mencapai 2 derajat celcius, sekitar 3,79 miliar orang, atau lebih dari 40 persen populasi dunia, akan hidup dalam kondisi panas ekstrem pada 2050. Indonesia termasuk tiga negara dengan jumlah penduduk terdampak terbesar, bersama India dan Nigeria.

Studi tersebut mengukur panas ekstrem bukan hanya dari suhu harian tertinggi, tetapi dari akumulasi hari dalam setahun yang membutuhkan pendinginan (cooling degree days). Artinya, yang dihitung bukan sekadar hari panas, tetapi perubahan iklim yang memengaruhi kenyamanan hidup, kesehatan, dan produktivitas sepanjang tahun.

Dengan proyeksi populasi Indonesia sekitar 325 juta jiwa pada 2050, dan menggunakan proporsi global tersebut, sekitar 130 juta orang Indonesia diperkirakan akan tinggal di wilayah dengan paparan panas ekstrem. Ini hampir separuh populasi.

Penulis utama, Jesus Lizana, profesor dari ZERO Institute, Universitas Oxford mengatakan, "Studi kami menunjukkan sebagian besar perubahan dalam permintaan pendinginan dan pemanasan terjadi sebelum mencapai ambang batas 1,5 derajat celcius, yang akan membutuhkan langkah-langkah adaptasi signifikan yang harus diterapkan sejak dini."

Ia mencontohkan, banyak rumah mungkin perlu memasang pendingin udara dalam lima tahun ke depan. Akan tetapi, suhu akan terus meningkat jauh setelah itu jika kita mencapai pemanasan global 2 derajat celcius dan upaya yang bersifat individual untuk memasang pedingin udara tidak akan memadai. Risiko terutama akan dialami pekerja luar ruangan.

Variabel iklim yang dilupakan

Di atas kertas, visi Indonesia Emas 2045 dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2025–2045 menjanjikan kemajuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pemerintah juga menekankan target net zero emission sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Namun yang tidak disorot adalah bagaimana masyarakat, terutama generasi muda akan bertahan hidup di tengah suhu yang makin ekstrem. Adaptasi sosial terhadap panas, kesiapan sistem kesehatan, perlindungan pekerja luar ruang, desain lingkungan dan kota yang ramah iklim, hingga ketahanan sekolah terhadap suhu tinggi belum menjadi indikator utama dalam arah pembangunan.

Anak muda tumbuh dalam panas, tetapi tidak dibekali bahasa untuk memahami dan menghadapinya.

Fokus kebijakan masih berat ke mitigasi emisi, sementara adaptasi terhadap dampak panas belum tampak sebagai prioritas setara. Di sinilah paradoks muncul. Cita-cita Indonesia Emas dibangun di atas fondasi Indonesia yang kian memanas.

Bonus demografi yang selama ini disebut sebagai peluang bisa berubah menjadi beban jika generasi produktif justru menghadapi penurunan kesehatan, produktivitas, dan tekanan psikologis akibat krisis iklim.

Dampak panas tidak hanya fisik. Penelitian akademik di Indonesia menunjukkan bahwa kenaikan suhu berkorelasi dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Kajian Limbong HL dan Soetjipto W di Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan-Universitas Diponegoro tahun 2025 menunjukkan bahwa suhu tinggi berkorelasi dengan lonjakan gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, dan stres kronis. Setiap kenaikan 1 derajat celcius sesuai dengan peningkatan proporsi gangguan mental di populasi dalam satu dekade terakhir, dengan proyeksi beban yang semakin berat ke depan.

Krisis iklim juga berpotensi memperparah beban psikologis generasi muda. Fenomena eco-anxiety, kecemasan terhadap masa depan lingkungan, juga mulai banyak dilaporkan pada anak muda, meski belum mendapat perhatian serius dalam kebijakan kesehatan publik.

Baca JugaCuaca Panas Bisa Mengubah Emosi

Ironisnya, tekanan psikologis ini sering dianggap persoalan individu, bukan bagian dari risiko struktural perubahan iklim. Padahal, banyak laporan menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memperparah kecemasan generasi muda, hidup dalam ketidakpastian ekologis namun minim dukungan kebijakan kesehatan mental berbasis iklim.

Ironisnya, kegelisahan ini sering tidak tampak sebagai isu publik yang mendesak sebuah paradoks antara tekanan psikologis yang meningkat dan rendahnya pengakuan sosial terhadap eco-anxiety di Indonesia.

Pondasi yang rapuh

Kesiapan menghadapi krisis iklim juga ditentukan oleh pengetahuan. Namun studi Evi Martha dari Fakultas Kedokteran Masyarakat Universitas Indonesia dan tim di International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2025 menunjukkan, hampir separuh remaja Indonesia memiliki literasi perubahan iklim yang rendah.

Studi nasional terhadap 1.126 remaja Indonesia ini menyimpulkan, rendahnya pemahaman terkait penyebab, dampak, dan kebijakan terkait perubahan iklim. Ketimpangan paling mencolok terjadi antara wilayah barat dan timur Indonesia, sementara wilayah timur justru secara ekologis lebih rentan, tingkat literasinya paling rendah.

Tanpa pemahaman yang memadai, ancaman cuaca ekstrem dipersepsi sebagai nasib alam atau sekadar “cuaca biasa”, bukan sebagai krisis struktural yang membutuhkan adaptasi kolektif. Anak muda tumbuh dalam panas, tetapi tidak dibekali bahasa untuk memahami dan menghadapinya.

Riset global dari Oxford menunjukkan dunia belum siap menghadapi era panas ekstrem. Infrastruktur, sistem kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan masih dirancang untuk iklim masa lalu. Di Indonesia, beban kesiapan sering dibebankan pada individu: minum lebih banyak air, membeli kipas, atau memasang AC. Padahal adaptasi personal tanpa perubahan struktural hanya memindahkan risiko ke generasi muda, terutama mereka yang miskin dan bekerja di luar ruang.

Baca JugaBanjir Sumatera Bencana Ekologi, Menandai Malaadaptasi Krisis Iklim

Alih-alih menyiapkan generasi muda beradaptasi dengan iklim masa depan yang bakal lebih ekstrem, pola pembangunan saat ini cenderung melemahkan kemampuan adaptasi. Inilah yang disebut dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2022 sebagai "maladaptasi".

Malaadaptasi didefinisikan IPCC sebagai tindakan yang dapat menyebabkan peningkatan risiko yang merugikan terkait iklim, termasuk melalui peningkatan emisi gas rumah kaca, peningkatan kerentanan terhadap perubahan iklim, atau penurunan kesejahteraan, saat ini atau di masa depan. Kerusakan lingkungan yang memicu banjir besar dan longsor di Sumatera pada akhir 2025 menjadi contoh nyata praktik maladaptasi.

Ancaman panas ekstrem bukan sekadar soal suhu. Ia menyentuh kesehatan, produktivitas, pendidikan, dan stabilitas sosial yang terancam mengalami kemunduran karena meningkatnya intensitas bencana terkait cuaca. Jika visi Indonesia Emas 2045 ingin benar-benar bermakna bagi generasi muda, maka kebijakan iklim tidak bisa berhenti pada pengurangan emisi.

Indonesia juga perlu serius menyiapkan strategi adaptasi: lingkungan yang terjaga untuk meredam dampak panas dan ancaman cuaca ekstrem yang bakal terus menguat di msa depan. Tanpa itu, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi. Anak-anak muda saat ini, di masa puncak produktivitasnya bakal hidup di negeri yang panas dan ekstrem, dengan dukungan struktural yang minim.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo di Rakornas 2026: Saya Yakin Masa Depan Indonesia Aman!
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Siapa HZ? Anggota DPRD Depok Jadi Tergugat PT CKS, Sidang Digelar Besok
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Pengungsi Longsor Bandung Barat Kembali ke Rumah, Posko Pasirlangu Tetap Siaga Layani Penyintas
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Sopir JakLingko Kejar Jambret yang Gasak Ponsel Penumpang di Ciracas, Jaktim
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
China Juaranya Investasi Inovasi, Indonesia Nomor Berapa?
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.