Gejolak harga emas dunia pekan lalu menjadi perhatian investor global, termasuk pasar domestik.
IDXChannel - Gejolak harga emas dunia pekan lalu menjadi perhatian investor global, termasuk pasar domestik.
Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah, emas justru berbalik arah dan jatuh nyaris 9 persen dalam satu hari, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1983.
Pergerakan ekstrem ini otomatis membayangi pembukaan pasar saham awal pekan ini, khususnya saham-saham emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang berpotensi menghadapi tekanan jual, setidaknya di awal sesi, di tengah kondisi pasar domestik yang masih rapuh pasca dinamika MSCI.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam waktu singkat, sentimen global berubah, salah satunya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kandidat Ketua Federal Reserve (The Fed).
Pada Jumat (30/1/2026), harga emas spot sempat terjun 12,86 persen hingga USD4.679,51 per troy ons, sebelum ditutup melemah 8,84 persen di level USD4.895,44 per ons.
Padahal sehari sebelumnya, emas baru saja mencetak rekor di USD5.594,82 per ons. Aksi jual juga merembet ke perak yang ambles hampir 30 persen, menandai salah satu hari terburuk dalam sejarah logam mulia.
Secara teknikal dan psikologis, kondisi ini jelas berisiko menekan saham-saham emas pada awal perdagangan.
Investor jangka pendek cenderung merespons headline dan pergerakan harga spot, terutama setelah reli panjang sebelumnya.
Risiko tersebut kian terasa karena pasar masih berfluktuasi pasca peringatan MSCI terkait isu investability, mulai dari minimnya transparansi struktur kepemilikan perusahaan hingga rendahnya kualitas dan ketersediaan data free float.
Kendati demikian, otoritas Indonesia juga tengah bergerak cepat untuk merespons berbagai catatan tersebut.
Namun, di sinilah perbedaan antara reaksi jangka pendek dan penilaian fundamental mulai terlihat.
Koreksi tajam harga emas lebih mencerminkan aksi ambil untung dan penyesuaian sentimen global, bukan perubahan tren struktural.
Secara bulanan, emas masih mencatatkan kenaikan 13,25 persen dan membukukan reli enam bulan beruntun, meski terkoreksi 1,85 persen secara mingguan.
Artinya, volatilitas tinggi belum tentu menggerus prospek jangka menengah sektor emas.
Dari sisi emiten, Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai, pada Jumat (30/1), melihat valuasi saham emas domestik masih relatif menarik, bahkan cenderung undervalued, jika dibandingkan dengan eksposur mereka terhadap harga emas.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), misalnya, dinilai memiliki bantalan fundamental berkat kombinasi bisnis emas dan nikel.
Dengan rasio price-to earnings (P/E) sekitar 13 kali dan price-to book value (PBV) 3 kali, ANTM juga ditopang narasi stabilisasi margin logam mulia dan potensi rerating BUMN tambang.
Pendekatan defensif (defensive play) juga tercermin pada PT United Tractors Tbk (UNTR). Dengan P/E sekitar 6 kali dan PBV di bawah 1, UNTR ditopang arus kas tambang yang stabil dan diversifikasi bisnis.
Sebaliknya, saham-saham seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dinilai memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi terhadap pergerakan harga emas spot.
Meski demikian, ketiganya tetap dipandang menarik dari sisi prospek.
EMAS mendapat dukungan sentimen dari ekspektasi percepatan produksi tambang Tujuh Bukit, ARCI diposisikan pasar sebagai pure gold growth play, sementara BRMS ditopang ekspektasi lonjakan produksi dalam jangka menengah.
Dalam risetnya, BRI Danareksa menempatkan ARCI, UNTR, dan ANTM sebagai pilihan teratas di sektor emas. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



